New Normal, Hidup Harmoni dengan Bencana?

New Normal, Hidup Harmoni dengan Bencana?

Bila new normal tetap dijalankan, sudah siapkah Indonesia menghadapi pandemi Covid19 yang lebih luas dan lebih besar nantinya?



Oleh: Widya Soviana, ST., M. Si (Dosen Fakultas Teknik Unmuha)

POJOKOPINI.COM — Masa pandemi belum juga berakhir, muncul wacana new normal life yang digaungkan sebagai kenormalan baru secara bertahap. New normal disosialisasikan sebagai wujud penyelesaian permasalahan ekonomi yang dirasa telah semakin dan bertambah sulit sebagai dampak dari pandemi virus Corona 2019.

New normal diopinikan berlaku dalam rangka memberikan keluasan kepada masyarakat untuk melangsungkan kehidupannya dengan standar yang ditetapkan, yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini disebabkan, karena tak ada yang dapat memastikan kapan pandemi akan berakhir dan masyarakat tidak dapat terus menerus bertahan dan berada di rumahnya masing-masing. Sebab, tak ada jaminan pasti untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di waktu pandemi seperti ini.

Beberapa wilayah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga tidak dapat menjamin kebutuhan masyarakatnya, meskipun adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan kepada warga miskin selama 3 bulan sejak April hingga Juni sebanyak 1,8 juta rupiah per Kepala Keluarga (KK). Bantuan senilai Rp. 600.000,- perbulan ini diberikan khusus untuk keluarga miskin yang tidak menerima bantuan lain dari pemerintah (kompas.com, 06/05/20). Namun sayang, sejalan dengan pelaksanaan pembagian BLT dijumpai sejumlah wilayah ricuh pada proses pembagian BLT karena dianggap tidak adil dan transparan. Sebut saja di Maluku Utara, kericuhan telah menyebabkan korban luka dan kerusakan fasilitas kantor desa (liputan6.com, 30/05/20). Di Jambi kebakaran posko Covid19 dan kerusakan kantor desa juga terjadi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap pembagian BLT yang dianggap tidak tepat sasaran (kompas.com, 23/05/20).

Tidak mampunya negara dalam menjamin kebutuhan masyarakatnya, seperti menjadi alasan dipilihnya kebijakan new normal di tengah wabah yang belum dapat dikendalikan. Terbukti kasus infeksi virus Corona 2019 masih tinggi dan bertambah setiap harinya. Jumlah kematian rata-rata mencapai 30 hingga 50 jiwa setiap hari, bahkan disebutkan kematian akibat virus ini mencapai tiga kali lipat dari angka kematian yang disebutkan oleh pemerintah secara resmi (kompas.com 18/05/20).

Artinya new normal diambil sebagai langkah penyelesaian permasalahan ekonomi namun tidak dapat menyelesaikan kasus wabah yang sedang terjadi. Jika demikian, apakah masyarakat harus menjalani hidup berdampingan dengan virus Corona 2019 yang berarti hidup harmoni dengan pandemi?

Istilah hidup harmoni dengan bencana dikenal sebagai upaya masyarakat yang hidup di wilayah yang berisiko bencana karena tidak adanya kemampuan untuk menjauhkan bahaya dari manusia atau menjauhkan manusia dari bahaya. Hal ini dimaksudkan untuk bencana alam seperti gempa bumi, gunung api, tsunami dan lainnya. Tentu manusia tidak memiliki kemampuan mengeliminasi bahaya tersebut. Oleh karenanya memilih menjauhkan manusia dari bahaya, berarti ada upaya relokasi masyarakat ke wilayah yang aman agar terhindar dari risiko bencana. Tetapi, pilihan menjauhkan manusia dari bahaya ini pun akan sulit karena kehidupan manusia yang cenderung bergantung kepada alam seperti nelayan yang senang hidup di pinggir pantai dan petani yang terkesan dengan lereng pegunungan.

Maka, hidup harmoni dengan bencana pun muncul untuk memberikan solusi dalam melakukan penanggulangan bencana dimana manusia memiliki dua kemampuan yang besar yakni rasa dan akal. Dengan keduanya manusia mampu mengenali sifat-sifat alam dan dinamikanya, manusia juga mampu mengetahui waktu dan dampak yang mungkin terjadi. Sehingga manusia dapat melanjutkan kehidupannya dengan cara mengatasi dan mengadaptasi kondisi alam dan sekitarnya.

Berbeda halnya dengan pandemi yang saat ini terjadi. Tidak ada cara lain menghentikan bencana Covid19, selain dengan menjauhkan masyarakat dari tempat berkembang biaknya virus tersebut. Terlebih vaksin belum ditemukan sampai dengan saat ini. Sehingga memberlakukan new normal pada saat pandemi masih terjadi, tidak dapat disamakan dengan hidup harmoni dengan bencana, sebagaimana masyarakat dapat meneruskan kehidupan di tengah risiko gempa bumi atau bencana alam lainnya.

Setiap bencana memiliki karakteristik tertentu sehingga kesiapan dan respons masyarakat seharusnya mengikuti karakter bencana, bukan berlawanan dengannya. Alhasil, bukan hal yang aneh bila pemberlakuan new normal yang telah lebih dulu dijalankan oleh negara lain menjadi ledakan pandemi sesi kedua seperti di Korea Selatan (cnnindonesia.com, 28/05/20).

Bila new normal tetap dijalankan, sudah siapkah Indonesia menghadapi pandemi Covid19 yang lebih luas dan lebih besar nantinya? Padahal sejatinya virus Corona dapat berhenti hanya dalam 14 hari saja, tentu bila pemerintah dan segenap masyarakat serius menanggulanginya.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *