Pajak Membelit, Rakyat Menjerit

Pajak Membelit, Rakyat Menjerit

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt ( Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga Anggota Akademi Menulis Kreatif ) Kalsel

WWW.POJOKOPINI.COM — Harga beberapa komoditas yang digemari masyarakat Indonesia akan naik. Minuman berpemanis seperti teh berkemasan, minuman berkarbonasi, kopi konsentrat akan dikenakan cukai. Kantong plastik alias tas keresek yang lazim dipakai untuk wadah belanjaan juga akan dikenakan bea serupa. Mobil atau sepeda motor, atau kendaraan bermotor apa saja yang menghasilkan emisi karbondioksida (CO2), juga bakal dikenakan bea. Pembayaran cukai akan dibebankan pada pabrikan dan importir berdasarkan seberapa besar emisi CO2 yang dihasilkan dari produknya, bukan pada pengguna.

Sri Mulyani mengusulkan perluasan penerapan cukai pada ketiga komoditas itu mempunyai tujuan ganda. Pertama, jelas saja untuk menambah penerimaan negara, terutama dari sektor cukai. Kedua, untuk kepentingan pelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Dalam hal penerimaan negara, untuk kantong plastik alias tas keresek, skema tarif cukainya akan ditetapkan Rp30.000 per kilogram atau sebesar Rp200 per lembar. Dengan asumsi konsumsi plastik 53,5 juta kilogram per tahun (setelah ditekan dari rata-rata 107 juta kilogram per tahun), potensi penerimaan Rp1,605 triliun. Kenaikan harga tas keresek itu diharapkan dapat mengurangi penggunaan kantong plastik, yang akan menjadi sampah plastik yang sulit terurai dan mencemari lingkungan, terutama tanah dan air. Isu sampah plastik itu sudah menjadi masalah dunia dan banyak negara mulai membatasinya, sementara Indonesia disebut sebagai negara terbesar yang memproduksi sampah plastik.

Cukai dari minuman berpemanis, dengan gula atau pemanis buatan, ditargetkan mencapai Rp1,7 triliun. Produksi produk-produk yang akan dikenakan cukai energy drink, kopi konsentrat, dan sejenisnya; teh berkemasan, minuman berkarbonasi, mencapai ratusan juta sampai miliar liter per tahun. Harga yang lebih mahal diharapkan mengurangi konsumsi gula untuk menekan risiko penyakit mematikan seperti diabetes yang dapat menyebabkan stroke sampai gagal ginjal.

Rencana penerapan cukai untuk kendaraan bermotor yang menghasilkan gas buang atau asap knalpot mobil atau sepeda motor, tidak hanya untuk mengurangi polusi udara, melainkan juga mendorong penggunaan kendaraan berbasis listrik, yang emisinya rendah. Kebijakan itu, selain memang menjadi program pemerintah, dunia kini mulai beralih pada kendaraan masa depan dengan mesin bertenaga listrik, bukan lagi berbahan bakar fosil seperti bahan bakar minyak.

Nilai potensi penerimaan negara dari komponen itu sebesar Rp15,7 triliun, yang didasarkan pada asumsi sekurang-kurangnya sama dengan nilai penerimaan pajak penjualan barang mewah menggunakan skema dan besaran tarif yang sama pada 2017. Tetapi, ada pengecualian: kendaraan umum, kendaraan pemerintah, kendaraan keperluan khusus seperti ambulans dan pemadam kebakaran, dan kendaraan untuk kebutuhan ekspor tidak dikenakan cukai. (vivanews.com, 22/02/2020)

Satu lagi kebijakan yang akan diterapkan. Tentunya tidak lepas dari kian membebani rakyat. Beban itu selalu saja mengintai rakyat, utamanya adalah rakyat kecil. Padahal sejatinya pendapatan yang mereka terima belum tentu sebanyak yang dikira. Mengapa selalu rakyat yang menjadi korban dari pemalakan ini? Lantas apakah sumber pendapatan negara hanya bisa diperoleh lewat pintu pajak?

Islam Memandang

Islam adalah agama sempurna dan paripurna. Sempurna karena Islam mengatur segala aturan kehidupan manusia selama ia hidup di dunia ini. Paripurna, bahwa tiada agama lain setelah Islama.

Islam tak hanya mengatur pola hubungan manusia dengan Rabb-nya saja, yang tampak lewat ibadah. Namun, Islam mengatur hubungan yang lainnya. Yaitu hubungan manusia dengan sesama dan dengan dirinya sendiri. Semua itu ada rambu-rambu yang terpampang dalam Al Qur’an dan Hadist Nabi saw. Begitupun dengan pengaturan bernegara, tentulah Islam mempunyai rambu-rambunya. Seperti pada kebijakan di atas, yang mungkin akan diterapkan di negeri ini.

Dalam bidang perekonomian utamanya pemasukan kas negara, Islam sangat mengatur hal tersebut. Karena dalam bidang tersebut erat kaitannya dengan keberlangsungan hidup rakyat. Dan akan menggambarkan sejahtera atau malah sebaliknya.

Terkait dengan pendapatan negara, bahwa di dalam Islam terdapat pos-pos dana yang memungkinkan untuk mengisi kas negara dalam Baitul Mal. Sumber pemasukan Baitul Mal tersebut berupa ghanimah, fa’i, khumus, jizyah, kharaj, seperlima harta rikaz, usyur, harta yang tidak ada pewarisnya, harta orang murtad, harta tidak sah para pengusaha dan pegawai, zakat serta pajak. Semua itu diambil secara tetap, baik diperlukan atau tidak. Lantas kemudian bagaimana dengan pajak? Apakah juga diambil atau dipungut secara periodik? Ternyata ada beberapa alasan yang wajib ada ketika negara mau mengambil pajak kepada kaum muslim.

Ada beberapa ketentuan yang wajib ada, yaitu jika kas di Baitul Mal benar-benar kosong, (barulah negara boleh memungut pajak kepada rakyat). Kemudian pemungutannya dilakukan hanya kepada kaum Muslim dan orang-orang kaya saja. Jika diperlukan, maka penarikan bersifat temporer serta tidak boleh lebih dari keperluan yang menjadi beban kaum muslimin. Jika tidak dipenuhi ketentuan-ketentuan tersebut maka ini termasuk dalam kezaliman yang nyata. Sebagaimana sabda Nabi: “Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pajak” (H.R Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, Al Hakim).

Pemungutan pajak di luar ketentuan syari’ah adalah sebuah tindakan kezaliman dan merupakan dosa besar (menurut Imam Syamsuddin Adz Dzahaby). “…sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertaubat (dari perzinaan), sekiranya taubat (seperti) itu dilakukan oleh pemungut pajak niscaya dosanya akan diampuni” (HR Muslim).

Kemudian diwajibkan pajak atas seorang muslimin mana kala dia telah mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok dan sekundernya (standar disesuaikan dengan waktu serta zamannya). Pajak diwajibkan atas kelebihan harta, tentunya tidak melebihi dari kebutuhan Baitul Mal. Hal lain, bahwa negara tidak boleh mewajibkan pajak pada jual-beli (muamalah), bumi dan bangunan, gaji para pegawai, kendaraan, serta yang lainnya sebagaimana yang diterapkan pada sistem sekarang yaitu kapitalis-sekuler.

Dalam sistem kapitalis-sekuler yang saat ini diterapkan, kita dapat melihat secara jelas. Bahwa pemasukan kas negara yang utama berasal dari sektor pajak dan bea cukai. Semua produk yang dihasilkan oleh perusahaan, tanah dan bangunan, kendaraan, gaji, dan yang lainnya pasti terkena pajak. Belum lagi, kebijakan baru yang mungkin akan diberlakukan pajak pada produk-produk berpemanis dan yang sejenisnya tentu akan membuat para pedagang kecil menjerit. Recehan demi recehan sengaja dikumpulkan untuk masuk pada kas negara. Sedangkan pendapatan yang luar biasa banyaknya malah dilepaskan begitu saja. Sebut saja tambang emas yang ada di Papua. Ini adalah satu dari beberapa contoh kekeyaan alam negeri yang telah dirampok habis-habisan oleh negara lain. Sadar ataupun tidak, ternyata mereka dilegalkan aktivitasnya oleh para pejabat yang sedang duduk di kursinya saat ini. Mengapa kekayaan alam itu, tidak masuk dalam pemasukan kas negara?

Belum lagi kekayaan alam lainnya seperti hasil hutan, laut, gas, emas hitam, dan masih banyak yang lainnya. Jika semua kekayaan itu dikelola dengan baik, maka pendapatan negara sesungguhnya akan terisi penuh. Dan dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi fakta berbicara, sejahtera amatlah jauh dari jangkauan rakyat di negeri ini. Semua itu karena sistem yang ada sekarang tak mau berpihak kepada rakyat, utamanya rakyat kecil.

Sangat jauh berbeda ketika Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan manusia. Kezaliman benar-benar akan dihapuskan dari muka bumi dan yang ada kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan. Hanya dengan sistem Islam pengelolaan harta negara menjadi baik, berkah, dan bermanfaat bagi rakyat. Dan tidak pula mencekik rakyat yang senantiasa dilakukan pada sistem sekarang, yang selalu menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan negara yang pertama dan utama. Padahal jika merujuk pada Islam maka sebenarnya sumber pendapatan negara sangat banyak pos-nya.

Selain itu, ketika sistem Islam dapat diterapkan secara sempurna maka akan membuat rakyat berlomba-lomba menginfakkan hartanya untuk Islam. Karena sejatinya itu adalah buah dari manisnya Iman-Islam. Mereka sadar betul bahwa harta itu tidak akan di bawa sampai mati, sehingga berlomba untuk mendapatkan pahala lewat hartanya. Semoga kita bisa segera menerapkan Islam dalam kehidupan kita, agar rakyat tidak tercekik oleh kebijakan-kebijakan yang sejatinya selalu menindas rakyat. Sebagai wujud nyata dari hal tersebut adalah perlunya perjuangan yang hakiki dari kaum Muslim untuk bisa menerapkan Islam secara sempurna dan menyeluruh, agar tidak ada lagi kedzoliman nyata di dunia ini. Dan tidak ada lagi pemalakan yang nyata bagi rakyat. Wallahu a’lam. [ ]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *