Orangtua yang Dahaga

Mungkin ada banyak sekali utang pengasuhan tersebab kebodohan kita sebagai orang tua. Mungkin ada banyak sekali hak anak-anak yang belum kita tunaikan, namun kewajiban itu tak kita sadari. Tetaplah menjadi orang tua yang dahaga, teruslah belajar. Kita semua pembelajar.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — “Segala sesuatu yang wajib, maka wajib dipelajari,” demikian sebagian dari hikmah besar dalam kitab Ta’limul Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji. Agaknya begitupun dalam mendidik generasi, Allah menitipkan mereka pada kita bukan tanpa maksud, Al-Qur’an dan Sunnah menetapkan langkah dan strategi untuk tujuan termaksud yang syurgawi. Memang segalanya perlu desain, semua perlu persiapan, sehingga terpola dan tertarget dengan baik.

Bahkan dalam Surat An-Nisa ayat 9, Allah melarang orang tua abai dari persiapan ini. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Satu faktor besar penyumbang generasi yang lemah baik secara fisik maupun emosional adalah orang tua. Hal ini tersebab pendidikan anak terpola jauh sejak mereka masih dalam perencanaan, belum pun mereka tengok dunia. Persiapan itu bahkan dimulai sejak kedua orang tua melayakkan diri untuk mendapatkan pasangan yang shalih atau shalihah untuk mendampinginya. Ini pula mungkin yang menjadi faktor terbesar ketidaksiapan orang tua hari ini, karena menikah asal menikah, terlanjur terpapar virus merah jambu. Menikah tanpa visi dan persiapan ilmu keayahbundaan.

Andai kita orang yang takut kepada Allah dari meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita kelak, saat kita tak lagi nampak menapak di bumi, saat raga ini terkubur dan nama pun mulai terlupakan, saat pengadilan Allah tinggal menunggu giliran, jika kita takut meninggalkan generasi yang lemah maka kita akan menjadi orang tua yang dahaga. Dahaga yang tak kunjung lega. Menjadi pribadi yang haus ilmu dan terus mengevaluasi diri dan pola pengasuhan para bocah.

Mendidik anak adalah kewajiban bagi kedua orang tua, dan kewajiban ini tak bisa dijalankan asal-asalan, seadanya, sesukanya, alias serampangan. Mendidik adalah jalan panjang yang mengaktivasi proses belajar seumur hidup. Kita tak bisa generalisir anak kita sama dengan anak orang lain, catat ini. Jangan generalisir dan tak perlu membanding-bandingkan. Kasihanilah anak-anak kita yang entah terlahir dari kedua orang tua yang dahaga atas ilmu, atau dahaga materi keduniawian semata.

Karena mendidik adalah proses belajar yang panjang, maka diperlukan kesadaran agar istiqamah dalam dahaga, tak merasa puas sampai nanti kita bertemu Allah. Kita coba pelan-pelan mengejar apa yang selama ini kita lewatkan, kita evaluasi dan ubah apa yang sanggup untuk kita prioritaskan di langkah awal ini. Mendidik butuh ilmu, dan ilmu ini bukan berbentuk makanan atau minuman yang dengan mudah bisa diolah perut, ilmu ini harus dicari, diupayakan, dan ini terus menerus.

Bahkan Imam Az-Zarnuji menyetarakan ilmu dengan makan. Coba kita menjawab, seberapa khawatir kita jika anak-anak kita tak makan? Takutkan kita mereka menjadi anak yang lapar dan kurang gizi? Tentu kita takut. Tapi apakah kita sekhawatir itu saat dia dengan umurnya yang sudah baligh namun tak paham bagaimana cara menutup aurat? Apakah kita setakut itu saat menemukan anak kita tak memahami cara membaca Al-Qur’an dengan benar? Apakah kita merasa sehoror itu jika anak-anak kita tak paham ‘Ulumul Qur’an, ‘Ulumul Hadits, Ushul Fiqh, dan Bahasa Arab?

Memang, tak perlu membebani diri dengan target-target berat, mulai saja dari apa yang kita bisa. Penulis berpikir, begitu banyak umur yang terlewat ini entah bagaimana membayarnya. Biarlah langkah kecil ini semoga menjadi jalan kemuliaan dari Allah, agar anak-anak kita menjadi hamba-Nya yang berilmu. Mulailah dari yang kita bisa, ingatlah lagi, jangan membandingkan diri kita dengan orang lain, tak perlu membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain. Saat kita menyaksikan kesuksesan seseorang, sadarilah bahwa dia telah melalui prosesnya. Dia menapaki anak tangga demi anak tangga dalam peluh, dia berproses menjalani pendidikan ini, mendidik dirinya menjadi orang tua yang mendidik generasi.

Mungkin ada banyak sekali utang pengasuhan tersebab kebodohan kita sebagai orang tua. Mungkin ada banyak sekali hak anak-anak yang belum kita tunaikan, namun kewajiban itu tak kita sadari. Tetaplah menjadi orang tua yang dahaga, teruslah belajar. Kita semua pembelajar.

Buku-buku parenting itu bukan hanya milik para ibu, itu juga wajib untuk dibaca para ayah, karena parenting bukan tentang keibuan tapi keayahbundaan. Tak perlu merasa malu untuk belajar, meski umur tak lagi muda, banyak masa yang terlewati sia-sia dalam umur kita, yakin saja bahwa Allah masih memberi kita waktu selama nyawa masih melekat pada badan. Masih ada tangan yang bisa digenggam untuk meminta maaf atas utang pengasuhan selama ini, masih ada tubuh kecil itu yang bisa dipeluk untuk memberi dia “rasa disayangi” yang mungkin selama ini tak sempat.

Lagi, kita perlu sekali untuk terus memohon pertolongan Allah. Ada banyak orang tua yang telah ditolong Allah karena keshalihannya, kita bisa membaca dari banyak kisah dan mendengar cerita panjang perjalanan keluarga-keluarga shalih. Mereka ditolong Allah karena ketawadhuannya atas kehendak Allah, karena komitmennya terhadap syariat Allah. Kita pun tak salah untuk berharap begitu, agar Allah menolong kita untuk menjadi hamba-Nya yang taat, dan dalam setiap ketaatan itu selalu kita sisipkan harap agar Allah pun mengondisikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih.

Alhasil, semoga kita terus menjadi orang tua yang dahaga: dahaga dalam menuntut ilmu, dahaga dalam ketaatan, dahaga dalam doa, dahaga dalam mencontohkan kebaikan, dahaga dalam menghamba kepada Allah. Tak pernah merasa puas, selalu dalam dahaga. Semoga Allah ampuni kita, ya.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *