Pemimpin Gemar Maksiat Mengundang Azab

Pemimpin Gemar Maksiat Mengundang Azab

Budayawan Jawa Tengah, Timur Sinar Suprabana mengkritik Ganjar soal kesukaan menonton film porno. Menurutnya, sikap Ganjar tersebut jelas tidak etis. “Tanpa beban mengakui kesalahan ya tidak ada masalah. Tetapi kalau tanpa beban mengakui itu secara terang-terangan dan cengengesan, itu sakit,” tambahnya.

Oleh : Aisyah Karim

WWW.POJOKOPINI.COM — Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, blak-blakan mengaku suka menonton film porno. Hal itu diungkapkan oleh Ganjar saat menjadi bintang tamu dalam kanal YouTube, Deddy Corbuzier. Video perbincangan Ganjar Pranowo dan Deddy Corbuzier pun akhirnya menjadi viral. Kontroversi terjadi di masyarakat karena mempertanyakan kepribadian seorang pemimpin seperti Ganjar.

Budayawan Jawa Tengah, Timur Sinar Suprabana mengkritik Ganjar soal kesukaan menonton film porno. Menurutnya, sikap Ganjar tersebut jelas tidak etis. “Tanpa beban mengakui kesalahan ya tidak ada masalah. Tetapi kalau tanpa beban mengakui itu secara terang-terangan dan cengengesan, itu sakit,” tambahnya.

Ganjar berucap “Kalau saya nonton film porno salahnya dimana? Toh saya sudah dewasa. Sudah punya istri”. Singkatnya Ganjar menyampaikan ini urusan saya, mata saya, pikiran saya, my body my choice atau my body my authority, meminjam slogan kaum feminis. Bagi Ganjar biasa saja membuka aib pribadinya di hadapan publik. Karena dalam pandangannya, menyukai tontonan porno adalah haknya. Yang penting tidak merugikan pihak lain. Tentu saja pernyataan ini sangat berbahaya.

Ganjar tidak hanya membuka aibnya, namun bangga dengan maksiat yang dilakukannya. Padahal bangga lantaran telah melakukan sebuah dosa adalah sebuah ‘pernyataan langsung’ bahwa seseorang berani menantang Allah SWT. Suatu hari, Rasulullah SAW mengingatkan, “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali  orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa.”

Didalam riwayat yang lain Rasulullah SAW menyampaikan ciri antara kebaikan dan dosa. “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkan kepada orang lain” (HR. Muslim).

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan bahwa barang siapa yang berkeinginan untuk menampakkan kemaksiatannya, maka dia telah menyebabkan Tuhannya marah kepadanya. Ini yang menyebabkan pelaku perbuatan ini telah mengharamkan bagi dirinya sendiri ampunan Allah SWT.

Di samping itu, terang-terangan dalam kemaksiatan juga akan menyebabkan tersebarnya kemungkaran di antara manusia. Konon pula jika kemaksiatan itu dilakukan oleh seorang pemimpin. Ganjar seolah mengumumkan kepada seluruh pemirsa yang menontonnya, khususnya kepada rakyat yang dipimpinnya bahwa menonton film porno itu boleh karena seseorang sudah dewasa beristri pula. Silahkan kepada semua untuk meniru perilakunya, berbuat maksiat tak perlu malu, biasa saja.

Sebagai orang beriman, seperti dikatakan sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud r.a “Hendaklah seseorang melihat dosa-dosanya seolah-olah ia duduk di bawah gunung besar, ia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang suka berbuat dosa, dosanya seperti lalat yang lewat di atas hidungnya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan dosa, seperti kaum yang singgah di perut lembah. Lalu seseorang datang membawa ranting dan seorang lainnya lagi datang membawa ranting, sehingga mereka dapat menanak roti mereka. Kapan saja orang yang melakukan suatu dosa menganggap remeh suatu dosa, maka itu akan membinasakannya.”  (HR Ahmad).

Yang mengejutkan adalah ternyata bukan sekali itu saja Ganjar mempropagandakan menonton konten porno. Gubernur Jawa Tengah ini juga punya kisah viral yang lain ketika memberi sebuah laptop kepada seorang siswa yang secara jujur mengakui pernah menonton video porno.

Melalui perilakunya Ganjar mengisyaratkan bahwa dirinya sosok liberal sejati. Dewasa dalam idiologi liberal memang berarti boleh menonton film porno, boleh minum alkohol, semua boleh. Karena hidupku milikku. Liberal sendiri artinya bebas. Penganut idiologi liberal harus memastikan hak dan kebebasannya terjamin.

Liberalisme telah dipropagandakan secara massif terhadap kaum muslim, untuk mengubah sudut pandang mereka. Penerapan liberalisme melalui kapitalisme telah nyata menyengsarakan rakyat. Propaganda ini menyasar segala aspek, baik pemerintahan, ekonomi, politik, teknologi informasi, kesehatan, pendidikan, bahkan seni budaya. Propaganda busuk liberalisme dibungkus demikian cantik, melalui hiburan dan tontonan, misalnya. Namun racun yang disuntikkannya mampu mematikan hati dan memadamkan iman.

Liberalisme inilah yang kemudian disebut sebagai liberalisme agama, yakni adanya kebebasan menganut, meyakini dan mengamalkan apa saja, sesuai dengan selera masing-masing. Liberalisme telah mereduksi agama dari ruang publik menjadi urusan privat. Ketika seorang pezina tetangkap, maka ia tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan suka sama suka. Konsep amar ma`ruf nahi mungkar dinilai tak lagi relevan, dianggap bertentangan dengan hak azasi dan semangat liberalisme.

Inilah perwujudan dari prinsip liberalisme yang paling mendasar, yakni pernyataan bahwa tunduk pada otoritas apapun namanya bertentangan dengan hak azazi, kebebasan dan harga diri manusia. Yakni otoritas yang akarnya, aturannya, ukurannya, dan ketetapannya ada di luar dirinya.

Pertanyaan selanjutnya, benarkah manusia memiliki otoritas terhadap diri dan tubuhnya? Faktanya manusia tidak memiliki kekuasaan yang penuh atas dirinya. Ia tak dapat memilih dilahirkan oleh siapa, warna rambut dan matanya bagaimana, bahkan ia tak dapat menunda kematiannya meski sedetik, ketika ajalnya telah tiba.

Hidup dan tubuh ini serta apa saja yang tersedia di sekelilingnya adalah milik Allah. Maka wajar jika Allah menetapkan pornografi itu haram, khamar itu haram, zina itu haram dan lain sebagainnya. Aturan inilah yang disebut syariah Islam. Adalah sebuah kesombongan ketika manusia tidak mau berhukum kepada syariat dari penciptanya.

Pemahaman tentang hakikat kehidupan ini akan menentukan keselamatan ataukah kehancurannya. Bahwa manusia, apabila telah baligh maka ia menanggung semua konsekwensi perbuatannya dengan pahala dan dosa. Ketika ia menjabat sebagai pejabat publik yang keputusannya mempengaruhi orang lain. Bisa saja ucapannya mendorong orang lain mencontoh dan berbuat serupa, maka kedunguannya akan hakikat kehidupan akan mengalirkan dosa jariah yang terus mengalir.

Untuk itu, agar kemungkaran tidak merajalela, agar dosa tidak melebar dan paling tidak untuk mencegah azab Allah. Tidak ada jalan kecuali meninggalkan perbuatan dosa itu. Menjauhi segala sesuatu yang haramkan dan kemaksiatan adalah sebuah keharusan keimanan. Sebab mendekati sumber kemaksiatan hanya akan menimbulkan gejolak syahwat, keguncangan dan kegelisahan jiwa, serta berpeluang ikut terjatuh kepada lembah kemaksiatan.

Kebiasaan bermaksiat dapat menimbulkan prasangka buruk orang lain, melemahkan iman dan kehilangan kebencian kepada kemaksiatan serta terancam meninggal dalam su’ul khatimah (akhir kematian yang jelek). Sementara bagi mereka yang mengetahui adanya kemaksiatan di sekitarnya, berkewajiban menjauhinya, tidak ikut di dalamnya, serta berusaha mencegahnya.

Rasulullah SAW menegaskan :
Barangsiapa melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu, ubahlah dengan lisannya, dan jika dia tidak mampu, ubahlah dengan hatinya.”  (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi).

Selanjutnya, agar tidak terjebak kembali ke dalam kubangan maksiat, maka perkuatlah dengan banyak bergaul dengan orang-orang shalih. Walaupun mungkin tidak akan dapat mencapai kedudukan mereka dalam amal shaleh. Namun paling tidak dapat kecipratan kebaikan-kebaikannya. 

Namun yang terpenting diatas segalanya adalah mengambil peran untuk berjuang menegakkan kembali sistem sahih Khilafah Rasyidah, yang dipenuhi didalamnya oleh para pemimpin yang takut kepada Allah. Jangankan berbuat maksiat, sedikit saja sikapnya tergelincir ia akan sangat mengkhawatirkannya.

Rasa takut kepada Allah telah menggerakkan Umar bin Khattab r.a berjalan dimalam hari mengelilingi negeri untuk memantau terpebuhinya kebutuhan rakyat. Ia membatalkan pengangkatan seorang wali hanya karena si wali tidak bersikap lemah lembut kepada keluarganya. Seseorang yang tidak berlemah lembut dengan keluarganya, bagaimana hendak berkasih sayang kepada rakyatnya. Rasa takut kepada Allah pula Umar membatalkan niat untuk berhutang selembar pakaian bagi anaknya di Baitul Mal. Rasa takut kepada Allah juga telah menyebabkan Umar demikian selektif memilih para wali-walinya, agar mereka dapat meriayah rakyat dengan sebaik-baik pengriayahan.

Generasi berikutnya, Umar bin Abdul Aziz, seorang Khalifah kedelapan dari bani Umayyah mengucap Innalillahi wainna ilaihi raji`un setelah pembaitannya. Beliau amat takut dengan amanah yang disematkan kepadanya. Pemimpin yang demikianlah yang akan memenuhi kepemimpinannya dengan berkah dan rahmat yang tercurah dari langit dan bumi, menjadi baldatun thayyibatul warabbun ghafur.[]


Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *