Pendidikan Sulit Rakyat Menjerit

Pendidikan Sulit Rakyat Menjerit

Carut marut pendidikan menghiasi wajah negeri ini. Jutaan siswa terancam putus sekolah karena tidak ada biaya, seolah orang miskin dilarang sekolah, peran negara hilang digantikan dengan kaum korporasi yang mengeruk keuntungan. Negara hanya sebagai regulator kepentingan kaum kapital.


Oleh: Ummu Dafina

POJOKOPINI.COM — Penyelenggaraan pendidikan di tengah pandemi memiliki tantangan tersendiri bagi pelajar dan pengajar, dimana keduanya harus mampu bersinergi dalam proses belajar mengajar secara online.

Adalah negara sebagai penyelenggara pendidikan seharusnya tanggap dan cerdas untuk memudahkan proses belajar secara daring ini. Entah dari penyediaan internet gratis, dengan memberikan kemudahan berupa fasilitas berupa internet gratis, penyediaan HP bagi yang belum ada terutama di pelosok negeri, pemberian intensif bagi guru dll.

Pendidikan merupakan hak dasar setiap warganegara, tidak mengenal kaya atau miskin, punya gawai atau tidak, di kota ataupun di desa, semuanya berhak mendapatkanya. Tinggal bagaimana mekanisme, strategi yang dijalankan oleh pemegang kekuasaan untuk merealisasikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat. Negara beserta aparatur pemerintah dituntut agar bisa merealisasikan salah satu kewajibannya.

Hal itu karena dengan pendidikanlah perbaikan taraf berpikir umat bisa meningkat dan mengarahkan pada perbaikan kesejahteraan hidup.

Namun sejak pendidikan berbasis badan hukum, liberalisasi di bidang ini semakin massif. Penyelenggaraan pendidikan diserahkan kepada swasta sampai adanya kawin masal antara industri dan pendidikan. Sehingga wajar jika terjadi “perceraian” antara Kemendikbud dengan NU dan Muhammadiyah sebagai gerakan yang bergerak di bidang pendidikan.

Carut marut pendidikan menghiasi wajah negeri ini. Jutaan siswa terancam putus sekolah karena tidak ada biaya, seolah orang miskin dilarang sekolah, peran negara hilang digantikan dengan kaum korporasi yang mengeruk keuntungan. Negara hanya sebagai regulator kepentingan kaum kapital.

Disadari atau tidak sistem kapitalisme sekuler yang memang sejak awal bercokol di negeri ini semakin menggila dan hampir mencapai sempurna. Rakyat bukan lagi pemilik kekuasaan, tapi sapi perah kaum kapital serakah dengan negara sebagai regulatornya.

Salah satu ciri khas negara pengusung kapitalisme adalah pembangunannya lebih menitikberatkan pada sektor riil seperti pembangunan infrastruktur struktur, jalan, gedung pencakar langit, pelabuhan, bandara dll. Tanpa diiringi dengan pembangunan sumber daya manusia sebagai penerus peradaban. Sehingga sebagaimana yang kita lihat di negeri kaum kapital gedung pencakar langit berdiri megah tetapi kemiskinan merajalela.

Hebatnya Sistem Islam

Pendidikan sebagai kebutuhan dasar masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama, dengan pendidikan taraf berpikir umat meningkat, dan ini akan menjadi pencetak generasi peradaban manusia di masa depan.

Penerapan sistem pendidikan berbasis sekuler kapitalis menghantarkan pada generasi yang pintar secara intelektual tetapi kering dari nilai-nilai agama, sehingga wajar jika generasi yang dihasilkan adalah generasi yang materialistis, menghalalkan segala cara serta jauh dari nilai kemanusiaan dan adab.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan sistem Islam, yang menjamin pendidikan setiap warganegara nya mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, secara gratis, dengan negara sebagai penyelenggara. Hal ini bisa kita temui dalam kitab Sirah Nabawiyah bagaimana Rasulullah Saw menjadikan syarat bebas bagi tawanan perang badar yang mengajarkan baca tulis kepada sepuluh kaum Muslimin.

Ketika kita bicara tentang sistem pendidikan dalam Islam tentu saja tidak terlepas dari sistem ekonomi Islam, bicara tentang sistem ekonomi Islam tidak terlepas dari sistem politik Islam. Wajar saja jika penerapan sistem Islam harus dilakukan secara kaffah. Jadi tidak akan pernah sinkron jika sistem Islam dikawinkan dengan sistem kufur saat ini. Jangan harap keadaan akan lebih baik. Sudah, hijrah saja ke Islam kaffah, insya Allah berkah.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *