Nestapa Dunia Tanpa Kepemimpinan Islam

Nestapa Dunia Tanpa Kepemimpinan Islam

Oleh: Bunda Alzam
Pendidik Generasi dan Pegiat Dakwah

WWW.POJOKOPINI.COM — India memanas karena bentrokan yang menyebabkan umat muslim terpinggirkan dan mengalami kekerasan. Kekerasan dipicu setelah aksi damai selama berminggu-minggu di New Delhi terhadap undang-undang kewarganegaraan baru, diserang oleh sekelompok nasionalis Hindu. Umat muslim sebagai kaum minoritas di India mengatakan, Citizenship Amandement Act (CAA) yang disahkan Desember lalu mendiskriminasi mereka dan bertentangan dengan etos sekuler negara. Korban tewas dalam tragedi kekerasan terburuk dalam beberapa dekade di Delhi India meningkat menjadi 34 orang ketika oposisi mengecam pemerintah karena menjadi penonton. Lebih dari 200 orang terluka selama empat hari kekerasan di daerah berpenduduk muslim di timur laut Delhi, dimana polisi diduga mengabaikan kejadian buruk ketika massa mengamuk (MuslimahNews.com).

Yasmin, ibu tiga anak berusia 35 tahun, memegang tasbihnya yang berwarna biru dan putih ketika menunggu di kamar mayat sebuah rumah sakit untuk mengambil jenazah abang iparnya yang babak belur. Dia baru saja kehilangan saudara yang seorang berpenduduk di lingkungan New Delhi. Hal miris juga dialami Mehtab. Ia menjadi salah satu korban pembunuhan dari 42 orang yang terbunuh dalam insiden penyerangan umat Hindu di India kepada warga lainnya yang beragama Islam. Saat itu Mehtab keluar rumah hendak membeli susu, namun kepergiannya itu ternyata untuk yang terakhir kali, ia tidak pernah kembali. Di tengah jalan dia diangkut pergi oleh perusuh yang menggunakan tongkat dan beberapa jam kemudian Mehtab ditemukan tewas dengan luka memar dan luka bakar disekujur tubuh (Republika.co.id, Senin 01 Maret 2020)

Diamnya Pemimpin Umat

Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) merespon peristiwa yang terjadi di India. PBNU berencana akan menyambangi Kedutaan Besar India di Jakarta. Mereka ingin meminta penjelasan kronologi peristiwa sebenarnya. NU akan meminta kebijakan pemerintah India dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Hal ini menjadi catatan NU karena selama ini RI dan India punya hubungan baik. Menurut Masduki Baidlowi (Wakil Sekjen PBNU), NU akan meminta kebijakan pemerintah India dalam menyikapi tragedi berdarah tersebut. Bahkan berharap Indonesia bersikap jangan sampai mencederai hubungan dan persahabatan dengan India. Namun di sisi lain, penting memberikan tekanan kepada pemerintah RI untuk menjamin keamanan kaum muslim.

Hal senada diutarakan oleh Pengamat politik, Yunus Hanixs bahwa sikap yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo telah mengecewakan umat Islam di Indonesia karena tidak mengecam pembantaian muslim India. Padahal Indonesia bisa menggunakan pengaruhnya di dunia internasional minimal dengan mengecam pembantaian tersebut. Ada kemungkinan mengapa Jokowi tidak melakukannya karena takut hubungan dengan India retak. Mirisnya, beredar foto keakraban antara orang nomor satu Indonesia tersebut dengan tokoh pembenci muslim India, Narendra Modi, hingga ada wacana impor daging kerbau dari India ke Indonesia.

Apa yang dilakukan kepala negara dan tokoh pemerintah negeri ini dan negeri yang lainnya tak sedikitpun memberikan perhatian kepada tindak kriminal yang dilakukan komunitas Hindu terhadap minoritas muslim India. Mereka diam, bungkam lantaran ekonomi dan politik penjajah serta perjanjian bilateral, bukan karena kepentingan umat (Islam).

Kejadian yang menimpa kaum muslim di India merupakan salah satu peristiwa dari banyaknya kejadian yang terus-menerus menimpa kaum muslimin dibelahan dunia saat ini. Kesalahan mereka hanya satu, muslim. Mereka membabi buta menyerang siapapun yang beragama Islam. Sementara ormas Islam dan penguasa muslim masih bersikap acuh tak peduli. Sikap seperti ini memanglah sesuai dengan rekomendasi Barat. Satu muslim dengan muslim lainnya disekat perbedaan wilayah dan negara. Mereka lebih mementingan arti nilai hubungan kerjasama dibandingkan pembelaan terhadap sesama muslim. Diamnya penguasa di negeri kaum muslim adalah karena mereka lebih tunduk kepada kafir penjajah yang membawa misi untuk menguasai seluruh negeri kaum muslimin dengan label kerjasama dan pluralitas.
Para pemimpin, sekalipun warganya mayoritas muslim ketika tampak penindasan di negara lain kepada minoritas muslim tak sedikitpun hati mereka trenyuh, marah dan geram. Perasaan mereka lebih didominasi kapital ketimbang empati dan kasih sayang saudara seakidah. Inilah hasil perjuangan kapitalisme menancapkan ide-ide sekularnya ke dalam dada dan benak penguasa muslim.

Selama paham ini masih menguasai negeri-negeri muslim maka penguasanya pun akan jadi pejuang serta pelopornya. Disadari ataupun tidak.

Akibat Sistem Islam Tidak Diterapkan
Eksploitasi dan penguasaan kekayaan alam serta perusakan pola pikir masyarakat terus menggerus kefitrahannya. Bahkan semua ini terjadi di bawah legalisasi berbagai perjanjian internasional. Kini umat Islam kehilangan wibawa dan dihinakan penjajah Barat. Penindasan yang terus menimpa kaum muslim karena terhalang oleh sekat negara dan nasionalisme.

Musuh-musuh Islam dengan leluasa membantai dan menjarah kekayaan alam negeri kaum muslim, bahkan mereka dengan mudahnya menjadi sekutu penjajah untuk ikut membantu membantai saudaranya sendiri.

Berbagai peristiwa yang menimpa kaum muslimin akibat ketiadaan kepemimpinan Islam akan terus berulang. Pemimpin penerap Islam (khalifah) akan bertindak sesuai tuntunan syara dibanding tuntunan kuffar Barat. Umat Islam membutuhkan seorang pemimpin yang akan membela dan melindungi hak-hak dan kehormatan mereka termasuk darah mereka. Sungguh hanya dengan khilafah sebagai satu-sarunya sistem pemerintahan Islam umat akan memiliki wibawa dan kekuatan. Maka sebuah malapetaka besar jika umat Islam malah menolak khilafah dan tetap membiarkan dirinya di pimpin oleh penguasa yang menjadi antek penjajah. Karena pangkal penderitaan umat sejatinya ada karena ketiadaan khilafah sebagai perisai umat. Al-Imam al-Jalil syaikh Izzudin bin ‘Abdissalam mengatakan, jika khilafah tiada, jalan-jalan tak akan aman bagi kita, orang lemah jadi santapan orang kuat di antara kita.

Maka yang dibutuhkan umat Islam di India maupun di negeri-negeri lainnya yang terjajah oleh kafir adalah dengan hadirnya seorang khalifah yang akan membebaskan mereka dari berbagai tindak penjajahan dan penindasan. Karena khalifahlah yang mampu menjadi komando seluruh tentara kaum muslimin. Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya al-imam itu laksana perisai, dimana orang-orang yang berperang di belakangnya mendukung dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasan)nya. (HR Bukhari dan Muslim)

Sesuai dengan tuntunan syariah, maka setiap mengetahui ada darah umat Islam yang tertumpah akibat dibunuh orang kafir, maka sudah menjadi kewajiban seorang khalifah di hadapan syara untuk membelanya. Ia adalah perisai umat, bersamanya panji Rasulullah akan berkibar, menjadi kekuatan tak tertandingi negara manapun di dunia, menjadikan Islam rahmatan lil alamiin. Wallahu a’lam bis shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *