Normalisasi UEA dan Israel, Simbol Perdamaian atau Pengkhianatan?

Normalisasi UEA dan Israel, Simbol Perdamaian atau Pengkhianatan?

Umat Muslim sekarang  tidak memiliki junnah (pelindung), maka dengan mudah bagi mereka untuk menzalimi dan mengkhianati saudaranya sendiri. Serta mudah bagi mereka untuk diam saja saat kaum muslimin di belahan dunia lain dibantai. Padahal mereka Muslim tapi seakan mereka tidak memiliki hati nurani, buta mata dan telinga.


Oleh: Khairunnisak S.Pd

POJOKOPINI.COM — Delegasi Uni Emirat Arab (UEA) dijadwalkan melakukan kunjungan resmi perdana ke Israel pada Selasa (20/10/2020). Kedua negara telah menandatangani perjanjian normalisasi diplomatik bulan lalu.

Menurut Al Otaiba, delegasi UEA dipimpin oleh Menteri Ekonomi Abdullah bin Touq al-Mari dan Menteri Negara Urusan Keuangan Obaid Humaid al-Tayer. Dari pihak Amerika Serikat (AS) ada Steve Mnuchin dan utusan AS untuk Timur Tengah Ari Berkowitz turut bergabung dalam delegasi UEA. Mnuchin dan Berkowitz memang sedang melakukan lawatan ke Bahrain serta UEA untuk membahas potensi kerja sama pasca-normalisasi dengan Israel tercapai (Republika.com, 20/10/2020).

Israel dan UEA mengumumkan kesepakatan normalisasi diplomatik pada 13 Agustus lalu. Sekitar sebulan setelah pengumuman itu, Bahrain mengikuti langkah UEA. Normalisasi tersebut dapat tercapai berkat bantuan mediasi AS. Washington mengklaim masih terdapat beberapa negara Arab yang bakal melakukan normalisasi dengan Tel Aviv (harianaceh.com, 20/10/2020).

Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh mengatakan kesepakatan itu ‘hadiah gratis untuk pendudukan Israel untuk merebut lebih banyak tanah Palestina dan membangun lebih banyak pemukiman’.

Setelah negara Mesir, Jordania, Bahrain dan kini UEA (Uni Emirat Arab) juga melakukan kerja sama dengan Israel. Jalan yang diambil oleh beberapa negara Muslim ini adalah jalan untuk membuat Israel lebih mudah untuk menguasai Palestina.

Walaupun mereka mengklaim bahwa ini dilakukan untuk mendamaikan antara Palestina dan Israel, tetapi yang kita lihat malah sebaliknya bukannya mencapai kedamaian malah kesengsaraan yang dirasakan. Kerja sama antara UEA dan Israel ini memberikan keuntungan kepada pihak UEA bukan kepada Palestina. Ibarat serigala berbulu domba, UEA mengorbankan Palestina untuk keuntungan pribadi mereka.

Masjid Al-Aqsa harusnya dimasuki melalui gerbang pemiliknya, tidak melalui gerbang yang diduduki Israel, sedih melihat delegasi Arab masuk melalui gerbang Israel, sementara jamaah menolak akses mereka untuk salat,” kata Shtayyeh seperti dilansir media Turki, Daily Sabah, Selasa (20/10). Dari pernyataan di atas, bisa dilihat bahwa mereka lebih memilih orang yang menzalimi saudaranya sendiri dan juga mereka lebih memilih keuntungan dari pada menolong saudaranya sendiri.

Umat Muslim sekarang tidak memiliki junnah (pelindung), maka dengan mudah bagi mereka untuk menzalimi dan mengkhianati saudaranya sendiri. Serta mudah bagi mereka untuk diam saja saat kaum muslimin di belahan dunia lain dibantai. Padahal mereka Muslim tapi seakan mereka tidak memiliki hati nurani, buta mata dan telinga.

Hal ini juga disebabkan oleh adanya nasionalisme yang ada pada tubuh kaum muslimin, yang lebih mendahulukan kepentingan negaranya dibandingkan dengan saudaranya. Tak heran jika kita mendengar atau melihat ada negeri kaum muslimin yang mau berkerja sama dengan negeri yang jelas-jelas menindas saudaranya.

Berbanding terbalik dengan adanya Khilafah, kaum muslimin itu tidak dibatasi dengan sekat-sekat negara, bangsa, suku dan rasa. Jika mereka memiliki aqidah yang sama yaitu islam, maka mereka berhak untuk di lindungi dan ditolong. Hanya dengan Khilafah sebagai junnah (pelindung) yang dapat melindungi muslimin dan menyejahterakannya.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Dari hadis di atas kita dapat mengetahui harusnya sesama Muslim itu saling membantu jika saudaranyabyang meminta bantuan. Dan sudah selayaknya jika ada diantara kaum muslimin yang merasakan sakit, kita juga ikut merasakan.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *