Pedang Allah tak Pernah Dapat Dipatahkan Musuh

Keberhasilannya menyelamatkan pasukan Islam dalam kecamuk dahsyatnya perang Mu’tah adalah awal dari peperangannya. Sejak saat itu pertempuran demi pertempuran selalu dimenangkan.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Sebagian besar wanita Mekkah menangis pilu mendengar kematian Saifullah, Kalid bin Walid. Di sela-sela isakan tangisnya mereka berkata lirih, “Tak ada lagi wanita yang melahirkan laki-laki seperti Khalid bin Walid.” Benar, tepat 18 Ramadan 21 H sang Pedang Allah, Khalid bin Walid menghembuskan nafas terakhir di ranjangnya yang empuk.

Siapa yang tak kenal Khalid Bin Walid? Putra seorang bangsawan, Al-Walid bin Al-Mughirah keturunan bani Makhzum, sangat terpandang di kalangan kaum Quraisy pada masa Jahilliyah. Permusuhan ayahnya pada dakwah Rasulullah sangat kuat. Bahkan Walid bin Mughirahlah yang telah mengusulkan julukan keji untuk menghadang dakwah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam sebagai tukang sihir!

Namun sangat berkebalikan dengan putranya. Beliau adalah seorang panglima perang pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang termasyhur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus). Sebagai salah satu dari panglima-panglima hebat dan handal yang selalu memenangkan di setiap pertempuran.

Keberhasilannya menyelamatkan pasukan Islam dalam kecamuk dahsyatnya perang Mu’tah adalah awal dari peperangannya. Sejak saat itu pertempuran demi pertempuran selalu dimenangkan.

Namun demikian cita-cita tertinggi untuk syahid di medan perang tak pernah didapati oleh Pedang Allah. Padahal seluruh hidupnya adalah untuk memburu syahid di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Ratusan peperangan beliau datangi bak mendatangi kondangan prasmanan. Khalid bin Walid, singa Allah terus memburu syahid dalam setiap peperangan. Namun semakin diburu, justru kemenangan diraih di setiap kesempatan. Pasukan Islam semakin berani mati dan justru semakin sulit untuk dikalahkan. Kemenangan terus datang menghampiri.

Sebaliknya musuh-musuh Allah yang memerangi Islam dan kaum muslimin selalu gagal di medan perang. Mereka berusaha membuang rasa takut akan kematian dengan meminum khamr. Sehingga walaupun jumlah pasukan mereka banyak dengan persenjataan lengkap, pada hakikatnya mereka lemah dan mudah dikalahkan.

Demikianlah keberanian para mujahid, menjemput syahid semakin sulit dikalahkan. Cita-cita mati syahid bagi Saifullah, Khalid bin Walid bagai mencari jarum di atas tumpukkan jerami.

Dalam kondisi sakitnya di pembaringannya, beliau mengatakan kesedihannya pada Qais bin Sa’ad. “Mengapa aku tidak mati di medan perang?” Qais pun mengatakan, seharusnya ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberimu gelar Saifullah al Maslul (pedang Allah yang terhunus), engkau tahu bahwa pedang Allah tak akan pernah dipatahkan musuh di medan perang. Apa kata musuh-musuh Allah ketika pedang Allah berhasil mereka patahkan? Tentu mereka akan merasa menang dan sesumbar, “Lihat! Pedang Allah telah kita patahkan.” Tentu Allah tak menghendaki pedangNya dikalahkan.

Mendengar jawaban Qais Bin Sa’ad bergembiralah hati Khalid bin Walid. Walau beliau berpulang di ranjangnya yang nyaman. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *