Pendidikan Berjaya, Karena Islam Ada

Pendidikan Berjaya, Karena Islam Ada

Melihat kejadian di atas membuat miris dan geram. Kejadian yang seolah terus berulang setiap tahunnya. Ada saja suguhan yang mencengangkan dari dunia pendidikan kita saat ini. Lantas yang patut dipertanyakan adalah mengapa hal yang demikian terus terjadi di negeri ini? Dan harus menunggu berapa korban lagi sehingga kita sadar bahwa dunia pendidikan perlu perombakan yang signifikan agar tercipta generasi emas (cemerlang). Yang nantinya mampu menjadi penerus bangsa yang diandalkan. Oleh: Mulyaningsih, S.Pt (Pemerhati anak, Remaja dan Keluarga) WWW.POJOKOPINI.COM — Dunia pendidikan seolah terus saja berduka, setiap tahunnya pasti selalu ada kejadian yang membuat kita geleng-geleng kepala atau bahkan menangis karenanya. Entahlah karena sikap atau aktivitas para siswa yang diluar batas kewajaran, sisi narkoba yang menyelimutinya atau bahkan tindakan kriminal lainnya. Belum lama ini, publik dihebohkan dengan berita penikaman guru yang dilakukan oleh muridnya sendiri. Alexander Warupangkey (54) adalah seorang guru SMK Ichtus di Manado, Sulut. Ia tewas dalam penanganan medis setelah ditikam muridnya berinisial FL (17) yang tidak terima ditegur karena merokok di lingkungan sekolah. Korban dibawa ke RS (Rumah Sakit) Angkatan Udara, sempat dirujuk ke RS Malalayang (Manado) dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Kronologis kejadiannya penikaman bahwa AW (guru) melihat FL merokok di lingkungan sekolah. Kemudian sang guru menegurnya dan berkata bahwa jika tidak terima dengan tegurannya tersebut maka silahkan lapor kepada orang tua.saat itu FL sangat emosi, dia mengambil pisau yang diambilnya di rumah dan langsung menikam sang guru. “Dari hasil pemeriksaan enam saksi yang ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara), kepolisian akhirnya menetapkan satu tersangka baru, yakni OU (17), yang ikut mengeroyok korban ketika pelaku FL melakukan aksi penikaman,” ujar Kapolresta Manado Kombes Benny Bawensel saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/10/2019). Polisi akan menggelar rekonstruksi ulang kasus penikaman guru SMK di Manado. Kondisi psikologis kedua tersangka juga akan diperiksa agar mengetahui kondisi si anak (detik.com, 26/10/2019). Sebelum kejadian tersebut, Presiden Jokowi telah mengumumkan sosok yang akan membantunya di periode 2019-2024. Salah satunya, kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diberikan kepada Nadiem Makarim.
Kejadian ini tidak sekali dua kali saja, bahkan terjadi beberapa kali. Masih segar diingatan kita kasus guru Budi yang terjadi di daerah Sampang-Madura. Sang guru dibunuh oleh siswanya sendir. Belum lagi kasus yang terjadi di daerah Pontianak. Hanya karena ditegur karena asik main game online saat pelajaran berlangsung, si guru mendapatkan pukulan dari si murid yang ditegur tadi. Bukannya meminta maaf kepada dia malah memukuli guru tersebut dengan kursi. Nauzdubillah, mungkin itulah kata-kata yang pantas untuk menggambarkan kondisi siswa saat ini. Lantas kemudian timbullah pertanyaan dalam benak kita, inikah yang kita inginkan pada generasi remaja sekarang? Akankah masa depan gemilang dan kejayaan akan kembali diraih, jika kondisi kaum remajanya sangat memprihatinkan seperti gambaran di atas?. Melihat kejadian di atas membuat miris dan geram. Kejadian yang seolah terus berulang setiap tahunnya. Ada saja suguhan yang mencengangkan dari dunia pendidikan kita saat ini. Lantas yang patut dipertanyakan adalah mengapa hal yang demikian terus terjadi di negeri ini? Dan harus menunggu berapa korban lagi sehingga kita sadar bahwa dunia pendidikan perlu perombakan yang signifikan agar tercipta generasi emas (cemerlang). Yang nantinya mampu menjadi penerus bangsa yang diandalkan. Ini merupakan potret buram dunia pendidikan sekarang. Generasi remaja sekarang hanya mementingkan permasalahan dunia semata tanpa mau berpikir untuk hari kemudian. Berbagai permasalahan diatas bisa terjadi karena memang adanya pemahaman pemisahan antara Islam dengan masalah dunia. Itulah yang dinamakan dengan sekulerisme, yang subur dan mengakar di dunia pendidikan sekarang bahkan hampir di seluruh negeri yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. Penanaman ide sekulerisme pada setiap sekolah membuat para pelajar akhirnya jauh dari al Qur’an. Dengan begitu yang terjadi adalah tercerabutnya ilmu dari pola pikir manusia yang berdampak pada menyingkirkan wahyu Allah sebagai dasar utama pendidikan. Jika pemikiran manusia jauh dari wahyu maka sangat berpengaruh kepada pola sikap dan kepribadiannya secara keseluruhan. Sekulerisasi pada ilmu pengetahuan akan memfasilitasi mudahnya pemikiran-pemikiran asing masuk di benak kaum terpelajar. Pemikiran asing yang muncul akan menjadi bahan bakar kemunafikan, sehingga ditengah-tengah umat akan bermunculan kaum munafik. Karena seyogyanya pemikiran yang ada dibenak mereka pastilah bertentangan dengan Aqidah Islam. Belum lagi arah pendidikan yang akan dibentuk adalah mencetak generasi yang siap bekerja. Hal ini sejalan dengan pemilihan menteri pendidikan untuk periode 2019-2024. Presiden Jokowi meminta Nadiem Makarim untuk membuat terobosan di dunia pendidikan. Ia ingin pendiri Gojek itu menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) siap kerja dan usaha (kumparan.com, 23/10/2019). Sejatinya bukan hanya ilmu pengetahuan yang harus didapatkan oleh para siswa ketika menuntut ilmu. Perlu adanya ilmu agama yang mempuni agar dapat dijadikan landasan untuk melakukan seluruh aktivitas kehidupannya. Telah terbukti bahwa tanpa adanya landasan yang benar, maka perilaku para siswa tak lagi mencerminkan layaknya seorang yang berpendidikan. Sejarah Telah Menorehkan Fakta sejarah menyebutkan bahwa dahulu Islam pernah berjaya selama 13 abad lamanya. Kala itu semuanya maju, termasuk dalam dunia pendidikannya. Banyak dari kaum muslim yang berhasil menemukan karya-karya terbaik mereka, yang akhirnya bisa dimanfaatkan oleh manusia secara umum. Semua itu ternyata tak lepas dari adanya dukungan (peran) negara dan sistem yang mempuni. Pada saat itu, dunia pendidikan berbasis pada aqidah Islam. Hal tersebutlah yang mengantarkan semua insan muslim untuk menuntut ilmu tanpa mengenal batas usia, suku dan asal. Mereka dipacu untuk bisa melahirkan karya-karya yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang. Tokoh-tokoh muslim juga banyak yang menjadi penemu tersohor. Contohnya adalah Al kawarizmi beliau menemukan angka nol, Al Haysam penemu konsep optik. Dalam Islam orang-orang yang berilmu pastilah dia juga akan menjadi seorang ulama yang mempunyai tingkat ketaqwaan yang sungguh luar biasa. Sebagai contoh adalah sosok Imam al-Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Hanafi al-Ghazali, Ibnu taymiyah dan masih banyak yang lainnya. Mereka semua adalah sosok ulama yang dikagumi oleh umat dan menjadi teladan. Benteng Siswa Keimanan, itulah benteng yang sebenar-benarnya. Jika keimanan seseorang telah kuat maka insyaAllah dia tidak akan mau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Islam. Dengan akal serta keimanan yang kuat maka akan membuat pelajar berbeda dengan yang lainnya. Segala tindak-tanduknya selalu bersandar pada Islam tadi, termasuk baik-buruk, terpuji-tercela harus bersandar padanya (Aqidah Islam). Begitulah gambaran Islam mengatur masalah tersebut. Dengan begitu maka ia menjadi sosok ahli ilmu dan ibadah. Ibarat cahaya yang selalu menerangi dikala gelap telah menyapa. Itulah hakekat sebenarnya pelajar. Dalam hal ini, keimanan yang pertama kali dia dapatkan dirumah, berarti orang tua wajib hukumnya untuk memberikan bekal yang cukup kepada anak-anaknya. Dengan begitu maka setidaknya ada bekal awalan bagi mereka untuk berinteraksi dengan yang lain. Kemudian ketika berada di sekolah, berarti keiman harus tetap diberikan. Aqidah Islam harus dijadikan sebagai dasar dari pendidikan. Hal ini agar semakin tertanam kuat dalam benak pelajar. Sehingga nantinya tak salah jalan. Kurikulum disekolah juga perlu dibenahi. Utamanya dalam hal agama, perlu jam yang lebih banyak daripada pelajaran yang lain. Jangan malah dikurangi atau dihapuskan. Hal ini akan sangat berdampak. Ditambah harus adanya singkronisasi antara oring tua, sekolah dan masyarakat. Mengapa demikian? Karena dengan adanya hubungan diantara komponen tersebut maka akan terbentuk pelajar yang bermental sesuai dengan Islam. Ada amar ma’ruf sebagai wujud perhatian. Inilah yang dimaksud dengan kontrol masyarakat. Komponen yang berikutnya adalah peran negara didalamnya. Hal ini akan membuat semua orang jadi tahu benar aturan yang memang harus dilaksanakan. Dengan adanya peran negara, maka memungkinkan sanksi yang tegas akan diberlakukan. Sehingga tidak ada lagi yang mau melakukan hal serupa. Negara juga mampu untuk menerapkan kurikulum yang sesuai dengan Islam. Ditambah juga dengan sarana dan prasarana didukung sepenuhnya oleh negara (Khilafah), salah satunya adalah banyaknya perpustakaan yang menyediakan buku lengkap. Sebagai contoh adalah perpustakaan yang berada di Andalusia. Tentulah ini semua bisa diterapkan jika sistem yang diterapkan sesuai dengan fitrah manusia. Hal itu bisa terwujud hanya dengan menerapkan sistem Islam. Sistem yang berasal dari Sang Pencipta dan tidak memiliki kecacatan sedikitpun. Dengan begitu maka pelajar-pelajar yang ada akan menjadi cahaya bagi umat, yang terus akan bersinar menerangi umat. Agar nantinya umat tidak salah jalan. Semoga sistem tersebut bisa terwujud dan mari kita sama-sama mewujudkan kembali masa keemasan yang telah Rasulullah contohkan pada kita. Sekaligus sebagai bukti untuk memenuhi panggilan aqidah kita, maka wajib-lah untuk berjuang bersama, menempa diri bersama dengan cara mengkaji ilmu-ilmu Islam agar kejayaan Islam dapat kembali tegak di dunia ini.[ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *