Pengadaan Vaksin Covid-19 Solutifkah untuk Penanganan Pandemi?

Pengadaan Vaksin Covid-19 Solutifkah untuk Penanganan Pandemi?

Ada titik kritis dalam penyediaan vaksin oleh negara Islam yaitu jaminan kehalalan bahan dan siapa yang membuatnya. Negara harus menjamin kehalalan dan keefektifan kerja vaksin sehingga tidak ada keraguan masyarakat saat memakainya.


Oleh: Ummu Faiza

POJOKOPINI.COM — Babak baru pandemi Covid -19 yang  berlangsung lebih dari enam bulan dimulai. Pemerintah telah membeli vaksin dan akan diberikan kepada masyarakat. Namun, target pemerintah untuk mulai memyuntikkan vaksin di bulan November bakal tertunda. Dilansir dari Kontan.co.id, 26/10/20, vaksin yang diperoleh Indonesia belum memiiki izin Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM akan mengeluarkan UAE apabila semua aturan dan tahapan telah terpenuhi.

Permasalahan muncul di balik harapan. Ada keraguan terhadap keefektifan dan kehalalan vaksin. Tetnyata vaksin yang dibeli oleh pemerintah dari tiga produsen vaksin yakni Cansino, G24/ Sinopharm dan Sinovac  belum melewati uji klinis fase 3. Presiden Joko Widodo mengungkapkan alasannya mengapa pemerintah bergerak cepat dalam pengadaan vaksin Covid-19 adalah karena semua negara sedang berlomba-lomba untuk mendapatkannya demi pulihnya kesehatan warga dan ekonomi segera bangkit. Namun presiden menegaskan, vaksin baru akan disuntikkan setelah melalui tahap uji klinis yang benar (kompas.com, 26/10/20).

Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa vaksin tidak akan mengembalikan kehidupan normal dalam waktu enam bulan. Bahkan, direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebeyeresus mengatakan sekalipun vaksin yang paling efektif, tak dapat memulihkan dengan cepat keadaan saat ini (kompas.com, 22/10/20). Lalu mengapa pemerintah terkesan menggebu-gebu dalam pengadaan vaksin Covid-19 meskipun uji klinis belum sempurna fasenya? Adakah pihak lain yang diuntungkan?

Dalam Islam, kesehatan merupakan salah satu jaminan yang diberikan oleh negara kepada rakyatnya. Penyediaan vaksin, jika sangat dibutuhkan untuk menanggulangi pandemi, maka negara harus mengupayakan penyediannya. 

Ada titik kritis dalam penyediaan vaksin oleh negara Islam yaitu jaminan kehalalan bahan dan siapa yang membuatnya. Negara harus menjamin kehalalan dan keefektifan kerja vaksin sehingga tidak ada keraguan masyarakat saat memakainya. Negara juga akan mendorong para ahli bidang pengobatan dan medis untuk membuat vaksin dalam jumlah yang cukup dan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Dana untuk riset dan produksi vaksin diambil dari kas baitul maal. Vaksin pun akan diberikan kepada masyarakat secara cuma-cuma tanpa memandang strata sosialnya. Khalifah tidak boleh bekerja sama dengan negara kafir harbi dalam pembelian dan penyediaan vaksin. Bekerjasama dengan kafir harbi hanya akan membawa negara ke dalam jeratan penjajahan baik ekonomi maupun kedaulatan negara.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *