Omong Kosong HAM

Omong Kosong HAM

Oleh: Kartiara Rizkina Murni (Aktivis Kampus)

WWW.POJOKOPINI.COM — Pekan lalu, momen pahit menimpa umat islam di India, terjadi sebuah kerusuhan antar umat beragama yang berlangsung di ibu kota New Delhi dan menewaskan hingga 42 orang.
Bentrokan itu terjadi pada Minggu (23/2/2020), dan mengalami eskalasi ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkunjung selama dua hari.

Para korban tewas kerusuhan India tidak hanya terjadi dari kalangan warga sipil, tetapi juga polisi yang tengah menjaga keamanan.
India memanas sejak pengesahan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India (CAB) pada Desember 2019 menjadi polemik dan memicu kerusuhan antara pemeluk Hindu dan Islam di New Delhi, India.

UU Amendemen Kewarganegaraan yang kontroversial ini dinilai mempercepat perolehan status kewarganegaraan bagi penganut agama minoritas, termasuk Hindu, Sikh, Budha, Jain, Parsis dan Kristen dari tiga negara tetangga yakni Pakistan, Bangladesh dan afganistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Pemerintah India yang kini dikuasai oleh partai Nasionalis Hindu, Bharatiya Janata Party (BJP), mengatakan undang-undang ini akan memberi perlindungan bagi orang-orang yang melarikan diri dari persekusi agama. namun nyata sangat memilukan.
Di lansir dari Republik.Co.Id Salah satu kisah memilukan ini datang dari Yasmin, ibu tiga anak berusia 35 tahun, sambil memegang tasbihnya ia sedang menunggu di kamar mayat sebuah rumah sakit untuk mengambil mayat abang iparnya Mehtab seorang pekerja konstruksi berusia 22 tahun yang babak belur. Dia baru saja kehilangan saudaranya seorang penduduk di lingkungan New Delhi.

Nasib Mehtab dalam kasus rusuh berbau agama di India ini memang naas. Pada Selasa malam dia keluar dari rumah untuk membeli susu. Namun kepergiannya tidak pernah kembali. Di tenhaj jalan dia diangkut pergi oleh perusuh yang menggunakan tongkat. Nasib sempat tak pasti. Tapi kemudian ia ditemukan meregang nyawa beberapa jam kemudian, tubuhnya memar dan terbakar.

Kisah pilu masih berlanjut, malam itu suasana sangat mencekam. Bersamaan dengan kepergian Mehtab, Yasmin dan suaminya meringkuk ketakutan di rumah. Kala itu ia mendengar para perusuh mengeluarkan ancaman akan membakar toko-toko dan tempat tinggal milik masyarakat Muslim.
“Ini adalah pertama kalinya saya melihat konflik seperti itu. Kami selalu menganggap Hindu sebagai saudara kami. (Mehtab) dibunuh karena ia seorang Muslim. Kami diserang karena kami Muslim, ” ujar Yasmin.

Suasana ‘horor’ ini seakan mengikuti permusuhan terus-menerus antara mayoritas Hindu India dan minoritas Muslimnya. Ini makin intens terjadi semenjak Narendra Modi yang berkuasa menjadi perdana menteri India yang berasal dari, Bharatiya Janata Party, kata para analis. (Republika.co.id 01/03/2020).

Di sisi lain Presiden Joko Widodo (Jokowi) justru malah mengecewakan umat Islam karena beliau tidak mengecam pembantaian muslim di India. Demikian dikatakan pengamat politik dan sosial Muhamnad Yunus Hanixs dalam pernyataan kepada suaranasional, Ahad (1/3/2020). “Jokowi harusnya menunjukkan rasa solidaritas muslim di India,” ungkapnya.

Menurut Yunus, ada kemungkinan Jokowi takut hubungan dengan India retak akibat mengecam pembantaian muslim di negeri Bollywood. Jokowi terkesan bungkam atas apa yang menimpa muslim India. (Suara Nasional 01/03/2020)
Sebagai salah satu tokoh muslim berpengaruh, rasanya sangat aneh bila Jokowi tak segera ambil sikap terhadap India. Apalagi ia Presiden dari negeri mayoritas muslim terbesar di dunia.

Dengan keterpengaruhannya sebagai tokoh muslim dunia, semestinya bisa lebih pro aktif merespon isu-isu internasional, utamanya terkait umat Islam. Tetapi nyatanya pak jokowi lebih memihak bungkam dan memilih posisi aman.

Padahal sebelumnya Indonesia berniat menjadi anggota Dewan HAM PBB periode 2020-2022 mewakili Asia Pasifik. Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno LP Marsudi mengatakan,
“(Kami mencoba) untuk intensifikasi kampanye, melakukan lobi secara langsung dengan banyak negara pada Minggu depan ini banyak sekali akan berada di Jenewa. Karena sedang ada pertemuan dewan atau council of human rights dari PBB,” ucapnya.

Untuk meyakinkan para anggota, lanjutnya, Kemenlu RI akan menampilkan rekam jejak Indonesia di pentas global yang selalu mengkampanyekan perdamaian, menjunjung tinggi demokrasi, dan aktif mengkampanyekan penegakan hak asasi manusia (Detik News 22/02/2019).

Amerika Serikat yang sangat menjunjung tinggi nilai HAM (Hak Asasi Manusia). Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah mendengar tentang kerusuhan itu, namun ia tidak membicarakannya dengan Modi. Dia menolak mengomentari undang-undang yang baru.

“Aku tidak ingin membahas itu. Aku menyerahkan hal itu pada India. Mudah-mudahan mereka akan membuat keputusan yang tepat untuk rakyat,” ucap Trump.
Dalam pidato terpisah pada Senin (24/2/2020), Trump memuji India sebagai negara yang toleran.
“India adalah negara yang dengan bangga merangkul kebebasan, kemerdekaan, hak-hak individu, aturan hukum dan martabat setiap manusia,” katanya dalam sebuah rapat umum yang dihadiri lebih dari 100.000 orang di negara bagian Gujarat, India”.
“Persatuanmu adalah inspirasi bagi dunia,” pungkas Trump.

Begitulah kaum kafir hanya peduli HAM yang menguntungkan perolehan material kapitalistik saja. HAM seperti memiliki standart yang berbeda, misalnya apabila ada penganiayaan terhadap non Muslim dan orang atheisl HAM membelanya, namun apabila orang Islam yang dianiaya maka tidak ada pembelaan justru apatis.

Dari sini dapat dilihat bagaimana HAM itu hanya omong kosong. HAM selalu bersemboyan untuk seluruh manusia, tapi kenyataannya HAM tidak untuk umat Islam tetapi hanya untuk kalangan orang-orang selain islam.
Kalau di tanya apakah HAM ini cacat, jelas saja setiap sistem yang bukan berasal dari Islam pasti tidak sempurna karena sistem yang digunakan adalah sistem kufur, yang aturannya tidak berasal dari sang Maha Pengatur.

HAM memang indah dan baik secara konsep dan teori tapi prakteknya omong kosong. HAM diciptakan hanya untuk tambalan dalam sebuah sistem yang tidak sempurna, yakni sistem demokrasi atau sistem sekuler dimana hak-hak manusia itu tidak dilindungi secara sempurna seperti dalam sistem Islam sehingga sering terjadi penindasan, dan perampasan terhadap hak rakyat dan oposisi secara sewenang-wenang sehingga mereka merasa kurang dan perlu ditambal dengan HAM ini. Mereka tidak memakai sistem yang sudah lengkap tapi mereka memakai sistem rusak dan banyak kecacatan. Jadi dalam sistem yang kurang ini terjadi pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.

Berbeda sekali dengan sistem khilafah, tidak ada istilah kelompok minoritas atau kelompok mayoritas sebagaimana halnya kafir dzimmi, selama iya termasuk kewarganegaraan daulah khilafah maka ia mendapatkan hak yang sama. Hak mendapatkan pendidikan, hak mendapatkan perlindungan, hak mendapatkan kesejahteraan
Akan tetapi ketiadaan khilafah saat ini menyebabkan banyaknya penderitaan umat Islam di dunia, karena umat Islam tiada lagi yang melindungi, umat islam tidak lagi memiliki perisai yakni seorang khalifah/ imam.

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.

Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

Karena Islam sangat menjaga darah seorang manusia. Allah SWT berfirman:
“Siapa saja yang membunuh satu orang,bukan karena orang itu membunuh orang lain atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia” (QS Al-Maidah:32).

Dan Sabda Rasulullah SAW:
“Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah SWT di bandingkan dengan pembunuhan seorang muslim” (Hr.At-Tirmidzi & An-Nasa’i).
Demikianlah yang terjadi sebab Allah SWT melarang kedzaliman dan Rasulullah SAW juga memerintah untuk berlaku adil pada non muslim. Menempatkan mereka secara beradab karena Islam adalah agama sempurna dan akan terlihat kesempurnaannya apabila Khilafah yang menjadi pelaksananya.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *