Pasar Episentrum Covid-19?

Pasar Episentrum Covid-19?

Virus ini sedang bekerja meruntuhkan ideologi sekularisme yang menjadi pijakan sistem kapitalisme. Dan seperti analisis mantan menlu AS, Henry Kissinger pandemi ini akan berdampak pada runtuhnya peradaban kapitalisme dan berganti peradaban baru.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Cina, tempat munculnya Covid-19 kini dilanda kekhawatiran menghadapi gelombang kedua. Walau kedodoran menghadapi Corona, tetapi Cina berupaya keras menghadangnya. 49 kasus baru virus corona telah dilaporkan pada Senin (15/6), di mana 36 di antaranya terjadi di Beijing. Hingga saat ini kasusnya tercatat 83.181 kasus dan 4.634 kematian. Total ada 177 pasien Covid-19 di Cina. (CNN Indonesia, 15/06/2020)

Penularan Covid-19 di pasar ternyata terjadi merata di berbagai negara. Termasuk di Indonesia. IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia), mencatat sebanyak 529 pedagang pada 13.450 pasar tradisional di Indonesia dinyatakan positif Corona Di tengah masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). (CNN Indonesia,14/06/2020)

Apa yang terjadi di Kabupaten Bogor tak jauh berbeda. Penyebaran tertinggi di Kabupaten Bogor terjadi di pasar tradisional, yaitu di Cileungsi. Gugus Tugas Covid-19 Kab Bogor, Syarifah Sopiah mengakui, lonjakan kasus di klaster Pasar Ciluengsi cukup memprihatinkan. Ia merinci, sebanyak 14 pedagang di pasar tersebut telah tertular Covid-19. Sisanya merupakan warga biasa yang merupakan keluarga pedagang maupun pembeli yang beraktivitas di pasar. “Dari kasus ini juga tercatat dua orang meninggal dan empat orang sembuh,” terang Syarifah. (radarbogor.id, 15/06/2020)

Temuan kian menguatkan bahwa pasar menjadi episentrum penyebaran Covid-19, dapat dilihat dari penyebarannya yang tinggi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan kerisauan dan berharap pasar tradisional tidak menjadi episentrum baru penyebaran COVID-19 di Jawa Tengah. Dia mencoba mencari solusi dengan mengatakan ke depan penataan pasar bisa lebih bagus.(Antara News, 16/06/2020)

Kerisauan pasar menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 juga menghantui Kabupaten Temanggung. Yang akhirnya berbuntut 5 pasar tradisional akan ditutup sementara untuk dilakukan penyemprotan cairan disinfektan. “Pasar tersebut menjadi episentrum penyebaran virus Corona atau COVID-19“, ujar Bupati Temanggung M. Al Khadziq. (Tirto.id,12/06/2020).

Realitas di atas jelas mengungkapkan bahwa penyebaran Covid-19 terus bergelombang. Yang pada dasarnya adalah karena terjadi pergerakan dan berkerumunnya manusia. Apalagi berkerumun secara intens seperti yang terjadi pada pasar, tentu menjadi potensi besar penyebaran. Ditambah lagi protokol kesehatan seringkali tak dihiraukan. Alasan pengap pake maskerlah. Ribet dan tak disiplin mau mencuci tangan pakai sabun. Ditambah lagi beredar opini bahwa Covid-19 ini hanyalah permainan dagang, tipu-tipu, konspirasi dan semacamnya. Lengkaplah sudah. Ada kelompok masyarakat yang tak menghiraukan dan meremehkan bahaya Covid-19 ini.

Sebenarnya jika dari awal manusia mau mengikuti syariat dari penciptanya tentu penyebaran global yang mengerikan dan dampaknya sangat panjang dan dalam ini bisa dicegah. Bahkan virus ini hanya berhenti di Wuhan saja! Wilayah dimana terjadi aktivitas memenuhi hajat hidup dengan memakan hewan kelelawar yang haram dan menjijikkan itu.

Ketika terbaca penyebaran wabah di suatu wilayah syariat Islam telah memerintahkan untuk ‘lockdown‘ (karantina wilayah). Setelah pergerakan manusia dari dan ke wilayah wabah dihentikan. Maka penyelesaian akan mudah. Pemerintah tinggal melakukan tes masal, dari hasil tes segera dipisahkan yang sakit dari yang sehat. Yang sakit diisolasi dan diobati sampai sembuh. Sedangkan yang sehat bisa tetap beraktivitas dengan menerapkan protokoler kesehatan, memakai masker, sering cuci tangan dengan sabun dan jaga jarak.

Tentu jika ada yang tak mampu memenuhi hajat hidup, pemerintahpun tak terlalu memerlukan anggaran besar untuk menyuplai kebutuhan rakyat yang notabene memang menjadi kewajibannya.

Coba kita lihat yang terjadi hari ini. Tanpa mengikuti panduan hidup dari Pencipta, sungguh terbukti manusia mengalami derita dan duka berkepanjangan. Krisis kesehatan, krisis ekonomi dan krisis kepemimpinan. Sungguh sekùat apapun pemimpin di era pandemi ini rontok di depan makhluk yang sangat kecil. Sungguh virus ini datang sebagai peringatan. Manusia butuh panduan hidup. Bukan buatan manusia, tetapi panduan dari Pencipta yang paling tahu yang terbaik buat hamba-Nya.

Virus ini sedang bekerja meruntuhkan ideologi sekularisme yang menjadi pijakan sistem kapitalisme. Dan seperti analisis mantan menlu AS, Henry Kissinger pandemi ini akan berdampak pada runtuhnya peradaban kapitalisme dan berganti peradaban baru. InsyaAllah peradaban Islam yang sudah dijanjikan sebentar lagi datang. Wallahu a’lam bishawab.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *