Pandemi “Pulangkan” Mami

Pandemi “Pulangkan” Mami

Bagaimanapun, mencetak generasi emas adalah proyek panjang yang butuh supporting system, kaum Ibu tak bisa sendiri.


Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos (Koordinator Intellectual Muslimah Squad)

POJOKOPINI.COM — Kenyataan bahwa hari ini generasi harus diselamatkan membawa kita pada satu kesepakatan, anak-anak harus berada di rumah. Bukankah mereka adalah permata hati yang paling berharga? Bukankah jika mereka terpapar virus maka masa depan bangsa ikut terancam?

Agaknya kita orang dewasa perlu merenung untuk menyadari bahwa anak-anak kita “dipulangkan” demi menjaga nyawanya. Jika kita sudah sadari akibatnya akan fatal saat anak-anak dibiarkan berkumpul dan beraktivitas seperti biasa di sekolah, maka kita akan bersyukur dan secara sadar mencukupkan rumah untuk menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak. Demi apa? Demi menjaga nyawa mereka.

Kalau sudah begitu, rasanya tak ada Ibu yang rela anaknya keluar rumah walaupun sejengkal. Apapun akan dilakukannya demi membuat generasinya betah berdiam di rumah. Itulah juga yang hari ini menjadi tantangan bagi kaum Ibu. Bagaimanapun Ibu adalah titik sentral rumah, jika Ibu tak sadari dan tak siap dengan peran strategisnya, diperparah dengan seperangkat sistem yang tak suportif, maka jadilah para Ibu merasa sangat terbebani dengan tugas mendidik anak-anak di rumah karena terbiasa menggantungkan tanggung jawab itu kepada sekolah.

Hal itu sejatinya menampakkan ketidaksiapan kaum Ibu dalam mencukupkan bahan pembelajaran bagi anak di rumah. Sebagaimana dikutip dari Republika, kaum Ibu mengeluhkan kebijakan home learning (belajar di rumah). Mereka terbebani dan benar-benar gagap dalam menghadapi fakta itu. Alhasil menyerah pada keadaan. Lagi-lagi, anak kemudian lari ke gawai, itulah konsekuensi saat Ibu menjauh dari peran pentingnya sebagai pendidik generasi.

Islam memandang pengasuhan adalah penjagaan terhadap generasi dari segala yang mengancam fisik dan akidahnya. Anak-anak tak hanya harus tetap di rumah dalam penjagaan orang tua, dia pun tetap berhak mendapatkan asupan pendidikan. Hal itulah yang hari ini terasa sulit dan membebani, sejak kaum Ibu tak punya sistem suportif yang membantunya untuk mencukupkan penjagaan terhadap generasi. Pun diperparah dengan masifnya serangan ide kesetaraan gender yang merasuk ke dalam benak kaum perempuan, merekonstruksi identitasnya sekaligus melakukan devaluasi terhadap nilai-nilai mulia Ibu.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan sejumlah orang tua siswa yang mengeluhkan anak-anak mereka malah stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari para gurunya,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis pada Rabu (18/3/2020). (Detik.com)

Sistem pendidikan dengan target “bisa menjawab soal” menjadikan peserta didik diserbu dengan berbagai tugas dari ragam bidang studi yang menumpuk. Bukan malah menjadikan mereka lihai dalam materi, justru memunculkan stres yang berdampak pada anak dan para ibunya. Di satu sisi, Ibu harus kreatif mencari cara demi membuat suasana karantina yang menyenangkan, di sisi lain, sistem pemerintahan justru menekan. Hal ini menampakkan ketidaksinkronan antara Ibu dan sistem yang ada. Atau bisa dikatakan sistem ini tak berpihak kepada kaum Ibu, tapi justru membebaninya.

Belum lagi kaum Ibu diserang narasi kesetaraan gender yang memaknai Ibu berdaya dan berharga secuil materi yang didapatkannya. Baru berdaya kalau punya penghasilan. Ibarat benalu ketika Ibu hanya di rumah tak berpundi rupiah. Ide kesetaraan gender memalingkan fungsi keibuan menuju peran pemberdayaan ekonomi. Itulah kenapa karantina mandiri ini menjadi momentum para Ibu untuk “pulang”.

“Pulang” di sini tak secuil makna ibu pekerja yang kembali ke rumahnya bersama-sama generasi, tapi lebih kepada “pulangkan kaum ibu kepada fitrahnya.” Karena faktanya tak semua ibu pekerja punya waktu untuk menjalankan fungsinya sebagai ibu dan manajer rumah tangga (ummun wa rabbatul bayt), pun tak semua ibu yang tak bekerja secara sadar menjalani peran strategisnya dengan sempurna. Terlebih lagi ruh dari sistem pendidikan adalah sekularisme yang memisah agama dari kehidupan, meski begitu kaum Ibu tetap harus optimis melalui realisasi perannya sebagai madrasah ula, sekolah pertama dan utama bagi generasi. Inilah memontumnya, para ibu “pulang” kepada fitrahnya.

Kaum Ibu selayaknya menjadikan masa physical distancing sebagai sarana mendekatkan diri pada keluarga dan menanamkan nilai-nilai utama demi pembentukan kepribadian Islam generasi. Kaum Ibu harus menyadari bahwa generasinya tak tumbuh dalam iklim ideal yang justru menjadikan tugas keibuan terasa begitu berat, pun peran keibuan harus disadarinya sebagai satu kewajiban dari Allah, bukan semata memenuhi target sekolah. Dengan adanya social distancing dan self isolate, kaum Ibu punya kesempatan besar menjadi matahari bagi generasinya. Menerangi anak-anak dengan cahaya Islam yang membentuk kepribadiannya.

Bagaimanapun, mencetak generasi emas adalah proyek panjang yang butuh supporting system, kaum Ibu tak bisa sendiri. Tubuh para bocah bisa terjaga untuk tetap ada di dalam rumah, tapi orang tua tetap harus keluar rumah demi mencukupkan makan. Membeli sembako dan suplemen demi menjaga sistem imun generasi. Setelah itu mereka pulang dan berinteraksi dengan anak-anak. Penulis membayangkan, andai orang tua (khususnya para ayah) juga tetap bisa berdiam di rumah selama pandemi global ini masih mengancam, tentu generasi akan semakin aman. Namun agaknya sulit karena Working from Home tak merata dan sangat dipengaruhi motif ekonomi para kapitalis. Hal ini tentu membutuhkan negara yang siap dan sigap bencana, bukan negara abai dan gagap dalam mendeteksi dan melindungi masyarakat dari ancaman Covid-19 ini.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *