Pandemi Kian Meroket, Perlu Ciptakan Kebijakan Solutif

Lantas tindakan tepat apa yang harus dilakukan dalam persoalan ini? Dan pertanyaannya, siapakah yang bertanggung jawab penuh masalah kesehatan di masa pandemi? Jawabannya, tentu saja negara yang menjadi penanggung jawab penuh. Tetapi negara yang bagaimana yang mampu mewujudkannya?


Oleh: Desi Wulan Sari, M.,Si. (Pegiat Literasi dan Pengamat Publik)

POJOKOPINI.COM — Pandemi Covid19 belumlah berakhir. Sudah satu tahun lebih wabah ini menjadi pandemi yang berkepanjangan, seakan belum terlihat solusi akhir dari musibah ini. Data pemerintah memperlihatkan di awal Maret kemarin adanya kenaikan pasien sebesar 5.712 kasus baru. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 1. 347.026 orang. Terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020 lalu (kompas.com, 3/3/2021).

Para pengamat publik dan politik negara melihat kekhawatiran pada kondisi ini jika terus berlamgsung. Perlunya melakukan evaluasi harus menjadi perhatian lebih, guna mencari solusi lebih baik dari yang sebelumnya. Dalam laman media Republika.co.id, 20 Mei 2021 pakar Epidemiolog UGM, dr Riris Andono Ahmad mengatakn pemerintah perlu mengevaluasi manajemen pengemndalian pandemi, terutama dalam kasus kematian. Perlunya melihat faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya wabah ini, terlebih pada kematian. Salah satunya terkait akses pelayanan kesehatan dan bagaimana mengelola kasus secara bermutu.

Banyaknya pendapat para pengamat ekonomi dan kesehatan terkait mitigasi wabah saat ini dilihat banyak yang kurang tepat. Seperti lebih mengutamakan kebangkitan ekonomi dibanding menaikan fasilitas kesehatan. Gencarnya pariwisata dengan suntikan dana APBN yang menuai kritikan, atau edukasi kesehatan kepada masyarakat tidak dilakukan secara optimal sehingga pengabaian dalam prokes kerap kali dilakukan.

Lantas tindakan tepat apa yang harus dilakukan dalam persoalan ini? Dan pertanyaannya, siapakah yang bertanggung jawab penuh masalah kesehatan di masa pandemi? Jawabannya, tentu saja negara yang menjadi penanggung jawab penuh. Tetapi negara yang bagaimana yang mampu mewujudkannya?

Melihat bagaimana sistem kapitalis dan sekuler mengatur negara saat ini sangat menyedihkan. Bagaimana rakyat banyak dikorbankan akibat aturan-aturan dan kebijakan yang diterapkan jauh dari aturan kemaslahatan umat. Tujuan meningkatkan ekonomi adalah fokus para pengusaha dan penguasa global. Materi adalah segalanya, dan kepentingan rakyat dinomorbuntutkan, sehingga tidak aneh jika wabah ini kian meroket jumlah pasiennya, bahkan korban kematian pun semakin tinggi.

Ditambah varian baru dari Covid-19 yang berasal dari Inggris, kemudian muncul lagi dari India yang dikabarkan memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Sehingga, perlunya evaluasi atas berbagai solusi yang sudah berjalan, apakah sudah tepat sasaran ataupun memang ada indikasi intrik-intrik kepentingan para pengusaha global yang menghambat penanganan kesehatan menjadi lebih cepat dan tepat sasaran.

Berbeda dengan sistem Islam yang memiliki aturan tegas tentang mitigasi wabah. Fokus utama dalam menyelesaikan wabah adalah keharusan. Anggaran zakat dan pajak di baitul maal di gunakan untuk mengatasi wabah tersebut. Bahkan jika kurang, maka wilayah daulah Islam manapun wajib membantu daerah yang terkena wabah hingga tuntas penaganannya, memastikan keselamatan dan kesehatan mereka hingga pulih kembali.

Para Khalifah sebagai pemimpin negara akan menjamin semua aturan itu berjalan dengan baik. Tindakan tegas, tepat dan cepat mengatasi wabah akan menghilangkan daftar panjang kesengsaraan rakyat seperti yang kita lihat hingga hari ini. Semestinya munculnya problem-problem baru dan korban-korban yang berjatuhan mendorong para penguasa untuk mengambil solusi terbaik, yaitu sistem Islam. Karena sistem Islam yang kaffah menawarkan berbagai solusi tuntas dalam mengatasi setiap permasalahan umat. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah SAW, khulafur rasyidin, dan para khalifah di masanya. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *