Penguasa Bermental Pengusaha?

Penguasa Bermental Pengusaha?

Apalagi ini berkaitan langsung terhadap hidup dan mati jutaan manusia. Sedangkan satu jiwa manusia sangat berharga di dalam Islam.


Oleh: Ummu Zhafira (Pegiat Literasi, Praktisi Homeschooling)

POJOKOPINI.COM — Bukan darurat sipil atau darurat kesehatan yang mestinya diributkan, tapi sepertinya saat ini kita sedang menghadapi darurat kepemimpinan. Bagaimana tidak, pemimpin terasa lamban dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan terlihat begitu kentara. Banyak kebijakannya yang justru menimbulkan kekecewaan dan kebingungan di tengah masyarakat.

Pada Kamis (27/3) lalu, Menkeu menyatakan Indonesia memiliki peluang untuk menyuplai alat pelindung diri (APD) dan hand sanitizer bagi negara lain yang tengah dilanda pandemi virus Corona. Sri Mulyani beralasan, Indonesia punya pabrik dan infrastruktur untuk memproduksi barang yang kini dibutuhkan dunia. (Jpnn.com, 27 Maret 2020)

Di sisi lain, para tenaga medis, baik dokter maupun perawat, di fasilitas kesehatan yang menangani virus Corona (Covid-19) mulai menjerit. Mereka sempat mengeluhkan kurangnya alat pelindung diri (APD) untuk mereka. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Daeng M Faqih. Bahkan kabarnya banyak nakes yang terpaksa menggunakan jas hujan atau plastik biasa dan juga masker biasa untuk melindungi diri mereka. Di sisi lain banyak nakes yang mulai menjadi korban terpapar virus yang berasal dari Wuhan, China. Menyedihkannya lagi, banyak dari mereka yang mulai berguguran sebagai pahlawan kesehatan.

Untuk memenuhi kebutuhan akan APD tersebut, Indonesia mendatangkan alat pelindung diri (APD) dari China melalui skema bantuan maupun pembelian langsung. Namun lucunya, APD yang didatangkan dari negeri tirai bambu itu, bertuliskan produk buatan Indonesia. Hal tersebut, terlihat jelas di kardus pembungkusnya yang tertulis made in Indonesia.

Dilansir oleh CNBCIndonesia.com, (26 Maret 2020), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo menanggapi hal tersebut. Agus menyatakan bahwa kita tak perlu heran jika APD bantuan China atau beli di China tapi made in Indonesia. Karena memang banyak pabrik APD berada di Indonesia.

Apa alasan logisnya kita harus menerima bantuan atau bahkan mengimpor APD dari China? Jika memang benar, seharusnya kita bisa menyuplai APD ke negara lain seperti yang dikatakan oleh Menkeu, Sri Mulyani? Ini adalah bentuk kebijakan yang membingungkan. Benarkah penguasa saat ini memosisikan diri sebagai pengusaha, bukan penguasa? Sebab penguasa sejati hanya akan berpikir bagaimana rakyat bisa selamat, bukan hanya mempertimbangkan untung dan rugi.

Kasus APD dari China tapi buatan Indonesia itu saja menjadi bukti bahwa sebenarnya negeri ini mampu menyediakan APD yang layak dan mencukupi bagi kebutuhan tenaga medis dalam negeri. Jika saja sejak awal, penguasa tidak menyepelekan Corona. Kemudian mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya, maka sungguh tidak perlu terdengar jeritan para tenaga medis yang kekurangan APD. Apalagi sampai melihat mereka gugur disebabkan oleh tidak adanya APD yang harus mereka kenakan dalam menangani pasien positif Covid-19.

Jadi, benarkah negeri ini sedang darurat kepemimpinan? Paradigma kapitalis melahirkan pemimpin bermental pengusaha. Semua kebijakan yang dikeluarkan selalu mempertimbangkan untung dan rugi. Lagi-lagi mereka berdalih semua demi menyelamatkan ekonomi.

Ekonomi yang mana? Untuk siapa? Tentu saja jangan berharap ekonomi yang dimaksud adalah ekonomi rakyat jelata. Karena sebelum adanya kasus Corona, perekonomian sebagian besar penduduk bumi pertiwi ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Mereka berusaha hidup dalam keterbatasan di tengah hingar-bingar kaum kapital yang bermodal tebal.

Dengan keputusan Pembatasan Sosial Berskala Besar yang ditetapkan juga menjadi bukti rapuhnya sistem ekonomi kapitalis-sekuler. Tidak ada ketahanan ekonomi saat negara harus menghadapi pandemi. Pun ketahanan pangan yang seharusnya mampu menopang keberlangsungan hajat hidup masyarakat secara keseluruhan.

Berbeda sekali dengan Islam. Kepemimpinan dalam paradigma Islam merupakan amanah yang harus dijaga dan ditunaikan sebagaimana mestinya. Pemimpin dalam sistem Islam memahami betul tanggungjawabnya untuk mengurusi urusan umat. Setiap perbuatannya senantiasa terikat dengan hukum Allah. Mereka juga memahami betul hadist Nabi Saw, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan yang dipimpinnya.” (HR. Muslim)

Karena itulah semua kebijakan diambil atas dasar ketakwaan kepada Allah. Apalagi ini berkaitan langsung terhadap hidup dan mati jutaan manusia. Sedangkan satu jiwa manusia sangat berharga di dalam Islam.

Sudah seharusnya masyarakat menyadari bahwa saat ini mereka tak lagi membutuhkan penguasa bermental pengusaha. Tapi penguasa yang mampu menjalankan amanahnya, dengan menerapkan hukum Allah secara keseluruhan. Semua itu sudah terbukti membawa kebaikan di masa kejayaan Islam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *