Pandemi Ekonomi

Pandemi Ekonomi

Kita harus akui, dunia hari ini sedang didera dua persoalan yaitu tsunami reses ekonomi global dan pandemi. Hari ini dunia membutuhkan tatanan berbeda yang mampu menyejahterakannya. Bisa menciptakan kedamaian dan mengontrol kestabilan terpenuhinya semua kebutuhan manusia. Sistem apakah yang bisa sekuat itu?

Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos (Ibu Penggerak Opini)

POJOKOPINI.COM — “Mi, berapa harga dolar hari ini?” Kata Farhan setelah menyantap sahur. Saya sekarang paham saat dulu ustadzah saya bilang, “Anak kita itu ngeliat ibunya, apa yang menjadi prioritas ibu, juga jadi prioritas dia.”

Beberapa hari sejak physical distancing, saya terus memantau perkembangan rupiah. Saya sampai hafal gaya beberapa media dalam memberitakan. Ada yang lucu, lebay, garing, sampai absurd. Saya memantau sejak rupiah belum tersungkur ke 16ribu dan mengikuti berbagai berita terkait Covid 19. Juga berbagai kejadian turunannya seperti nakes yang kekurangan APD, gelontoran 300 triliun untuk selamatkan rupiah, sampai gelombang PHK dan industri-industri dalam negeri yang dalam ancaman karena bergantung pada komoditas impor.

Agaknya kita sudah harus sampai pada sebuah pemikiran, tentang betapa lemahnya manusia, dan begitu terbatas. Makhluk Allah bernama Covid-19 ini tak mampu terlihat pun oleh mata kita, kecuali pakai alat khusus. Tak terdengarpun suaranya hinggap di mana saja meski sangat dekat dengan telinga. Tak terasa bagi para carrier saat virus itu menempel dan bergerak masuk ke dalam tubuhnya, baru tahu setelah mengalami gejala, pun ada banyak yang tak sadar karena tanpa gejala tapi aktif menularkan karena terus beraktivitas. Akui saja, kita memang lemah dan terbatas. Betapa Mahakuasa dan Mahahebat Allah.

Kita semua menyaksikan bagaimana negeri-negeri hebat di dunia ini hancur ekonominya tersebab tak kuasa menahan serangan pandemi. Cina tersungkur. Amerika sekarang sedang ketar ketir. Eropa hancur. Pertanyaannya, jika mereka saja kalang kabut menghadapi Covid-19 ini, bagaimana Indonesia?

Bahkan Amerika dengan tegas meminta warganya yang ada di negeri ini untuk segera kembali ke AS karena meragukan negeri ini. “Departemen Luar Negeri membuat keputusan ini karena bukti Covid-19 di Indonesia, kapasitas medis di Indonesia saat ini, dan ketersediaan penerbangan saat ini dari Indonesia,” tulis pernyataan tersebut seperti dikutip dari CNBC Indonesia (29/3/2020).

Hampir berakhir sebulan masa karantina mandiri ini. Banyak rumah tangga yang perekonomiannya mati. Mereka makan dari pendapatan bulan kemarin. Sementara itu, mereka tetap harus mencukupkan aqad kontrakan di bulan selanjutnya, dan biaya hidup demi bisa makan anak-anaknya. Pertanyaannya, apa yang harus mereka lakukan?

Seorang sahabat bercerita bagaimana gelombang PHK menimpa pabrik tempat suaminya bekerja. Pegawai yang “dipulangkan” hanya punya gaji sebulan untuk hidup dan bayar kontrakan. Mau pulang ke kampung, uang tak cukup, pun mereka tentu tak boleh keluar dari zona merah ini. Namun bertahan di kota besar di tengah pandemi bukanlah hal yang mudah, tak ada uang untuk menyetok makanan, biaya listrik, dan pemilik kontrakan yang pasti sama terjepitnya dengan mereka.

Sebelumnya kehidupan juga bukan mudah. Inflasi menjadi sahabat bagi hari-hari besar. Negara bahkan tak kuasa mengendalikan harga ayam. Seolah tak berdaya, dia membiarkan rakyat menelan naik turun harga komoditi pokok. Yang kuat bisa membeli banyak, yang tak kuat, makan seadanya. Itu semua diperparah dalam masa pandemi seperti sekarang. Langka yang sebelumnya terjadi karena penumpukan harta di titik dengki dan kikir, pun sekarang masih dikuasai kerakusan.

Terang sudah kita melihat betapa lemah sistem kapitalisme yang hari ini dipakai untuk mengatur kita. Sistem ini menjadikan penguasa ruwaibidhah sebagai kacung demi kepentingan para kapitalis kelas kakap. Rakyat ibarat rumput liar tak terurus dan terinjak-injak. Sistem ini bukan saja melahirkan kesengsaraan bagi rakyat, pun menciptakan penguasa yang tak punya kapabilitas dalam memimpin, indah kabar dari rupa.

Para ibu sudah harus putar otak untuk lebih mengirit makanan, di sisi lain perut bocah seolah tak bisa menunggu. Syukur Allah tetapkan Sya’ban sebagai tempat ujian, generasi dilatih berpuasa menahan lapar dan dahaga. Sambil berdoa di ujung senja, “Ya Allah, hancurkan demokrasi. Bangkrutkan mereka, Ya Allah. Pecah belah dan buatlah mereka saling menghancurkan. Tolonglah umat ini, tegakkan Khilafah dan jadikan kami penduduknya. Aamiin.”

Kita harus akui, dunia hari ini sedang didera dua persoalan yaitu tsunami reses ekonomi global dan pandemi. Hari ini dunia membutuhkan tatanan berbeda yang mampu menyejahterakannya. Bisa menciptakan kedamaian dan mengontrol kestabilan terpenuhinya semua kebutuhan manusia. Menjaga kehormatan dan memuliakan perempuan. Meletakkan predikat Khairu Ummah pada tempatnya yang hak. Dunia butuh sistem yang mampu mendistribusikan harta kepada semua manusia, menangani bencana dan tak menciptakan bencana baru karena kerakusan sistem yang ada saat ini.

Ekonomi bisa dibangun kembali, tapi manusia yang mati tak bisa dihidupkan meski kita punya uang berlimpah ruah. Kita menyaksikan dengan mata kita semua bagaimana peradaban manusia terancam punah dalam tata kelola sistem kapitalisme demokrasi. Bangkrutnya dunia dan kalahnya negara-negara adidaya menghadapi makhluk Allah yang tak kasat mata selayaknya membuat kita berpikir dan tunduk merunduk mengakui kelemahan. Menyerahkan keputusan kepada Allah melalui penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah sistem sempurna yang mampu mewujudkan peradaban yang manusiawi dan sejahtera. Islam sistemnya, Khilafah institusinya.

Khilafah tak perlu pertimbangan panjang untuk menyelamatkan nyawa manusia, baik Muslim atau bukan. Khilafah punya seperangkat sistem pamungkas untuk menghadapi pandemi global dan problem krisis ekonomi. Ini nyata dan tercatat rapi sebagai bukti kegemilangan sistem Islam menyelesaikan problematika kehidupan. Lebih dari itu, kita harus sudah berbalik arah, sistem kapitalisme demokrasilah penyebab munculnya pandemi global, dan lemahnya sistem ini dalam menyelesaikan persoalan ekonomi justru semakin menunjukkan kecacatannya. Sedangkan Khilafah adalah rumah aman bagi manusia semua. “Ya Allah, tegakkan Khilafah, hari Jum’at ini, Ya Allah,” doa Farhan anakku.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *