Negara yang Maju

Negara yang Maju

Itulah impian sebuah negara yang maju karena kebesaran dan kehebatannya disegala sektor kehidupan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya

Oleh: Widya Soviana

WWW.POJOKOPINI.COM — Indonesia, negara yang lahir pada tahun 1945. Secara usia kini telah mencapai 79 tahun. Usia yang tidak lagi belia, namun lebih dari cukup untuk dituntut sabagai sebuah negara yang besar. Negara yang telah selesai berbenah. Negara yang mampu menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Negara yang memiliki neraca pendapatan lebih besar dari pengeluaran. Negara yang tangguh ketika diuji dengan mala petaka bencana. Negara yang bermartabat, dihargai oleh bangsanya dan disegani oleh bangsa lainnya.

Itulah impian sebuah negara yang maju karena kebesaran dan kehebatannya disegala sektor kehidupan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Namun sayang negara yang berdiri selama 79 tahun ini masih jauh tertinggal dibandingkan negara lainnya di dunia. Pada sambutan acara Kongres Asosiasi Pemerintahan Provinsi ke VI di Hotel Borobudur, pada 26 November lalu (cnnindonesia.com, 26/11/19). Menteri Dalam Negeri menyebutkan “Jakarta seperti kampung dibandingkan Shanghai”. Maka jika Jakarta sebagai kota metropolitan dapat disebut kampung, bagaimana pula level kota lainnya yang tersebar di Indonesia?.

Apa yang menjadi tolok ukur sebuah negara yang maju?. Jika yang menjadi standar kemajuan adalah pembangunan infrastruktur tentu ini telah mendistorsikan arti negara maju yang sesungguhnya. Lalu, apa yang dimaksud dengan negara maju. Beberapa pengertian umum diperoleh negara maju adalah negara yang menikmati standar kehidupan yang relatif tinggi, menggunakan teknologi terdepan, sosial politik yang baik dan memiliki ekonomi yang merata. Maka negara maju dapat diartikan sebagai sebuah negara yang kehidupan masyarakatnya terlayani secara baik dan sejahtera.


Bagaimana dengan Shanghai? Apakah kesejahteraan ekonomi telah merata dirasakan oleh masyarakatnya?, jawabannya iya.! Disebutkan bahwa gaji buruh pabrik di sana mencapai 3.300 RMB atau setara 6,6 juta rupiah pada Tahun 2017. Dan jumlah yang lebih fantastis lagi untuk gaji yang diterima oleh mereka yang memiliki pengetahuan dan keahlian tertentu. (detikfinance.com, 08/02/17). Ini menepis asumsi murahnya upah tenaga kerja di China. Sebagai negara yang telah menguasai ekonomi dunia, China yang mengemban ideologi Sosialis sangat memperhatikan kehidupan masyarakatnya.

Penyetaraan segala sektor kehidupan, khususnya ekonomi menjadi pilar pembangunan negaranya.
Nah, ini akan berbeda dengan Indonesia. Sebagai negara yang besar, Indonesia ditetapkan sebagai negara yang berideologi pancasila. Namun sayang, sejatinya prinsip kehidupan dan ekonomi yang berdasarkan pancasila senantiasa mengikuti pola dan aturan para pemilik modal yang menggenggam ideologi masing-masing negaranya. Alhasil ketangguhan ideologi negeri menjadi tergadaikan. Maka tak heran, bila para sarjana bahkan sekelas profesor menjadi tidak bernilai di Indonesia.


Seandainya kita semua mau berfikir terbuka, menilai China dan Amerika yang kian maju bukanlah tanpa sebab selain ideologi yang diemban oleh negaranya masing-masing. Dan kita seharusnya pula menyadari bahwa ideologi dunia hanyalah bercabang pada tiga ranting, yakni ideologi Kapitalisme yang diemban negara Amerika, ideologi Sosialis yang diemban oleh China dan ideologi Islam yang semestinya diemban oleh umat Islam. Lagi-lagi sayang Islamofobia terjangkit pada tubuh umat Islam sendiri. Alhasil, kadang negeri yang dipenuhi oleh umat Islam ini kehilangan jati dirinya. Yang kadang tunduk kepada ideologi Sosialis dan lebih sering kepada ideologi Kapitalisme.


Padahal secara fitrah kedua ideologi Kapitalisme dan Sosialis di atas sangat bertentangan dengan kehidupan manusia sebagai makhluk yang berakal sempurna. Dan Allah Subhanallah wa Ta’ala berfirman dalam surah Az Zumar ayat 9 “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?, Sesungguhnya orang yang berakalah yang dapat menerima pelajaran”.

Maka telah sepatutnya umat Islam di negeri ini mencampakkan ideologi tersebut dan hanya mengambil Islam sebagai satu-satunya ideologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Sehingga negara yang maju dan berperadaban mulia dapat menjadi nyata, bukan sekedar angan-angan belaka, Insya Allah. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *