New Normal Life, Seruan Abnormal?

New Normal Life, Seruan Abnormal?

Memang tak mudah mengemban amanah. Mengurusi dan menjaga manusia dengan syariat butuh kekuatan. Kekuatan pemikiran, aqidah dan ketundukan pada syariat. Karena itulah kunci mengemban amanah sebagai pemimpin.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Tiba-tiba pandangan masyarakat tertuju pada kunjungan rezim untuk persiapan ‘a new normal life‘ ke Summarecon, sebuah mall di Kota Bekasi pada Selasa, 26/05/2020. (Kompas.com, 27/05/2020).

Terus terang masyarakat kebingungan menangkap arah langkah rezim menghadapi pandemi Covid-19 ini. Tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba kita disuguhi wacana ‘a new normal life‘. Sebuah ajakan menjalani hidup normal, karena pandemi tak tahu sampai kapan. Tentu ini kebijakan abnormal! Wabah belum ada tanda-tanda teratasi masyarakat di suruh hidup normal. Justru hidup normal di masa pandemi adalah diam di rumah dan karantina wilayah. Bukan hidup seperti sebelumnya kala belum terjadi wabah.

Pantas sebelumnya kita diserukan untuk hidup damai dengan Corona. Seruan untuk bersahabat dengan Corona. Bahkan ada menteri yang menyuruh kita menganggap Corona itu seperti istri! Na’udzubillahi mindzalika! Pengibaratan sesat dan sangat memaksa. Agar masyarakat menganggap virus mematikan itu biasa saja.

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mengajarkan kita untuk berlari sejauh-jauhnya menghindari wabah, seperti kita menjauhi singa. Lha kita disuruh menganggap singa seperti istri. Logika ngawur ini nampak sangat dipaksakan. Sudah kehabisan cara membujuk masyarakat agar sudi memutar roda ekonomi kapitalis yang sudah kritis dan koma akibat Corona. Kalau tak mampu menghadapi Corona, menyerahlah. Jangan kau jadikan manusia sebagai tumbal ekonomi pemilik modal.

Wajarlah ketua PP Muhammadiyah mempertanyakan, apa motif rezim menyeru untuk hidup normal? Sedangkan laporan BNPB menyebutkan, pandemi COVID-19 masih belum dapat diatasi. Kurvanya saja masih naik terus menuju puncak, belum ada tanda puncaknya di mana. Kurva menceritakan secara jelas posisi kita menghadapi Covid-19 itu ada dimana. Kegagalan mengendalikan pandemi harusnya menjadi pelajaran, terjadinya wabah pernah terjadi dalam sejarah manusia. Bahkan wabah berlangsung dua, tiga tahun atau lebih lamanya.

Kerisauan Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Kamis (28/5) mempertanyakan apa ‘a new normal life‘ ini sudah dikaji secara valid dari para ahli epidemiologi? Beliau juga menyatakan, wajar jika kemudian tumbuh persepsi publik, menilai kehidupan masyarakat dikalahkan untuk kepentingan ekonomi. Penyelamatan ekonomi penting, tapi keselamatan jiwa masyarakat lebih penting! Karena wabah COVID-19 belum dapat dipastikan turunnya.

Benar seruan Haedar agar pemerintah menjelaskan secara transparan dan objektif sebelum menerapkan new normal, yang rencananya akan dimulai di 7 provinsi dan 25 kabupaten kota di Indonesia. (KumparanNews, 28/05/2020). Jangan sampai nyawa rakyat hanya menjadi tumbal para pemodal. Nyawa manusia harus dijaga dengan memberikan perlindungan sebaik mungkin.

Sebenarnya panduan menghadapi pandemi sudah kita miliki yaitu dengan mencontoh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Tetap sabar melakukan karantina wilayah (lockdown) karena wabah hanya berhenti menjalar ketika kita menyebar. Sebagaimana kebijakan sahabat Nabi, Amru bin Ash yang sukses menangani wabah tha’un di Syam pada masa khalifah Umar bin Khaththab ra. Setelah karantina wilayah, tak boleh masuk ataupun keluar dari wilayah yang terkena wabah, maka tindakan akan jelas. Yang sakit diisolasi dan diobati hingga sembuh. Kalaupun meninggal insyaAllah husnul khatimah karena taat pada syariat. Bagi yang sehat masih bisa beraktifitas dan bekerja. Karena aman dari virus yang diisolasi oleh negara.

Jika karantina wilayah (lockdown) berkonsekuensi manusia diam di rumah, tidak bekerja hingga ada keluarga tak mampu memenuhi kebutuhan pangan maka kebutuhannya dicukupi oleh negara. Karena negara ada untuk menjaga. Bukan sekedar menebar citra. Memang butuh kekuatan, tekad dan kemauan negara. Untuk benar-benar mau menyelesaikan wabah. memisahkan si sakit dari si sehat.

Jika si sakit masih bercampurbaur dengan si sehat, maka wajar kasus Covid-19 terus meningkat. Jangankan kurvanya landai, puncaknya saja entah di mana. Ini sangat berbahaya. Kita bisa belajar dari kasus di Ekuador yang tak mampu mengurus korban meninggal karena pandemi Covid-19. Mayat-mayat di biarkan begitu saja di jalanan karena tak mampu ditangani, saking banyaknya manusia tumbang dan meninggal. Tenaga kesehatan, dokter di garda terdepan pertempuran melawan Covid-19 ini terbatas. Jangan sampai seruan hidup normal menghilangkan putra putri terbaik, ilmuwan, tenaga kesehatan, generasi dan semua potensi umat hanya karena rezim ruwaibidhah yang gegabah tak mampu mengurus umat.

Memang tak mudah mengemban amanah. Mengurusi dan menjaga manusia dengan syariat butuh kekuatan. Kekuatan pemikiran, aqidah dan ketundukan pada syariat. Karena itulah kunci mengemban amanah sebagai pemimpin.

Wajar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tak mau memilih pemimpin yang lemah. Karena amanah akan menjadi kehinaan dan sesalan jika tak mau dan tak mampu ditunaikan dengan baik. Jangankan amanah kepemimpinan. Amanah terhadap diri sendiripun tak ada yang lolos di hari penghisapan. Semoga krisis kepemimpinan global yang lahir dari ideologi bathil, sekulerisme kapitalisme yang nyata gagal ini segera tumbang dan hilang. Atas pertolongan-Nya dibaiat seorang khalifah, pemimpin amanah. Kepemimpinan umum bagi kaum muslimin sedunia yang menerapkan syariat Islam secara kaffah dan mengemban dakwah ke seluruh penjuru. Kepemimpinan amanah yang terpancar dari aqidah yang shahih, yaitu Islam. Wallahu a’lam bishawab.[]

Ilustrasi: Forbes

https://amp.kompas.com/megapolitan/read/2020/05/27/08533541/summarecon-mall-bekasi-dibuka-lagi-secara-bertahap-mulai-8-juni
https://kumparan.com/kumparannews/muhammadiyah-kritik-new-normal-keselamatan-warga-dikalahkan-ekonomi-1tV9KbZlEQu/full

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *