Negara Jaga Stabilitas Harga Pangan, Sudahkah?

Perlunya menjaga harga-harga kebutuhan pokok tetap stabil, merupakan satu bukti bahwa negara memperhatikan kegiatan perekonomian rakyatnya. Tetapi pertanyaannya, apakah semua itu sudah berjalan sesuai harapan? Apakah peran negara telah menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga stabilitas pangan sudah berjalan?


Oleh: Desi Wulan Sari, M.,Si (Pemerhati Publik, Alumnus S2 Fisip, Sosiologi, Universitas Indonesia)

POJOKOPINI.COM — Masyarakat bersuka cita menyambut datangnya Ramadan. Walau pandemi belum usai, kesulitan ekonomi akan terap terasa dampaknya bagi rakyat. Namun ada kekhawatiran yang dirasakan, bahwa harga pangan jelang Ramadan akan mulai merangkak. Dan peristiwa ini serasa berulang dari tahun ke tahun. Tidak ada bedanya ketika kondisi normal ataupun saat pandemi saat ini. Padahal jelas, kondisi ekonomi yang ada di masyarakat tidaklah sama.

Harga bahan pokok yang terus mengalami kenaikan membuat rakyat mengelus dada, berharap dari tahun ke tahun ada perubahan yang significant sehingga tidak memberatkan keuangan rakyat. Apalagi di masa pandemi ini, hantaman pada ranah perekonomian terjadi di level atas (produksi masal yang terhenti), menengah (UMKM kehilangan modal) maupun level bawah seperti masyarakat (rakyat sebagai pekerja banyak di rumahkan/di PHK).

Kenaikan harga ini, salah satunya senada dengan apa yang dikatakan Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri dalam laman media kompas.com mengatakan, harga berbagai komoditas pangan mulai menunjukkan kenaikan beberapa hari menjelang puasa. Menurutnya, harga bahan pangan yang meningkat dan cukup mencolok dalam 1-2 hari ini contohnya pada daging ayam, daging sapi dan minyak goreng. Dia mengatakan, saat ini harga rata-rata daging ayam bisa mencapai Rp 38.000 hingga Rp 40.000 per ekor, daging sapi sekitar Rp 130.000 hingga Rp 131.000 per kg, dan minyak goreng sekitar Rp 14.300 per kg (kompas.com, 8/4/2021). Maka, permintaan jelang Ramadan dan idul fitri mempengaruhi harga-harga yang beredar di masyarakat. Jika permintan terus tinggi dengan tidak diimbangi supply yang sesuai maka harga akan terus melambung.

Jika harga-harga bahan pangan jauh dari kata stabil, bahkan terkadang pemerintah tidak mampu memprediksinya, padahal negara lah yang memiliki kebijakan utama dalam mengatur penetapan harga pangan di masyarakat. Perlunya menjaga harga-harga kebutuhan pokok tetap stabil, merupakan satu bukti bahwa negara memperhatikan kegiatan perekonomian rakyatnya. Tetapi pertanyaannya, apakah semua itu sudah berjalan sesuai harapan? Apakah peran negara telah menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga stabilitas pangan sudah berjalan?

Memang harus diakui, hidup di bawah bayang-bayang sistem kapitalisme hari ini membuat roda perekonomian negara tergantung pada kebijakan yang diterapkan oleh mereka. Para penguasa global menjalankan kepentingan kelompoknya, hanya untuk kesejahteraan kalangan mereka saja. Yang ada, mereka mengabaikan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, apalagi dampak-dampak yang bakal terjadi kedepannya menjadi resiko yang harus dihadapi oleh diri mereka sendiri. Alhasil perekonomian rakyat semakin terpuruk.

Berbeda dengan sistem perekonomian Islam yang ada, negara sebagai pemegang kekuasaan menerapkan kebijakan-kebijakan yang akan membawa kemaslahatan. Berkaitan dalam menjaga stabilitas harga pangan, pemimpin akan menjamin dan meyakinkan kecukupan pangan bagi rakyatnya, pengusaha / pedagang akan memberlakukan harga sesuai yang ditetapkan pemerintah. Sehingga akses jual beli bahan pangan lancar di masyarakat. Rakyat tidak perlu cemas akan kenaikan harga yang mencekik leher, karena negara melindungi dan pengusaha manapun tidak akan ada yang bisa memainkan harga-harga yang beredar di masyarakat, khususnya bagi kebutuhan pokok pangan..

Bagaimana Islam menjaga stabilitas pangan dengan memperhatikan lima hal yang digagas sejak masa Nabi Yusuf A.S., dan pernah dijalankan di masa-masa kekhalifahan Islam, bahkan tetap relevan digunakan hingga masa-masa mendatang.

Pertama, optimalisasi produksi, mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok. 

Kedua, adaptasi gaya hidup agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan.

Ketiga, manajemen logistik, dimana masalah pangan beserta yang menyertainya (irigasi, pupuk, anti hama) sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.

Keempat, prediksi iklim yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima bumi.

Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit.

Betapa sistem Islam telah dirancang sedemikian rupa oleh sang Mudabbir (Maha Megatur) segala yang diciptakan-Nya. Hingga kita sebagai hamba yang diamanahkan di dunia ini menjalani kehidupannya sesuai dengan petunjuk yang telah Allah berikan. Maka, menjadi satu kepastian nahwa sistem kapitalisme yang ada saat ini tidaklah mungkin mampu membawa kemaslahatan umat manusia. Seperti masalah kenaikan harga pangan ini, yang selalu datang setiap saat namun belum juga ada solusinya, dan tidak akan pernah ada solusinya hingga akar masalahnya lenyap.

Sejatinya, hanya aturan Islam lah yang mampu mewujudkan suasana tenang bagi rakyatnya. Pemenuhan kebutuhan, dalam segala situasi menjadi jaminan yang diberikan negara. Dimana negara menjalankan peran pentingnya dalam menyediakan pasokan memadai dan menghilangkan segala hal yang menghambat kelancaran harga-harga pasar, hingga terjaga stabilitasnya. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *