Pembiasaan Jilbab, Ranah Domestik Keluarga Muslim

Pembiasaan Jilbab, Ranah Domestik Keluarga Muslim

Padahal pengetahuan pertama seorang anak ada di dalam rumahnya dengan ibu sebagai madrasatul ula’ (madrasah pertama) yang akan memberikan pendidikan sesuai dengan aturan Islam.


Oleh : Ageng Kartika, S.Farm (Pemerhati Sosial)

POJOKOPINI.COM — Dalam Islam, anak adalah amanah yang dititipkan Allah kepada hamba-Nya untuk dididik dan diasuh sesuai dengan syariat Islam tanpa kecuali. Untuk dapat mendidik anak maka setiap orang tua harus memiliki ilmu dan pemahaman tentang syariat Islam. Sehingga pengasuhan dan pendidikan yang diberikan akan membentuk generasi yang gemilang yang bersyakhsiah Islamiyah (berkepribadian Islam).

Nabi saw. bersabda,

Seseorang mendidik anaknya itu lebih baik baginya dari pada ia menshadaqahkan (setiap hari) satu sha’.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dari sahabat Jabir bin Samurah r.a.

Ketika amanah tersebut adalah seorang anak perempuan, maka ada aturan syara’ yang menyertai dalam pendidikan dan pengasuhan baginya yaitu salah satunya dengan menutup
auratnya ke seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sesuai dengan firman Allah:

يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ
فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya:
Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al Ahzab ; 59)

Begitu jelas perintah yang menunjukan kewajiban bagi seorang muslimah untuk menjaga marwah dirinya dengan menutup aurat sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukankah sebagai seorang muslim kita harus taat dan menjalankan semua perintah Sang Pencipta dan utusan-Nya.

Tapi ternyata di era sekularisme -liberalisme, aturan menutup aurat bagi muslimah ini dijadikan parameter untuk muslimah memilih apakah ingin menutup auratnya dengan sempurna, sebagian atau tidak sama sekali. Karena bagi pemikiran sekuler-liberal berpakaian sesuai syariat itu adalah pilihan hidup bukan suatu kewajiban.

Salah satu akun sosial media bercentang biru, @dw_indonesia milik Deutsche Welle (Gelombang Jerman) yang berada di Indonesia, kali ini menjadi bulan-bulanan netizen karena mencoba untuk “mengusik” persoalan pelajaran akidah kepada anak-anak perempuan yang menggunakan jilbab, oleh orang tua mereka.

Di lansir oleh halaman twitter dengan akun @dwnews, pada tanggal 25 Spetember 2020, memposting tentang : apakah anak-anak yang dipakaikan #jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kenakan. Di sana disertakan dengan video yang berisi pendapat para orang tua yang membiasakan anak perempuannya berpakaian muslimah dan berjilbab.

Untuk memperkuat opini @dwnews, ada ulasan dan pendapat dari ahli psikologi tentang pembiasaan ini akan mengakibatkan bingung identitas bagi anak ketika berada di lingkungan berbeda, dan akhirnya dilepaslah jilbab tersebut. Penggiringan opini ini tidak disertakan dari alim ulama dan cendikiawan Muslim yang mumpuni. Dalam arti tidak berimbang pendapat yang mereka tampilkan (Geloranews, 26/09/20).

Tentu saja pernyataan ini menjadi blunder bagi @dwnews karena telah berani mengotak-atik salah satu ajaran Islam yang sudah jelas tercantum dalam kitabullah dan sunah bahwa muslimah berkewajiban untuk menutup auratnya dengan sempurna.

Maka serangan dari netizen pun tidak terelakan. Banyak komentar yang menentang pernyataan tersebut, karena bukan ranahnya dalam mempertimbangkan ajaran Islam untuk dibenturkan dengan idealisme liberal yang nyata memang bertolak belakang. Pembiasaan sejak kecil justru akan menjadi kebiasaan yang dengan sukarela bagi anak di kemudian hari untuk menutup auratnya dengan baik, sebagian besar netizen mengemukakan demikian.

Bahkan ada yang berpandangan bahwa postingan tersebut dianggap konten islamofobia. Menurut anggota DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, “Liputan ini menunjukkan sentimen islamofobia dan agak memalukan untuk kelas @dwnews”.

Menanggapi hujatan warganet, DW Indonesia membela diri. Ia menyebutkan bahwa konten tersebut sudah berimbang.
Terima kasih atas perhatian Anda pada konten video DW Indonesia, yang menurut kami sudah berimbang, imparsial dan akurat. DW mendorong kebebasan berpendapat dan diskusi terbuka, selama sifatnya adil dan tidak diskriminatif atau berisi hinaan terhadap siapa pun,” sebutnya (algaya.pikiran-rakyat.com, 26/09/20).

Beginilah realitas di tengah masyarakat ketika aturan Islam tidak mengikat dalam kehidupan bernegara. Ajaran-ajaran Islam yang merupakan kewajiban dihukumi fardhu ‘ain seperti berjibab dengan sempurna justru dijadikan perdebatan seakan-akan bukan menjadi kewajiban utama bagi pendidikan anak dalam pengasuhan orang tuanya.

Padahal pengetahuan pertama seorang anak ada di dalam rumahnya dengan ibu sebagai madrasatul ula‘ (madrasah pertama) yang akan memberikan pendidikan sesuai dengan aturan Islam. Sebagaimana seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut:

Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”.
Artinya: Ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Dan sosok ayah yang bertindak sebagai kepala keluarga akan mendukung perkembangan dan pemahaman anak agar tetap dalam koridor Islam.

Maka pemakaian jilbab dan pembiasaan anak menutup aurat adalah ranah domestik keluarga muslim. Otoritas keluarga muslim, dengan hak penuh untuk menjalankan proses pengasuhan, pendidikan dan pembiasaan syariat Islam sejak dini. Jelas, kesia-sian bagi yang merongrong ajaran Islam, karena sejatinya keluarga muslim akan menjaga generasinya untuk taat syariat. Wallahu a’lam bishawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *