“New Normal” Perlu di Evaluasi Lagi

“New Normal” Perlu di Evaluasi Lagi

Jika tidak segera dievaluasi, akan menjadi boomerang tersendiri bagi Indonesia. Bahkan dapat menempatkan rakyat dalam kondisi bahaya.


Oleh : Haura Az-zahra

POJOKOPINI.COM — Pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) memang bukan kebijakan terbaik untuk mengatasi situasi pandemi. Sejak diterapkannya pelonggaran PSBB dan dilaksanakannya new normal pada awal bulan Juni 2020 lalu, penambahan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia semakin bertambah banyak. Data per tanggal 10 Juli 2020 kasus Covid di Indonesia sudah mencapai 72 ribu. Dikutip dari kompas.id (10/7/20) penambahan kasus positif covid mencapai lebih dari 1000 kasus dalam sehari. Tren pertumbuhan kasus positif baru harian di atas angka seribu ini berlangsung secara konsisten hingga di minggu pertama Juli 2020. Puncaknya, rekor pertumbuhan kasus baru harian terjadi pada 9 Juli 2020 dengan jumlah kasus positif baru mencapai 2.657 kasus dalam satu hari.

Sebenarnya, sebelum dilaksanakannya new normal dan diterapkannya PSBB, banyak pakar bahkan ilmuwan yang mengkritik kebijakan ini. Namun negara seolah-olah menutup telinga atas saran dan masukan para pakar. Salah satunya pendapat dari Epidemiolog FKM Universitas Hasanuddin yang menilai rencana penerapan new normal yang dipilih negara terkesan prematur. Pasalnya,penerapan new normal dilakukan ketika kasus Covid di tanah air masih tinggi. (kanalkalimantan.com 29/05).

Di tengah naiknya angka kasus positif Covid yang semakin tinggi, penguasa akan menganggarkan dana kesehatan untuk penanganan Covid-19 sebesar Rp87,55 triliun dan tidak akan bertambah jumlahnya hingga akhir tahun walaupun kasus positif Covid-19 saat ini semakin banyak. Mereka juga beranggapan naiknya kasus positif Covid karena tes yang semakin masif (aa.com.tr 4/7/20), bukan karena tidak diputusnya rantai sebaran virus. Seolah negara menganggap hal tersebut merupakan suatu yang wajar, bahkan menjadi prestasi negara yang menunjukkan sudah dilakukannya tes ke lebih banyak orang.

Justru kebijakan pelonggaran PSBB ini seharusnya perlu dievaluasi kembali oleh negara dan segera membuat terobosan kebijakan baru untuk penanganan Covid-19. Termasuk meningkatkan anggaran penanganan. Walaupun alasan negara melakukan pelonggaran PSBB untuk meningkatkan ekonomi, tapi jika tidak segera dievaluasi, akan menjadi boomerang tersendiri bagi Indonesia. Bahkan dapat menempatkan rakyat dalam kondisi bahaya. Inilah gambaran sistem kapitalisme dimana negara lebih mementingkan meningkatkan ekonomi dibandingkan keselamatan rakyatnya.

Berbeda dengan sistem Islam, pemimpin negara (Khalifah) berperan sebagai raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari). Negara tidak akan membuat kebijakan yang dapat membahayakan rakyatnya. Dalam sistem Islam, Khalifah akan membuat kebijakan yang sesuai dengan syariat dan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat untuk menanggulangi pandemi. 

Pertama, Khalifah akan menjamin terpeliharanya kehidupan normal di luar area yang terjangkit wabah. Kedua, memutus rantai penularan secara efektif dan cepat, yaitu memisahkan orang yang terjangkit wabah dengan yang tidak. Sehingga setiap orang dapat terhindar dari bahaya infeksi dan keadaan yang mengantarkan pada kematian. Ditegaskan juga dalam hadis, Rasulullah SAW berkata yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Selain itu, untuk mengatasi ekonomi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, negara Islam memiliki sumber pendanaan yang dikelola oleh baitul maal. Sumber pendanaan negara diperoleh melalui pos Fai, Kharaj, Jizyah, harta kepemilikan umum dan pos zakat. Pos kepemilikan umum bisa diperoleh dari pengelolaan sumber daya alam baik air, tambang, maupun hutan.

Negara kita memiliki semua potensi SDA yang melimpah. Jika semua SDA ini dikuasai dan dikelola oleh negara, maka hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bahkan bisa dipakai untuk pembiayaan mendadak jika terjadi bencana atau wabah. Beginilah gambaran sistem Islam yang akan menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya. Nampak jelas keagungan Islam dalam mengatasi semua problematika kehidupan masyarakat. Masihkah kita ragu untuk menerapkannya?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *