Pengentasan Kemiskinan Ala Demokrasi Hanya Ilusi

Pengentasan Kemiskinan Ala Demokrasi Hanya Ilusi

Oleh : Eva Yulia

WWW.POJOKOPINI.COM — Berbicara tentang Indonesia tidak lepas dari negara yang kaya dengan SDA yang melimpah tapi sayang kini menjadi pusat perhatian dunia sebab kemiskinan yang semakin merajalela. Yang kaya semakin kaya, dan sebaliknya yang miskin akan tetap tersingkir, memang selalu begitu permainannya. Yang berkuasa seoalah lupa dengan janji-janjinya, para penguasa sibuk dengan foya-foyanya, kemewahan, dan gemerlap dunia menjadikannya buta atas tanggung jawab besar terhadap rakyatnya. Beginilah keadaan bibit-bibit berdasi yang lahir dari demokrasi, berharap rakyat diurusi secara sempurna hanya ilusi, sebab mereka sibuk dengan dunianya sendiri.

Bank Dunia merilis laporan bertajuk “Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class” pada akhir pekan lalu (30/1). Dalam riset itu, 115 juta masyarakat Indonesia dinilai rentan miskin. Tingkat kemiskinan di Indonesia saat ini di bawah 10% dari total penduduk. Rerata pertumbuhan ekonomi pun diprediksi 5,6% per tahun selama 50 tahun ke depan. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapitanya diperkirakan tumbuh enam kali lipat menjadi hampir US$ 4 ribu.

Padahal negara ini Allah limpahkan begitu banyak kenikmatan dari Sabang sampai Marauke, tapi semua itu hanya dinikmati oleh segelintir orang yang punya banyak modal.

Berbagai macam program yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memberantas kemiskinan hilang tidak ada hasil bahkan dimanfaatkan untuk bernegosiasi dan semua itu tak lepas dari proyek-proyek kapitalistik. Wajar jika hanya berlandaskan alakadar dan manfaat semata.

Teringat sebuah cerita dari sahabat Rasulullah yaitu Umar Bin Abdil Aziz. Beliau adalah Khalifah yang memiliki sifat zuhud. Meski dunia ada di genggamannya, namun ia memilih untuk meninggalkannya hingga wafat. Di saat Khalifah Umar bin Abdil Aziz sakit, datanglah Maslamah bin Abdil Malik. Saat itu pakaian Khalifah terlihat kotor, hingga Maslamah bertanya kepada istri Khalifah Umar, “Apakah kalian tidak mencucinya?” . Istri Khalifah Umar pun malah balik bertanya, “Apakah ia punya baju yang lain?” (Al Kawakib Adduriyah, 1/380)

Dan juga dikisahkan bahwa saking sejahteranya pemerintahan Umar bin abadul Aziz tidak ada lagi yang mau menerima zakat. Pencapaian semua itu tidak terlepas dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dan juga menerapkan aturan Allah dalam segala lini kehidupan.

Begitulah sosok pemimpin pada zaman dulu, saking takutnya dengan dunia beliau hanya mempunyai satu baju, dan berhasil menjadi Khalifah yang luar biasa pada masanya. Tapi sekarang mendapat pemimpin seperti itu hanya harapan semu, walaupun kemewahan sudah di genggaman tapi urusan umat terabaikan.d

Dan wajar jika permasalahan semakin muncul tapi tidak ada aksi tuntas dari pemerintah. Pengentasan kemiskinan total adalah hal mustahil dalam sistem demokrasi sebab upaya penurunan angka kemiskinan lebih banyak mengotak-atik angka melalui pembuatan standarisasi/ ukuran, bukan menghilangkan kondisi miskin secara nyata.

Yakni memastikan semua pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Kemiskinan buah kondisi laten akibat kapitalisme, diakui oleh para ahli. Yang biasa dilakukan hanya menurunkan angka kemiskinan.
Bandingkan dengan system islam yang memiliki Negara yang menghapus kemiskinan secara sempurna secara sempurna dan sistemik.

Maka sudah saatnya manusia saat ini berfikir ulang tentang hukum siapa yang paling konseptis dan sempurna. Apakah hukum abal-abal buatan manusia dalam bingkai kehidupan yang sekuler tanpa aturan agama.

Ataukah hukum yang berasal dari Allah SWT dan RasulNya yang terbukti manjur dalam menyelesaikan seluruh problematika manusia, termasuk dalam hal ini adalah masalah kemiskinan yang semakin hari semakian memprihatikan.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *