Penerapan Syariat Kaffah tak Membolehkan Tebang Pilih

Penerapan Syariat Kaffah tak Membolehkan Tebang Pilih

Intinya siapapun yang melakukan kemaksiatan harus tetap dihukum tanpa lagi melihat kedudukannya, apakah ia bagian dari instansi penerapan hukum ataupun masyarakat biasa. Hanya Islam satu-satunya agama yang mampu menentramkan jiwa, memuaskan akal dan pastinya sesuai dengan fitrah


Oleh : Ummu Mush’ab

POJOKOPINI.COM — Pelanggaran hukum syara’ telah dilakukan oleh oknum aparat Wilayatul Hisbah (WH), yang tertangkap basah oleh warga sedang berkhalwat dengan pasangan tidak sahnya (Desa Lae Butar). Sedang istri pasangan tersebut sedang berada di kampung halamannya. Sangat disayangkan, perangkat desa setempat terkesan terburu-terburu mengambil solusi dengan menikahkan pasangan tidak halal tersebut pada malam itu juga. (Popularitas.com, 13/06/2020)

Peristiwa tersebut menunjukan bahwa hidup di dalam sistem kapitalisme demokrasi tidak menjamin dapat menerapkan hukum Islam secara kaffah bagi seluruh manusia termasuk terhadap pelaku maksiat. Salah satunya adalah perkara khalwat dan zina. Selain itu, sistem ini juga meniscayakan adanya perilaku tebang pilih dalam penerapan hukum antara rakyat biasa dengan penegak hukum, baik skala pusat maupun daerah. Seolah hal ini sudah menjadi hukum alam. Ibaratkan pisau tajam ke bawah tumpul ke atas.

Seharusnya pelaku khalwat, termasuk perbuatan zina di dalamnya akan dikenakan qanun Aceh no 14 tahun 2003 yang berlaku di Aceh ( terkait dengan hukum cambuk).

Selain kejadian yang dialami oleh oknum aparat Wilayatul (WH), hal semacam ini juga sering terjadi di kalangan para remaja. Hal ini dipicu interaksi yang salah antara pria dan wanita di tengah masyarakat, tentu saja ini menjadi sebuah ancaman besar bagi generasi muda. Dimana paham ini disebut dengan paham liberalisme (gaya hidup bebas) yang lahir dari kapitalisme sekuler.

Masyarakat secara luas harus melakukan edukasi kepada siapa saja termasuk remaja dan orang yang telah menikah untuk memahami konsep Islam dalam interaksi pria dan wanita. Ditambah dengan adanya pengontrolan yang ketat dari masyarakat, sehingga hal ini akan dapat meminimalisir angka pergaulan bebas dan perselingkuhan yang berujung zina.

Tidak seperti beberapa dosa yang lain, yang lafaz pelarangannya langsung kepada objek pelarangan, pelarangan zina menggunakan lafaz “la taqrabu” (Jangan mendekati). Ini mengindikasikan bahwa untuk jatuh kepada dosa zina ada muqaddimah yang harus dilalui. Maka segala jalan yang bisa menjurus kepada perzinaan harus ditutup. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ : 32)

Ibnu Katsir berkata:

يَقُولُ تَعَالَى ناهيا عباده عن الزنا وعن مقاربته ومخالطة أسبابه ودواعيه وَلا تَقْرَبُوا الزِّنى إِنَّهُ كانَ فاحِشَةً

Artinya, “Allah SWT melarang hamba-hamba-Nya melakukan zina, mendkatinya dan melakukan segala hal yang menjadi penyebab dan faktor pendorong terjadinya, oleh karena itu Allah berfirman, “Janganlah kalian mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah dosa yang keji.” (Tafsir Ibnu Katsir: 5/66)

Dan apa bila hukum terhadap pelaku zina diabaikan Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa kehancuran umat terdahulu disebabkan mereka tebang pilih dalam melaksanakan hukuman :

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ

Sesungguhnya kehancuran umat terdahulu disebabkan jika ada diantara mereka seorang yang terhormat mencuri maka mereka tidak menegakkan hukuman, namun jika orang kecil yang mencuri mereka menegakkan hukuman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Intinya siapapun yang melakukan kemaksiatan harus tetap dihukum tanpa lagi melihat kedudukannya, apakah ia bagian dari instansi penerapan hukum ataupun masyarakat biasa. Hanya Islam satu-satunya agama yang mampu menentramkan jiwa, memuaskan akal dan pastinya sesuai dengan fitrah. Wallahu a’lam.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

One thought on “Penerapan Syariat Kaffah tak Membolehkan Tebang Pilih

  1. Tiada kesempurnaan tanpa islam, tak sempurna islam tanpa syariah, tak sempurna syariah tanpa daulah, daulah khilafah rasyidah…. Hnya islam lah solusi dr segala permasalahan yg ada. Allahuakbar ✊✊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *