Nusaibah binti Ka’ab: Wanita Perkasa Perisai Rasulullah

Nusaibah binti Ka’ab: Wanita Perkasa Perisai Rasulullah

Kecintaan beliau pada surga menjadikan setiap peluang dan kesempatan yang diberikan untuk mendapatkan pahala dan keridhaan Allah serta meraih kemenangan Islam.


Oleh : Yulia Hastuti, SE, M.Si (Member Pelita Revowriter Banda Aceh)

WWW.POJOKOPINI.COM — Perjuangan wanita mulia ini tercatat dalam tinta emas penuh sejarah. Wanita yang ‘berhati baja’ bahkan kematiannya disambut ribuan malaikat yang berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah seorang wanita perkasa. Dikenal dengan julukan Ummu Umara atau Ummu Imarah. Beliau adalah Nusaibah binti Ka’ab radhiayallahu anha, Sahabat Rasulullah dari kaum wanita.

Nusaibah binti Ka’ab merupakan istri dari Ghazyah bin Amru Al Mazini An Najari. Ghazyah merupakan suami kedua dari Nusaibah binti Ka’ab setelah suaminya yang pertama Zaid bin Ashim Al Mazini An Najjari wafat. Dari suami pertamanya Nusaibah dikaruniai dua orang putra yaitu, Abdullah bin Zaid, dan Habib bin Zaid.

Dari Zaid suami pertamanya, Nusaibah mengetahui cerita tentang Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Melalui Mush’ab bin Umair seorang penduduk Mekkah utusan Muhammad bin Abdullah Zaid mendengar tentang bangkitnya seorang Rasul di kalangan kaum Quraisy. Sang Rasul yang tetap tegar berdakwah ditengah kaum yang memusuhinya serta memiliki akhlak yang begitu mulia. Bahkan beliau tidak tergiur dengan harta yang ditawarkan kepadanya.

Zaid pernah berkata, “Demi Allah, saya tidak hanya heran mendengar cerita itu, tetapi saya beriman dan bersaksi bahwa tidak ada illah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Andai kata kedua telingamu mendengarkan cerita Mush’ab tentang Muhammad dan dakwahnya, niscaya engkau tidak akan mengingkarinya.” Begitupun Nusaibah langsung tergerak hatinya mendengar perkataan suaminya Zaid, ia pun berkata: “Saya beriman kepada Allah sebagai illah dan Muhammad sebagai Nabi.”

Pada bai’at Aqabah kedua, Nusaibah merupakan satu dari dua perempuan yang ikut dalam perjanjian yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap 73 orang pria termasuk suaminya Zaid dan 2 orang wanita dari Yastrib di tengah keheningan malam di Aqabah. Dimana mereka bersumpah setia kepada Rasulullah dalam melaksanakan tiga perkara yaitu tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala, melaksanakan apa yang Allah perintahkan, dan meninggalkan apa yang Allah larang. Setelah peristiwa itu, beberapa saat kemudian Rasulullah berhijrah ke Madinah dan menjadikan Madinah sebagai pusat dakwah dan pemerintahan.

Keluarga Nusaibah sangat mendukung dakwah Rasulullah, dengan keimanan serta istikamah mereka berjuang dengan gagah berani di medan perang untuk menegakkan panji-panji tauhid dan memenangkan umat Islam. Termasuk Abdullah putranya yang ikut dalam Perang Badar. Suami pertamanya Zaid meninggal dunia, setelah kembalinya pasukan dari Perang Badar.

Pernikahan keduanya dengan Ghaziyah, Nusaibah kembali dikaruniai dua orang anak yaitu Tamim dan Khawlah. Perjuangannya terhadap dakwah Islam tidak pernah surut ditengah kesibukannya mengurus rumah tangga. Nusaibah bersama suami dan putra-putranya pun ikut dalam berbagai peristiwa penting, seperti Perang Uhud, Peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain, dan Perang Yamamah.

Begitu banyak pengorbanan yang dilakukan Nusaibah binti Ka’ab, seorang wanita yang semangatnya melebihi 100 lelaki, pengorbannya diakui oleh Rasulullah dan kedudukannya lebih tinggi dari pasukan muslimin yang lain. Dalam berbagai pertempuran selain membantu dalam urusan logistik dan merawat orang yang terluka, Nusaibah ikut terjun dalam medan jihad dan mengangkat senjata untuk melindungi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dari sasaran musuh.

Nusaibah dan keluarga terus berjuang di sisi kaum muslimin bahkan hingga tiba wafatnya Rasulullah. Tentu menjadi kesedihan yang amat dalam bagi seluruh umat muslimin karena tidak ada lagi sosok pemimpin bijaksana yang menjadi panutan di tengah-tengah mereka.

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagian kaum muslimin kembali murtad bahkan enggan berzakat. Abu Bakar Ash Shiddiq yang menjadi khalifah saat itu segera membentuk pasukan dan memerangi mereka. Maka Ummu Imarah mendatangi Abu Bakar dan meminta izin kepada beliau untuk bergabung dalam pasukan yang akan memerangi orang murtad dari Islam.

Berangkat Ummu Imarah beserta dengan putranya yang bernama Hubaib bin Zaid bin Ashim. Dalam perang tersebut putranya tertawan dan mendapat siksaan oleh Musailamah al-Kadzab agar mau mengakui kenabiannya. Namun putra Ummu Imarah dengan didikan orang tuanya untuk bersabar dan cinta pada kematian syahid tidak bergeming sedikit pun dan pura-pura tuli sekalipun diancam kematian. Kemarahan Musailamah semakin menjadi-jadi hingga akhirnya menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu sampai ia pun syahid.

Nusaibah tentu sangat terluka atas kepergiaan Habib. Dalam Perang Yamamah, Nusaibah pun kembali ikut serta dan mengajak putranya yang lain yaitu Abdullah. Ia ingin membalas kematian putranya Habib untuk dapat membunuh Musailamah. Namun takdir berkehendak lain, bahwa yang mampu membunuh Musailamah adalah putra beliau yang satunya yaitu Abdullah.

Nusaibah langsung bersujud syukur usai mengetahui kematian Thaghut al-Kadzdzab. Dengan membawa bekas luka pada tubuhnya setelah kehilangan satu tangannya dan kehilangan anaknya yang terakhir yaitu Abdullah.

Beberapa tahun setelah perang Yamamah bertepatan pada 13 H, Nusaibah wafat. Sungguh kaum muslimin pada masanya mengetahui kedudukan Nusaibah. Dari sosok Nusaibah yang dijuluki ‘Perisai Rasulullah’ wanita pejuang lagi tangguh kita bisa memetik banyak ibrah darinya, yaitu Islam membutuhkan pejuang-pejuang sejati seperti Nusaibah. Kisah penuh inspiratif para pejuang dakwah Islam seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, terlebih rela mengorbankan nyawa orang-orang yang dicintai demi tegaknya Dienulllah Islam.

Nusaibah merupakan wanita Anshar pertama yang beriman kepada Rasulullah, keistikamahannya berjuang demi Islam dengan mempertaruhkan segenap jiwa dan raganya. Sebagai istri dengan ketangguhannya berhasil mendukung perjuangan-perjuangan suaminya yang mengantarkan pada kesyahidan. Sebagai ibu, beliau menjadi sosok wanita yang kuat dengan kecerdasannya menjadi contoh untuk anak-anaknya dalam berkorban demi membela agama Allah dan berkontribusi besar dalam perjuangan Islam.

Kecintaan beliau pada surga menjadikan setiap peluang dan kesempatan yang diberikan untuk mendapatkan pahala dan keridhaan Allah serta meraih kemenangan Islam. Sudah sepatutnya kita meneladani sosok Nusaibah sebagai motivasi untuk memaksimalkan diri dalam perjuangan dan kemulian Islam.

Dengan kekaguman Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam seorang kepada keluarga Nusaibah sampai-sampai beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang menemaniku di surga“. Semoga Nusaibah beserta keluarganya diberikan tempat yang terbaik di Jannah, Aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *