Pencemaran Lingkungan, Dampak Peradaban Kapitalisme Sekuler

Alih-alih mencari solusi untuk mengatasi persoalan ini, penguasa justru seolah menutup mata adanya kenakalan para pelaku usaha. Tak peduli lagi tangan-tangan rakus itu menjamah, merusak setiap inci kelestarian lingkungan yang dimiliki bumi.


Oleh: Ummu Zhafira (Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Air sebagai sumber kehidupan. Tanpa air manusia tak bisa mempertahankan kehidupannya. Namun sayang, tangan-tangan rakus tak lagi memedulikan. Keberadaan sumber kehidupan itu kini dalam ancaman.

Kali Bekasi kembali tercemar limbah berbentuk busa. Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) Puarman mengatakan pencemaran tersebut terjadi sejak Rabu (11/11/2020) lalu. Hal ini kemudian berdampak pada terganggunya distribusi air bersih yang dikelola oleh PDAM Tirta Patriot. Limbah busa diduga berasal dari usaha laundry yang beroperasi di pinggir Sungai Cikeas (Tribunnews.com, 14/11/2020).

Menanggapi hal ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi mengaku belum menerima surat laporan dari Relawan Komunitas Save Kali Cikarang, terkait adanya pihak perusahaan yang merusak lingkungan dari pembuangan limbah. Sementara itu, pihak Relawan Komunitas Save Kali Cikarang menyampaikan bahwa mereka sudah melaporkan kasus tersebut sekitar dua bulan lalu (radarbekasi.id, 25/11/2020). Relawan yang bergerak di bidang lingkungan hidup itu pun mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi untuk tegas terhadap perusahaan yang merusak alam akibat pembuangan limbah hasil produksi ke kali atau sungai.

Kasus pencemaran air seperti ini bukan kali pertama terjadi di Kali Bekasi. Sudah sejak beberapa tahun lalu, aliran kanal buatan yang terhubung hingga Laut Jawa ini tercemar limbah industri. Hal ini tentu saja merupakan imbas dari mengguritanya industri yang kian tak tekendali.

Tak ada tindakan tegas bagi perusahaan nakal yang sengaja membuang limbah ke sungai, meskipun dampak buruknya sudah dirasakan masyarakat luas. Bahkan terakhir, pendistribusian air oleh PDAM terhambat. Bagaimana mungkin pemerintah melakukan tindakan tegas, jika roda perekonomian bertumpu pada sektor ini?

Inilah realitas kegagalan peradaban sekuler yang melahirkan sistem kapitalisme. Watak sistem kehidupan yang selalu berorientasi pada keuntungan materi. Penguasa hanya memedulikan kepentingan para pemilik modal, pengusaha.

Alih-alih mencari solusi untuk mengatasi persoalan ini, penguasa justru seolah menutup mata adanya kenakalan para pelaku usaha. Tak peduli lagi tangan-tangan rakus itu menjamah, merusak setiap inci kelestarian lingkungan yang dimiliki bumi.

Siapa yang dirugikan? Bukankah manusia itu sendiri yang akan menanggung akibatnya? Ketika lingkungan semakin kritis, maka kondisi kehidupan manusia pun tak kan lagi terasa manis. Kepahitan demi kepahitan justru harus ditelan, karena biar bagaimanapun manusia harus hidup berdampingan dengan lingkungan.

Manusia dilahirkan di dunia untuk mengemban tugas sebagai pengelola bumi. Menjaga kelestariannya merupakan wujud rasa syukur kepada Rabb-nya. Allah telah menciptakan manusia beserta lingkungan dengan segala potensi yang ada demi memenuhi segala kebutuhannya.

Dengan amanah itu, semestinya manusia menjaga kelestarian lingkungan tanpa sedikitpun merusaknya. Negara pun hadir untuk melaksanakan fungsinya sebagai periayah urusan umat. Setiap warga diperbolehkan melakukan usaha tanpa merusak lingkungan yang ada. Menerapkan hukum-hukum Allah tanpa melihat adanya manfaat yang didapatkan. Bukan soal untung dan rugi. Tapi soal rida Allah yang harus digenapi.

Jika pun ada pelaku usaha yang tetap zalim melanggar peraturan yang ada, maka negara wajib menindak tegas. Bisa dengan membekukan ijin usaha sementara atau bahkan melarang perusahaan dengan limbah industri berbahaya beroperasi seterusnya. Wallahu a’lam bishawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *