Pembebasan Napi: Sistem Sekuler Saatnya Undur Diri

Pembebasan Napi: Sistem Sekuler Saatnya Undur Diri

Demokrasi menuai badai. Sistem hukum sekuler ternyata hanya memproduksi lapas over kapasitas. Kejahatan terus terjadi. Efek jera tak berhasil diunggah. PBB mengeluarkan rekomendasi kontraproduktif di tengah wabah. Akibat tak punya pilihan jitu di tengah kepanikan dalam masa pandemi ini.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Menkumham menyayangkan pihak-pihak yang tidak menerima pembebasan napi di lapas over kapasitas. Dia menilai sikap seperti itu bak orang yang sudah tumpul rasa kemanusiaannya dan tidak menghayati sila kedua Pancasila. (teropongsenayan.com, 05/04/2020)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ternyata juga telah mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk membebaskan narapidana berisiko rendah. Di tengah pandemi Corona, penjara jadi tempat yang berisiko. Kerusuhan pecah di Eropa dan Amerika Latin seiring larangan kunjungan dan kekhawatiran akan Corona. Persoalannya, banyak penjara yang tak layak huni lantaran kelebihan kapasitas. Kebijakan jaga jarak alias social distancing mustahil diterapkan. (katadata.co.id, 09/04/2020)

Demokrasi menuai badai. Sistem hukum sekuler ternyata hanya memproduksi lapas over kapasitas. Kejahatan terus terjadi. Efek jera tak berhasil diunggah. PBB mengeluarkan rekomendasi kontraproduktif di tengah wabah. Akibat tak punya pilihan jitu di tengah kepanikan dalam masa pandemi ini.

Keresahan para tokoh bisa kita lihat di media. Masyarakat juga tidak kalah panik. Beredar pesan-pesan berantai untuk meningkatkan kewaspadaan. Kabar-kabar tentang kejahatan yang dilakukan oleh residivis juga saat ini semakin banyak ditayangkan.

Kondisi ekonomi hari ini sudah semakin sulit akibat social distancing. Turunnya daya beli masyarakat berdampak pada PHK besar-besaran di berbagai daerah. Stimulus yang diberikan pemerintah bagi dunia usaha tidak banyak mengurangi beban. Pengurangan karyawan tetap menjadi pilihan.

Ekses dari tingginya pengangguran saat ini saja sudah mengkhawatirkan. Apalagi ditambah pelepasan ribuan napi yang notabene pengangguran juga. Asimilasi dan integrasi menjadi tidak manusiawi untuk di masa sekarang ini.

Sistem yang didapuk dunia saat ini nyata terbukti minim solusi. Yang ada timbunan masalah diselesaikan dengan rentetan persoalan baru. Sistem demi sistem dalam ideologi sekuler kapitalis demokrasi tak berkolaborasi harmonis. Kebijakan politik tak jarang membuat sosial ekonomi terpuruk. Sektor hukum terguncang. Imbasnya terjadi kekacauan kehidupan bermasyarakat.

Saatnya dunia mempertimbangkan Islam sebagai solusi. Seperangkat aturan lengkap, berikut mekanisme penyelesaian berbagai persoalan baru, insya Allah akan mampu mengelola kehidupan dengan cermat. Seluruh sub sistemnya akan saling menopang mengokohkan bangunan pemerintahan Islam.

Inilah alasannya mengapa sering terdengar seruan penerapan Islam secara kaffah dan revolusioner. Artinya seluruh aturan Islam hanya akan efektif jika diberlakukan secara sempurna, dalam waktu yang bersamaan, serta dalam wadah yang benar. Sehingga Islam tak dapat diterapkan dalam negara demokrasi atau komunis. Islam kaffah haruslah ditegakkan dalam bingkai negara global Khilafah.

Maka kapan kita mau uninstall demokrasi sekulernya? Kalau komunis, insya Allah semua warga dunia pun tak lagi bersepakat. Ayo putuskan. Jangan terlalu lama. Agar lekas terbebas kita dari segala permasalahan pelik yang ada. Dan dunia pun segera merasakan kerahmatan Islam yang lil ‘aalamiin. Allahu Akbar.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *