OTG Millenial: Lonjakan Kasus Baru di Era New Normal 

OTG Millenial: Lonjakan Kasus Baru di Era New Normal 

Bagi negara yang berdasarkan sistem Islam dengan landasan keimanan, rakyat akan menjadi prioritas utama. Uang seberapapun tidak akan menjadi masalah untuk melindungi rakyat.


Oleh: Haura Az-Zahra

POJOKOPINI.COM — Sudah hampir 2 bulan Indonesia menerapkan new normal di tengah pandemi, namun tidak ada tanda-tanda penurunan kasus positif virus Corona. Justru semakin hari peningkatan jumlah pasien positif Covid-19 semakin bertambah. Terhitung per tanggal 18 Juli 2020, kasus virus Corona di Indonesia sudah mencapai 84.882 dengan penambahan kasus positif sebesar 1.752 kasus (detiknews.com 18/7/20).

Menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyatakan sebagian besar penambahan kasus positif virus Corona yang baru ditemukan kebanyakan berstatus sebagai OTG (Orang Tanpa Gejala). Yurianto juga menyebutkan pasien dengan status OTG sama sekali tidak merasakan keluhan dan tidak merasakan sakit apapun, meski sudah dinyatakan positif Covid-19. Yurianto pun menyatakan beban Rumah Sakit jadi tidak terdampak sampai saat ini meski kasus baru positif Covid-19 mengalami peningkatan (cnnindonesia.com 12/7/20).

Sebagaimana kasus ribuan siswa-siswi dari Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) yang dinyatakan positif virus Corona, rata-rata merupakan pasien dengan kategori OTG (Orang Tanpa Gejala) yang memiliki usia muda atau generasi millenial. Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Budi Santoso juga mengatakan bahwa kebanyakan anak muda tidak merasakan bahwa dirinya pembawa virus Corona, yang dapat menularkan kepada orang lain (idntimes.com 12/7/20).

Melihat kondisi tersebut muncul kekhawatiran di tengah masyarakat terhadap penyebaran virus Corona dari OTG ini, mengingat sampai saat ini masih dilaksanakannya pelonggaran PSBB yang terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Hal tersebut seharusnya sudah menjadi perhatian negara untuk melakukan pengetatan protokol Covid-19. Negara juga semestinya tidak menganggap sepele kasus OTG dengan alasan tidak membebani RS, karena OTG terutama dari kalangan milenial di masa pelonggaran PSBB ini bisa saja menjadi sumber ledakan baru bagi penambahan kasus positif virus Corona.

Dikutip dari tirto.id (10/7/20) World Health Organization (WHO) kembali memperbarui, ringkasan ilmiah Transmisi SARS-CoV-2 yang diterbitkan sejak 29 Maret 2020 lalu. Isinya terkait, Covid-19 bisa menular melalui udara (airborne) dan pola pencegahannya. Sebelumnya, 239 ilmuwan dari beragam negara mendapati, virus Corona bisa menular melalui udara.

Adanya temuan-temuan baru terhadap sebaran virus Corona tersebut semestinya diiringi dengan tindakan nyata negara dalam memastikan terputusnya rantai penularan virus Corona. Namun saat ini tidak ada kebijakan antisipasi terhadap pekerja kantoran yang harus bekerja di luar rumah, seperti pegawai BUMN, pekerja pabrik, PNS dan lain-lain. Negara hanya sebatas memberikan peringatan, teguran, bahkan himbauan semata kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan kesadaran dan kehati-hatian secara individu. Bukan kebijakan nyata untuk memutus rantai penularan virus Corona. 

Tak bisa dipungkiri, kebijakan yang ditetapkan saat ini masih sebatas perhitungan untung dan rugi, sebagaimana ideologi yang di anut oleh negara ini yaitu kapitalisme. Maka seluruh kebijakan yang dibuat hasilnya menguntungkan pihak lain tapi merugikan masyarakat. Kesehatan masyarakat bukan lagi menjadi prioritas negara. Alih-alih meningkatkan ekonomi, justru masyarakat dibuat waspada terhadap sebaran virus Corona dari kategori OTG yang tak kasat mata.

Jika masalah ini ingin diselesaikan dengan tuntas, kebijakan seharusnya bukan berdasarkan dari untung dan rugi. Tapi seharusnya didasari dengan keimanan untuk menyelamatkan nyawa masyarakat dan memenuhi segala kebutuhannya. Apalagi kalau bukan bersandarkan pada Islam?

Dalam sistem Islam, kebijakan dibuat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang dilandasi dengan keimanan. Negara terlebih dahulu akan memutus rantai penularan virus dengan melakukan lockdown total, menutup tempat-tempat yang dapat menjadi wadah penyebaran virus Corona, melarang aktivitas berkumpul dan mengadakan acara.

Negara akan mengadakan tes massal Covid-19 secara gratis bagi seluruh rakyatnya dengan mendatangkan petugas ke rumah-rumah. Jika ada warga yang dinyatakan positif, maka akan langsung diadakan karantina dan diobati serta dilayani dengan baik. Saat berlangsungnya proses pemeriksaan, masyarakat tentunya akan kesulitan memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Maka, sudah menjadi peran negara untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Terutama kebutuhan pokok sehari-hari. Memang, biaya yang dikeluarkan negara akan cukup besar. Akan tetapi sebanding dengan hasil yang diperoleh nantinya.

Bagi negara yang berdasarkan sistem Islam dengan landasan keimanan, rakyat akan menjadi prioritas utama. Uang seberapapun tidak akan menjadi masalah untuk melindungi rakyat. Negara dapat mengatasi ekonomi dengan mengenguasai dan mengelola SDA yang dipunya.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *