Penerapan Aturan dalam Menjaga Ketaatan

Penerapan Aturan dalam Menjaga Ketaatan

Oleh : Sriyanti
Ibu Rumah Tangga

WWW.POJOKOPINI.COM — Untuk ke sekian kalinya, kewajiban berjilbab bagi muslimah yang telah disepakati kalangan ulama mu’tabar kembali dipersoalkan. Kelompok yang menolak kewajiban ini menuding kaum muslim salah dalam menafsirkan ayat tentang jilbab.

Ketenangan umat Islam dalam menjalankan ibadahnya menutup aurat terus terusik. Umat dihadapkan pada pertanyaan “Pendapat siapa yang harus saya percaya?”. Polemik menutup aurat bagi kaum hawa ini memang telah berlangsung lama.

Bukan muncul dari kalangan biasa, mereka adalah publik figur. Mereka sudah menjadi panutan masyarakat. Apa yang dilakukannya jadi sorotan bahkan bisa saja langsung diikuti oleh masyarakat.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Sinta Nuriyah, istri almarhum ulama terkemuka di negeri ini Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa muslimah tidak wajib memakai jilbab. Ia menuturkan bahwa dalam mempelajari Al-Qur’an hendaknya dilakukan secara kontekstual bukan tekstual. Istri presiden RI ke-4 ini pun menambahkan bahwa dalam Al-Qur’an sendiri tidak mewajibkan muslimah berjilbab. (tempo.co, 16/01/20)

Menilik fakta di atas, sungguh sangat miris ungkapan tersebut keluar dari lisan seorang muslimah. Apa yang menjadi pemikirannya sudah bertolak belakang dengan syariat Islam.

Dalam ajaran Islam menutup aurat merupakan kewajiban baik bagi laki-laki maupun perempuan. Batasan aurat pada laki-laki dan perempuan menurut Islam di antaranya dijelaskan oleh Muhammad bin Ahmad asy-Syasyiy, “Aurat laki-laki adalah antara pusat (pusar) dan lutut. Lutut dan pusar bukanlah termasuk aurat.”

Pendapat semacam ini dipegang oleh Imam Malik dalam sebuah riwayat Ahmad. “Sebagian golongan dari kami berpendapat, pusar dan lutut termasuk aurat. Adapun aurat perempuan adalah seluruh badan, kecuali muka dan kedua telapak tangan.” (Asy-Syasyiy, Haliyat al-‘Ulama, 2/53)

Kewajiban menutup aurat juga disampaikan Nabi saw. di antaranya berdasarkan sabda beliau:

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya. Jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya.” (HR Muslim)

Adapun batasan aurat perempuan didasarkan pada firman Allah Swt. sebagai berikut:

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak pada diri mereka… ” (TQS an-Nur (24): 31)

Wanita muslimah wajib berjilbab dan berkerudung manakala keluar dari rumah menuju kehidupan umun. Jilbab berbeda dengan kerudung (khimar). Jilbab adalah pakaian terusan yang longgar (gamis). Kewajiban memakai jilbab tertera dalam Al-Qur’an surat al-Ahzab (53) ayat 59. Sedangkan khimar adalah kain penutup kepala yang menjuntai hingga menutupi leher dan dada. Kewajiban menggunakan khimar didasarkan pada Al-Qur’an surat an-Nur (24) ayat 31.

Untuk memperkuat penolakan mereka atas kewajiban berjilbab bagi muslimah, mereka lalu menyodorkan realita bahwa di lndonesia banyak tokoh muslimah yang tidak berjilbab. Pemahaman seperti ini tentu sangat ngawur. Karena tidak bersumber dari rujukan yang sahih dalam hukum syara.

Kewajiban berjilbab bagi muslimah ini juga diperkuat oleh riwayat
Ummu ‘Athiyyah yang berkata: “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita haid dan gadis-gadis pingitan agar menghadiri jamaah kaum muslim. Namun wanita-wanita haid harus menjauhi tempat salat mereka. Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkah dia keluar)?” lalu Rasulullah saw. Bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Andaikan berjilbab bagi muslimah tidak wajib, niscaya Rasulullah saw. akan mengizinkan kaum muslimah keluar dari rumah mereka tanpa perlu berjilbab.

Hal ini bermakna bahwa Rasulullah saw. sebagai kepala negara tidak hanya mengatur urusan kenegaraan saja, akan tetapi mengatur segala urusan umat, termasuk di dalamnya beliau juga turut mengatur bagaimana agar setiap muslimah menjalani kewajibannya memakai jilbab.

Sungguh sangat berlawanan dengan kondisi saat ini, penguasa tidak mendorong pelaksanaan syariat. Tetapi justru membiarkan opini ngawur yang diangkat melalui publik figur untuk menyelesaikan permasalahan umat.

Seharusnya negara memiliki kewajiban menjaga rakyatnya terikat dengan hukum syara. Sebagai penjagaan iman, negara memiliki kewenangan membuat aturan hingga menetapkan sanksi jika ada rakyat yang melanggar hukum syara. Karena menjalankan kewajiban syara adalah bukti keimanan seseorang.

Sayangnya saat ini kita hidup dalam kubangan sistem kapitalis sekuler, bukan keimanan yang menjadi patokan, tapi kepentingan dan materi. Termasuk menutup aurat, dalam dunia kapitalis sekuler mau ditutup atau mau dibuka sama saja. Parahnya malah yang ditutup rapat justru dianggap “nyeleneh”. Hal ini dibiarkan karena masuk pada kebebasan berpendapat dan bertingkah laku.

Meskipun di negara yang mayoritas Islam, jika aturan yang dipakai landasannya adalah sekularisme, negara tidak akan menjamin rakyatnya taat syariat. Atas nama kebebasan dan Hak Asasi Manusia mereka membebaskan rakyat untuk beribadah. Mau menutup aurat atau tidak itu sah-sah saja.

Bahkan justru jika ada yang berdakwah mengajak taat totalitas malah diberantas. Sungguh ironis. Orang pun tak lagi peduli dengan yang lainnya, mereka akan membiarkan individu lain tidak menjalankan syariat, padahal mereka tahu itu kewajiban.

Berbeda jika negara tersebut berasas Islam. Islam menjadikan ketakwaan sebagai landasan. Sehingga negara pun perhatian terhadap masalah sekecil apapun apalagi hal ini terkait dengan perkara fardu. Masalah menutup aurat pun akan dijaga oleh negara Islam. Negara akan memberikan sanksi bagi mereka yang tak mau diingatkan dan jelas-jelas melanggar. Hal ini dilakukan untuk menjaga rakyat agar tidak terkena virus pelalaian agama. Serta membuat jera rakyat, sehingga tidak berpikir untuk menentang Allah. Sehingga keimanan yang totalitas dapat dipupuk dan dijaga. Maka, masihkah kita berharap pada sistem selain Islam?
Waallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *