“New Normal” untuk Siapa?

“New Normal” untuk Siapa?

New normal sejatinya adalah cerminan kerakusan para kapitalis dan pemilik modal yang tidak mau terus merugi, dengan karakter buruknya yang membiarkan pandemi meluas (herd immunity) demi meraih nilai materi.


Oleh: Chusnul Septiyani, A.Md. (Pengajar STP Khoiru Ummah Kab. Semarang)

POJOKOPINI.COM — Meskipun vaksin COVID-19 belum ditemukan, dunia bersiap menjalankan kelaziman baru (new normal) di tengah pandemi. Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kebijakan untuk menerapkan kelaziman baru terkesan buru-buru. Memikirkan sektor ekonomi sah-sah saja, tapi memprioritaskan kesehatan masyarakat harusnya jadi hal utama.

Masalahnya di negeri ini, jangankan COVID-19 itu dikendalikan, kebijakannya saja membingungkan rakyat. Akibatnya, kurva pun terus beranjak naik. Bukankah ini justru mengancam nyawa rakyat di tengah pandemi yang tak kunjung selesai? Dengan dalih menyelamatkan sektor ekonomi tapi yang nampak agaknya justru mengabaikan kesehatan rakyat sendiri.

New normal sejatinya adalah cerminan kerakusan para kapitalis dan pemilik modal yang tidak mau terus merugi, dengan karakter buruknya yang membiarkan pandemi meluas (herd immunity) demi meraih nilai materi. Para pemilik mall, para pemilik jaringan hotel besar, para pemilik maskapai penerbangan, para pemilik raksasa migas, mereka yang selama ini “sakratul maut” akibat pandemi berusaha untuk bangkit kembali.

Sudah rahasia umum, demokrasi meniscayakan kezaliman mewabah salah satunya tersebab krisis kepemimpinan yang memihak kepada pengusaha. Inilah kepemimpinan paradigma kapitalistik.


وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al Maidah : 44).

Berbeda jauh dengan kekuasaan yang berlandaskan iman yang senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, akal, dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga.

Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.


Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Demikianlah dengan karakternya yang begitu sempurna, peradaban Islam adalah satu-satunya harapan dunia. Pembebas dari pandemi COVID-19 yang berlarut-larut juga pembebas dunia dari agenda hegemoni Barat. Dimana paham sekularisme menjadi asasnya yang sama sekali tidak relevan dengan Islam. Hingga tega menempatkan rakyat hanya sebagai objek pemerasan dan seolah nyawa pun siap “diperdagangkan”.
Inilah saatnya kita dan seluruh rakyat menyadari kebobrokan sistem kapitalisme dan para penguasanya yang zalim.

Inilah saatnya kita seluruh rakyat kembali ke sistem Islam yang berasal dari Zat Yang Mahakuasa, Allah SWT yakni dengan menerapkan syari’ah Islam secara Kaffah.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan din yang benar agar dimenangkan-Nya atas semua din. Dan cukuplah Allah sebagai saksi…” (QS. Al Fath : 28).[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *