Pelayanan Masyarakat di Tengah Wabah

Pelayanan Masyarakat di Tengah Wabah

Oleh : Oom Rohmawati
Ibu Rumah Tangga

WWW.POJOKOPINI.COM — Virus Corona di mana-mana, di desa, di kota sampai di berbagai negara. Menjadi perbincangan di setiap media dari level tertinggi sampai pada kelas bawah. Persis syair lagu Badminton yang diciptakan oleh Koko Koswara dari Tasikmalaya. Hanya bedanya Badminton disukai sedangkan Corona dihindari.

Kini setiap hari jumlah yang terinfeksi semakin meningkat, upaya-upaya pencegahan pun dilakukan seperti yang dilansir oleh pikiranrakyat.com. Pemerintah Kabupaten Bandung bersama Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) tengah melakukan video conference dengan sejumlah perangkat kecamatan di antaranya Soreang, Banjaran, Cileunyi dan Cilengkrang.

Menurut Kepala (BKPSDM) Wawan Ridwan, video conference tersebut merupakan upaya mendukung program social distancing atau physical distancing. Hal ini pun dilakukan untuk antisipasi penyebaran Covid-19 di Kabupaten Bandung.
“Ini merupakan salah satu langkah kami dalam upaya memutus rantai penyebaran virus Corona. Kita hindarkan interaksi personal namun pekerjaan dan pelayanan tetap berjalan,” terang Kepala BKPSDM di ruang kerjanya. (Selasa, 24 Maret 2020)
Dalam kesempatan itu, Wawan Ridwan mengatakan, pemantauan Aparat Sipil Negara (ASN) di kewilayahan diperbolehkan video conference sebagai langkah mengimplementasikan sistem Work From Home (WFH) yang sudah diberlakukan beberapa waktu lalu. Dari hasil VC tersebut, dia memandang himbauan Bupati Bandung itu sudah dijalankan dengan baik di kalangan ASN. Ia berharap seluruh lapisan masyarakat bisa memahami kondisi saat ini.

“Mudah-mudahan dengan sistem WFH ini, kesehatan para pelayan publik dan masyarakat setempat ikut terjaga.” Harapnya.
Namun demikian akibat dari lambannya penanganan virus Corona di pemerintah pusat, dengan masih ragunya untuk memberlakukan kebijakan lockdown, karena khawatir akan berdampak pada perekonomian.

Dampaknya, berdasarkan situs real time terkait data virus Corona di Indonesia, www.covid-19.goreng.id bahwa jumlah yang terinfeksi virus Corona sudah mencapai 2.956 kasus dengan 222 sembuh, 240 meninggal dunia. (kompas.com, Rabu 8 April 2020)
Apakah jumlah angka itu tidak besar? Tentu sangat besar, yang semula diprediksi bahwa Indonesia tidak akan terkena virus Covid-19 ini. Tetapi, itulah faktanya. Ketika pemimpin penuh perhitungan dalam mengambil kebijakannya, yang menjadi korban bukan hanya rakyat biasa. Tetapi mereka juga akan menjadi korban dari kebijakannya.

Hal di atas terjadi karena sistem yang dianut saat ini adalah sistem kapitalis dimana lebih mengedepankan kepentingan yang berkaitan dengan para kapital. Juga karena prinsip sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) sehingga apa yang dilakukannya tidak mencerminkan seorang pemimpin yang takut kelak amanahnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Padahal jelas , dari Ibnu Umar ra. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. pun bersabda:
“Imam/khalifah adalah pengurus & bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)
“Imam yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggung jawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR. Bukhari)
Padahal tuntunan Rasulullah saw.

demikian jelas tatkala terjadi wabah penyakit. Beliau saw. bersabda,
“Jika terjadi wabah tha’uun di suatu negeri, maka janganlah kalian memasuki negeri itu. Dan jika wabah itu terjadi di suatu negeri sedangkan kalian berada di negeri itu, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu.” (HR Ahmad, Musnad, Ahmad bin Hambal)
Sebagaimana dalam sistem Islam (khilafah) ketika menghadapi penyakit seperti Corona. Maka, pertama, memastikan suplai kebutuhan vital pada wilayah yang diisolasi. Agar penyakit tidak meluas, wilayah yang menjadi pusat penyakit harus diisolasi. Namun isolasi tidak boleh mengabaikan kebutuhan warga setempat.

Khilafah memastikan kebutuhan makanan, minuman, alat kesehatan pribadi (masker, hand sanitizer, dan lain-lain), bahan untuk memperkuat imunitas tubuh (baik herbal maupun kimiawi), layanan kesehatan (rumah sakit, tenaga medis, obat, alat kesehatan, dan lain-lain), layanan pengurusan jenazah dan lain-lain, tersedia secara cukup. Sehingga warga di pusat penyakit bisa cepat sembuh.

Kedua, membiayai aktivitas edukasi dan promosi hidup sehat pada masyarakat di luar wilayah pusat penyakit. Juga pengecekan pada orang-orang yang merasa mengalami gejala penyakit Corona. Termasuk aktivitas sanitasi pada tempat-tempat publik seperti playground, halte, stasiun, terminal, bandara, sekolah, toilet umum, dan lain-lain. Juga pemasangan alat pendeteksi suhu tubuh di semua titik akses masuk wilayah khilafah. Semua aktivitas ini dibiayai negara dari kas baitulmal.

Ketiga, melarang praktik ihtikar (penimbunan) pada barang apapun. Baik sembako, masker, hand sanitizer, dan lain-lain. Jika terbukti melanggar, pelaku akan diberi sanksi.

Keempat, membiayai riset untuk menemukan obat dan antivirus Corona. Jika kas baitulmal minim dan tidak mencukupi, maka Negara akan membuka kesempatan bagi warga negara yang kaya untuk sedekah dan wakaf bagi penelitian ini.

Kelima, menghentikan impor barang dari wilayah pusat penyakit, jika pusat penyakit ada di luar wilayah khilafah. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk terhadap barang tersebut. Khilafah akan memasok produk substitusinya. Misalnya gandum diganti serealia lainnya, buah impor diganti buah lokal, dan lain-lain

Keenam, melarang kapitalisasi antivirus Corona. Sehingga antivirus bisa dinikmati semua manusia tanpa ada pihak yang mencari keuntungan di tengah musibah.

Ketujuh, Memberikan bantuan sosial pada negara lain yang terdampak Corona. Baik berupa sembako, obat-obatan, antivirus, tenaga medis, dan lain-lain. Baik penduduknya muslim atau kafir.

Demikianlah gambaran kebijakan kepemimpinan dalam sistem Islam atau khilafah pada saat menghadapi ujian wabah termasuk Corona. Dengan kebijakan seperti ini, secara efektif akan memutus penyebaran virus dan mengoptimalkan upaya penyembuhan pasien dan terpenuhinya kebutuhan rakyat. Sehingga wabah seperti penyakit Corona yang mewabah sekarang ini, bisa diatasi sebelum menyebar ke seluruh dunia. Di sinilah Islam mengajarkan pentingnya kepemimpinan wajib diupayakan untuk tetap melayani rakyat, meski di tengah wabah penyakit yang membahayakan.
Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *