Pengejaran tak Berujung

Pengejaran tak Berujung

Sungguh malang rakyat di negeri ini. Negeri zamrud khatulistiwa yang melimpah ruah SDA. Tak patut penguasa terus mengejar setiap jengkal celah yang subur. Pajak dan berbagai pungutan, kenaikan berbagai tarif telah membuat rakyat terjepit. Tak elok jika penguasa masih haus suapan rakyatnya.

Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Luar biasa tak main-main langkah penguasa mengejar rakyat. Setelah berbagai pengejaran penggalangan dana rakyat melalui berbagai pungutan pajak yang aneh dan tak masuk akal, seperti pajak bagi warung Tegal, pedagang empek-empek, pajak emisi kendaraan dan sederet pajak yang mencekik rakyat. Di tengah pandemi corvit-19, masyarakat harus karantina mandiri di rumah. Bekerja di rumah, belajar di rumah, rapat di rumah, seminar di rumah, ujian di rumah dan lain sebagainya.

Masyarakatpun harus sigap mensiasati kondisi yang menuntut semua siap. Maka menjamurlah penggunaan aplikasi Zoom. Siapa yang tidak tahu Zoom? Dari anak kecil sampai kakek, nenek kini piawai memanfaatkan teknologi ini.

Tak hanya Zoom, penguasa juga menyinggung Netflix. Perusahaan penyediaan tontonan secara elektronik ini juga dipercaya mendapatkan banyak keuntungan di tengah penerapan physical distancing di Indonesia.
Ini basis pajak kita agar mampu melakukan pemungutan dan penyetoran PPN atas barang impor tidak
berwujud dan platform luar negeri, juga untuk subyek pajak luar negeri didefinisikan mereka yang punya significant economic presence seperti Netflix dan Zoom.” (Detik.com/finance, 01/04/2020)

Pernyataan ini diperkuat Managing Partner Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Darussalam mengatakan, langkah pemerintah untuk segera memberlakukan pajak digital di tengah pandemi virus corona (Covid-19) merupakan kebijakan rasional. Di tengah kebijakan social distancing dan working from home (WFH), semakin banyak pengguna platform digital yang berdampak pada pertumbuhan pendapatan perusahaan. Sedangkan, Darussalam mengatakan, mereka belum memberikan pembayaran pajak secara adil. (Republika.co.id/berita, 02/04/2020)

Penguasa nampak setengah hati menuntaskan corona yang menghantui rakyat. Begitu banyak kebijakan dikeluarkan karena pertimbangan ekonomi. Tak terdengar kesehatan menjadi prioritas. Tuntutan lockdown dari berbagai kalangan, baik rakyat biasa, pejabat daerah bahkan tenaga kesehatan tak digubris sama sekali. Penguasa takut ekonomi kian terpuruk jika lockdown. Terlebih lockdown berkonsekuensi harus menyiapkan kebutuhan pangan untuk rakyat. Itulah mengapa mereka ogah. Penguasapun seakan tak ambil peduli setiap hari jumlah kasus covid-19 terus merangkak naik tak sudi turun.

Sungguh malang rakyat di negeri ini. Negeri zamrud khatulistiwa yang melimpah ruah SDA. Tak patut penguasa terus mengejar setiap jengkal celah yang subur. Pajak dan berbagai pungutan, kenaikan berbagai tarif telah membuat rakyat terjepit. Tak elok jika penguasa masih haus suapan rakyatnya.

Seandainya negeri kaya raya ini dikelola menurut Pemilik Bumi, tentu kesejahteraan pasti dirasakan tiap insani. Syariat Islam telah mengatur secara paripurna. Hingga semua hidup layak, bahagia dan sejahtera. Sayang karena mengikuti arahan penjajah. Penguasa lebih memilih di bawah ketiaknya, ketimbang menjadi tuan di rumahnya.

Sistem sekuler kapitalisme berbasis ekonomi ribawi. Pantas penguasanya limbung dan gontai. Tak mampu menyelesaikan persoalan negeri. Yang bertumpuk tumpuk tak pernah selesai.

Sangat jauh dengan sistem ekonomi Islam. Semua roda ekonomi berputar pada gigi- gigi syariat yang kuat. Yang penerapan satu hukumnya membuat kokoh semua sisinya. Begitu syariat diterapkan oleh negara Khilafah, saat itu otomatis terpetakan semua.

Tanah kharajiah kembali pada hukumnya. Siapapun yang menempati wajib membayar kharaj-nya. Tanah-tanah yang tak terkelola pemiliknya diberi waktu 3 tahun lamanya untuk dihidupkan dengan menanaminya. Bagi yang tak punya akan diberi lahan oleh Khalifah cuma-cuma, untuk dikelola potensinya.

Masya Allah masih banyak persoalan yang akan terurai dengan penerapan syariat oleh negara. Semua milik umum kembali kepada empunya. Air, SDA, minyak, bauksit, emas, perak dan semua yang terkandung di dalamnya kembali menjadi milik semua rakyat. Negara hanya mengelola dan memberikan seluruhnya demi kesejahteraan rakyatnya. Demikianlah berkah langit dan bumi tercurah manakala kita taat syariatNya. Sebagaimana dalam firman Allah QS Al A’raf : 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”

Semoga peradaban Islam segera datang. Wangi harumnya kian tercium, Khilafah semakin dekat. Aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *