Pembelajaran Daring tak Efisien, Minim Pembenahan?

Pembelajaran Daring tak Efisien, Minim Pembenahan?

Tidak terpenuhinya biaya pendidikan secara merata itulah buah dari kebijakan ala kapitalisme yang mengadopsi ideologi imperialis. Sayang sekali, semestinya penguasa bertindak bagaikan penggembala, namun itu tak pernah kita rasakan dalam sistem saat ini, ini membuktikan semakin jelas kegagalan sistem sekuler.


Oleh: Khusnawaroh (Pemerhari Masalah Pendidikan)

POJOKOPINI.COM — Pandemi virus corona yang telah menjamah Indonesia menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran mendalam. Jutaan siswa di Indonesia saat ini tak bisa belajar di sekolah. Pandemi corona membuat mereka terpaksa menimba ilmu dari rumah masing- masing. Kondisi ini dilakukan untuk menekan penyebaran virus yang telah merebak, namun di tengah sulitnya pembiayaan pendidikan dan pelaksanaan pembelajaran daring, penguasa seakan lebih fokus untuk membangun pendidikan Infrastruktur. Seperti berita yang dilansir Zonasultra.com, Kendari, sektor pendidikan di kota Kendari kebagian Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dari pemerintah pusat senilai Rp32 miliar pada tahun 2020 ini.

Hal inipun telah disosialisasikan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikmudora) Kota Kendari kepada 63 kepala sekolah TK, SD, SMP yang berada di Kota Kendari, terkait alokasi dana pada Kamis (23/7/2020) di Kendari.

Sehubungan dengan itu, Kepala Dikmudora Kota Kendari Sartini Sarita mengungkapkan dana ini digunakan untuk pembangunan sejumlah item di antaranya, rehab bangunan kelas baru, rehab toilet guru dan siswa, rehab ruang guru, pembangunan gedung UKS dan ruang inklusi.

Dana alokasi sektor pendidikan khusus (DAK) fisik dari pemerintah yang senilai 32 M , memang merupakan kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah daerah untuk lebih meningkatkan pembangunan Infrastruktur pendidikan, dan merupakan bentuk peran pengampu kebijakan dalam meningkatkan mutu pendidikan anak bangsa.

Namun ketika kita menelaah kembali tentang kondisi saat ini, yang begitu sangat memprihatinkan dampak dari covid 19 tidak hanya berdampak pada lemahnya sektor ekonomi namun juga berdampak pada sektor pendidikan. Berbicara pendidikan sama halnya berbicara tentang masa depan suatu bangsa, inilah mengapa pendidikan harus senantiasa mendapat perhatian khusus agar masa depan suatu bangsa dapat terjamin, bila tidak maka akan menyebabkan ancaman serius terhadap keberlangsungan suatu bangsa. Inilah yang kita tengah hadapi disaat situasi corona yang berpotensi mengancam sektor pendidikan.

Kebijakan menutup sekolah terpaksa diambil dan telah berlangsung pembelajaran daring. Sesuai dengan surat edaran menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 36962/MPK.A/HK /2020. Salah satu poin penting dalam surat itu adalah siswa dapat belajar di rumah melalui konferensi vidio, dokumen , digital dan sarana daring lainnya.

Terkait dengan itu, ketua umum pengurus besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI ) Profesor Unifah Rosyidi menilai bahwa ada beragam pembenahan yang perlu dilakukan pemerintah terkait pembelajaran dirumah, pertama, kepastian akses internet dan listrik, terutama di daerah pelosok .

Jelas hal tersebut merupakan suatu masalah yang seharusnya menjadi perhatian utama saat ini, dan dirasa sangat kurang bijak ditengah pandemi sektor pendidikan mendapatkan asupan dana alokasi, dana ini digunakan untuk kelengkapan fasilitas sarana dan prasarana sekolah bangunan dan lainnya, namun dapat dilihat bahwa dalam kondisi saat ini, dana tersebut menjadi salah sasaran karena tidak sesuai dengan apa yang paling urgen untuk segera dipenuhi masih banyak siswa yang harus mengikuti sekolah secara virtual tapi masih terkendala biaya kuota internet dan juga kesiapan handphone android yang tidak semua siswa memilikinya.

Tidak semua wilayah di negeri ini memiliki sarana dan prasarana yang memadai, kebijakan untuk memberlakukan belajar online ternyata menemui banyak keluhan karena sarana dan prasarana yang tidak dapat menunjang belajar online. Keluhan tidak ada jaringan internet karena wilayah pedalaman atau keterbatasan biaya dalam membeli kuota internet masih menjadi polemik ditengah pandemi covid19.

Pembelajaran daring seakan semakin menampakkan bahwa “orang miskin dilarang sekolah” pendidikan hanya dapat diakses oleh segelintir orang saja dibangku sekolah, dengan sekolah atau kuliah daring setiap anak bangsa harusnya dapat menikmati pendidikan tanpa diskriminasi.

Betapa tidak, bagaimana dengan saudara- saudara kita yang berada di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Papua? Jangankan memiliki handphone, listrik pun jarang hidup apalagi internet.

Sungguh miris kondisi pendidikan saat ini, dimana pandemi virus corona telah menyebabkan darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga membangun infrastruktur pada saat pandemi belum teratasi adalah hal yang belum mendesak. Masyarakat belum bisa mengoptimalkan penggunaan infrastruktur tersebut akibat masih adanya virus yang mematikan.

Alangkah bijak jika penguasa dapat mengatasi itu semua dengan memberikan dana alokasi sektor pendidikan dalam hal pemenuhan Infrastruktur listrik, internet dan berbagai perangkat pendukung pembelajaran daring hingga kepelosok negeri. Sebab mengingat bahwa telah berbulan bulan anak- anak negeri ini terpisah dari pembelajaran secara langsung ,pembelajaran daring pun menuai banyak polemik , entah sampai kapan pandemi virus corona ini berakhir .

Di samping banyaknya keluhan – keluhan di masyarakat para borjuasi sedang berpesta pora menikmati harta kekayaan yang senantiasa bertambah.

Namun kondisi ini memang menjadi hal yang biasa dalam sistem kapitalis, kebijakan yang tidak tepat sasaran menjadi kenikmatan tersendiri bagi para pemangku kebijakan, masyarakat semakin terlantar dengan kesengsaraan , sungguh sistem ini tak mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya, kapitalisme telah merusak pendidikan anak bangsa.

Mayoritas yang tidak dapat mengakses pendidikan maupun pendidikan lanjutan datang dari rakyat pekerja. Merekalah yang tergencet oleh peningkatan biaya pendidikan dari tahun ke tahun sedangkan di sisi lain kaum kaya bisa menikmati pendidikan yang berkualitas.

Rakyat kecil semakin tertindas, rakyat pekerja, upah dan kondisi kerja yang tidak layak, serta berbagai persoalan lainnya, Demikian juga nasib buruh tani miskin di pelosok-pelosok desa. Kondisi kemiskinan ini membuat mereka semakin tidak mungkin mengakses pendidikan, apalagi untuk pembelajaran daring saat ini, untuk kebutuhan sehari hari saja susah apalagi untuk membeli paket internet.

Ini semua terjadi sebab kita telah dipisahkan dari sistem Islam. Sistem yang telah memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya. Dan jika negeri ini tetap melaksanakan sistem kapitalis maka masalah pendidikan tak akan pernah terselesaikan.

Tidak terpenuhinya biaya pendidikan secara merata itulah buah dari kebijakan ala kapitalisme yang mengadopsi ideologi imperialis. Sayang sekali, semestinya penguasa bertindak bagaikan penggembala, namun itu tak pernah kita rasakan dalam sistem saat ini, ini membuktikan semakin jelas kegagalan sistem sekuler saat ini.

Berbeda dengan sistem kapitalis sekuler , dalam Islam pembiayaan pendidikan untuk seluruh tingkatan sepenuhnya merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara.

Ringkasnya, dalam Islam pendidikan disediakan secara gratis oleh negara (Usus Al-Ta’lim Al-Manhaji, hal. 12).

Mengapa demikian? Sebab negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tak langsung, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman Al-Maliki, 1963).

Dalilnya adalah As-Sunnah dan Ijma’ Sahabat. Nabi SAW bersabda :
Imam adalah bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas gembalaannya itu.” (HR Muslim).

Ijma’ Sahabat juga telah terwujud dalam hal wajibnya negara menjamin pembiayaan pendidikan. Khalifah Umar dan Utsman memberikan gaji kepada para guru, muadzin, dan imam sholat jamaah. Khalifah Umar memberikan gaji tersebut dari pendapatan negara (Baitul Mal) yang berasal dari jizyah, kharaj (pajak tanah), dan usyur (pungutan atas harta non muslim yang melintasi tapal batas negara) (Rahman, 1995; Azmi, 2002; Muhammad, 2002).

Sejarah Islam pun telah mencatat kebijakan para khalifah yang menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarananya yang dibutuhkan.

Pada era Khilafah Utsmaniyah, Sultan [Khalifah] Muhammad Al-Fatih (w. 1481 M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstantinopel (Istanbul) Sultan membangun delapan sekolah. Di sekolah-sekolah ini dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu (Shalabi, 2004).

Dengan Islam rakyat akan memperoleh pendidikan formal yang gratis dari negara. Sistem pendidikan formal yang diselenggarakan dalam sistem islam yakni negara Khilafah memperoleh sumber pembiayaan sepenuhnya dari negara (Baitul Mal). Dalam sejarah, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sumber pembiayaan untuk kemaslahatan umum (termasuk pendidikan), berasal dari jizyah, kharaj, dan usyur (Muhammad, 2002).

Walhasil, itulah gambaran sejarah Islam tuk menangani masalah pendidikan, yang senantiasa selalu memberikan kemudahan bagi umat untuk meraih pendidikan yang sangat penting dalam kehidupan, dan tentunya selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mendesak yang harus terlebih dulu dipenuhi sehingga kebijakan – kebijakan pemimpin dalam islam selalu tepat sasaran, tanpa membedakan siapa yang kaya dan yang miskin, semua dirangkul dalam dekapan hangat daulah islam yang menerapkan syariat Allah swt. sesungguhnya hanya sistem islamlah yang mampu memimpin manusia dalam kehidupan ini. Wallahu a’lam bissawab.[]

Picture source by Google

isclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *