Penguasa Rasa Pengusaha

Penguasa Rasa Pengusaha

Sehingga harga BBM di Daulah Khilafah/negara Islam sangat murah bahkan gratis.


Oleh: Mauiza Ridki Al-Mukhtar (Aktivis Dakwah Peduli Umat)

POJOKOPINI.COM — Di tengah pandemi virus corona (COVID-19) yang kian meluas, menyebabkan ambruknya perekonomian dunia. Hal ini memicu turunnya harga minyak dunia. Dikutip dari cnbc.com,(8/5/2020), harga minyak tak bisa terus bergerak naik dan kemudian terpaksa harus ditutup di zona merah. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan Amerika Serikat (AS) turun 44 sen atau 1,83% menjadi USD 23,55 per barel. Sebelumnya di sesi awal harga minyak WTI telah naik lebih dari 11%, mencapai level tertinggi di USD 26,74 per barel. Harga minyak mentah Brent yang menjadi harga patokan internasional, berakhir 26 sen lebih rendah di level USD 29,46 per barel.

Sejumlah negara telah menurunkan harga minyak di negaranya. Seperti negara Malaysia, negara Malaysia sudah 6 kali menurunkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Dikutip dari Paultan, bahan bakar dengan RON 95 (Partamax Plus) dibandrol sekitar RM 1,25 atau setara Rp. 4.326 per liter, untuk bahan bakar RON 97 dihargai RM 1,55 atau Rp. 5.365 per liter. Sedangkan bahan bakar diesel dibandrol RM 1,40 atau setara Rp. 4.845 per liter. Harga minyak di negara Jiran tersebut paling murah diantara negara se-ASEAN.

Di tengah turunnya harga minyak dunia, dan sejumlah negara telah menurunkan harga BBM, ironinya negeri ini belum juga menurunkan harga BBM. Bahkan, Indonesia satu-satunya negara di ASEAN. Dikutip dari triunnews.com (3/5/2020), harga BBM pertamina yaitu: Pertalite harganya Rp. 7.600 per liter, Partamax harganya Rp. 9.000 per liter, Partamax Turbo harganya Rp. 9.850 per liter, Dexlite harganya Rp. 9.500 per liter, Pertamina Dex harganya Rp.10.200 per liter.

Sejumlah masyarakat dari berbagai kalangan telah menyeru pemerintah untuk segera menurunkan harga BBM. Seperti aksi unjuk rasa yang dilakukan sejumlah mahasiswa UIN Sumatera Utara di gerbang kantor Pertamina Marketing Region I Jalan Yos Sudarso Nomor. 8-10, Sumatera Utara. Mahasiswa menyeru pemerintah segera menurunkan harga minyak. Pada saat unjuk rasa polisi meminta kepada mahasiswa untuk segera membubarkan diri, akan tetapi mahasiswa tetap melanjutkan aksinya, sehingga polisi mengamankan mahasiswa dengan alasan aturan maklumat Kapolri tentang unjuk rasa di tengah penyebaran virus corona. (Liputan Pagi, TvOne). Hingga saat ini belum ada tanda-tanda dari pemerintah untuk menurunkan harga BBM.

Tak hanya itu menurut Rudi Rubiandini Pengamat Perminyakan membeberkan ada sekitar Rp. 170 triliun selisih harga jual Pertamax oleh Pertamina selama tidak ada penyesuaian dengan harga jual minyak dunia yang sudah mengalami penurunan. Uang Rp. 170 triliun itu tidak masuk ke kas negara. Uang tersebut merupakan selisih penjualan Partamax selama bulan Maret dan April 2020 ditambah 4 dan 8 bulan ke depan.

Di tengah pandemi virus corona yang kian meluas dan pemerintah telah menerapkan sistem PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sehingga pergerakan masyarakat terus di batasi yang berakibat semakin sulitnya perekonomian rakyat. Seharusnya pemerintah menurunkan harga BBM untuk mengurangi beban rakyat, bukan malah mengambil kesempatan untuk mengambil keuntungan di tengah kesulitan rakyat dalam menghadapi kehidupan di tengah pandemi wabah virus corona ini terjadi. Pemerintah seolah mengabaikan perannya sebagai periayah umat/ mengurusi urusan umat, pemerintah justru berperan sebagai pengusaha, jadilah Penguasa rasa pengusaha.

Penguasa Rasa Pengusaha Lahir di Sistem Kapitalisme

Penguasa rasa pengusaha lahir di tengah-tengah masyarakat, disebabkan karena negeri ini mengadopsi sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme tidak berdiri berdasarkan halal dan haram akan tetapi sistem kapitalisme berdiri atas azas manfaat. Sehingga wajar lahir penguasa durjana yang hanya mementingkan dirinya, keluarganya dan koleganya hingga tidak peduli atas nasib rakyatnya. Dalam sistem ekonomi kapitalisme seluruh sektor kepemilikan umum seperti: gas, BBM, barang tambang, hutan dan lainnya boleh dikelola oleh pengusaha atas nama investasi. Hal ini yang menyebabkan harta kekayaan itu tidak dinikmati oleh seluruh kalangan rakyat, tetapi harta kekayaan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang saja yaitu mereka dari kalangan konglemerat saja.

Akhiri Sistem Kapitalisme dengan Sistem Islam

Sistem kapitalisme telah melahirkan penguasa yang durjana yang tidak peduli akan nasib rakyatnya. Maka dari itu sistem tersebut harus segara diakhiri dengan sistem yang peduli terhadap nasib rakyat. Sistem tersebut adalah sistem Islam. Islam merupakan sistem yang paripurna/sempurna yang tidak sekedar mengatur hubungan manusia dengan Rabbnya saja, tetapi mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk mengatur kebijakan penguasa dan sistem ekonomi terkait kepemilikan.

Dalam sistem Islam sumber hukum berasal dari al-Qur’an dan assunah. Sistem Islam berlandaskan halal dan haram. Kebijakan penguasa harus berdasarkan al-Qur’an dan assunnah. Tugas penguasa dalam sistem Islam adalah meriayah umat. Setiap kepemimpinan dalam Islam akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat. Pemimpin yang tidak peduli akan nasib rakyatnya maka azab Allah SWT sangat pedih baginya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Tidaklah seseorang diserahkan oleh Allah untuk mengurusi rakyat lalu dia mati dan di hari saat kematiannya dia penipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga untuknya.” (HR. Muslim)

Penguasa/khalifah dalam sistem Islam akan senantiasa mengurusi kepentingan rakyatnya, bukan malah mengurusi kepentingan pribadinya dan koleganya seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Sejarah telah mencatat sistem Islam telah melahirkan pemimpin yang bijaksana yang selalu memikirkan nasib rakyatnya. Tidak hanya itu bahkan pemimpin Islam sangat takut seekor untapun terplosok di jalanan yang rusak seperti ketakutan kekhalifahan Umar bin Khathab RA.

Dikutip dari kompasiana.com, (20/1/2011), ketika Umar bin Khathab RA menjabat sebagai khalifah, beliau suatu kali pernah bertutur “Seandainya ada seekor unta yang masuk lobang di tengah jalan di kota Baghdad, maka aku akan bertanggungjawab dan akan ditanya oleh Allah Taala pada hari kiamat nanti.”

Sistem ekonomi Islam terkait masalah kepemilikan umum: seperti: gas, BBM, barang tambang, dan lainnya harus dikelola oleh negara dan haram hukumya kekayaan milik umum diserahkan kepada pengusaha baik lokal maupun asing dan aseng. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu: padang rumput, air dan api” (HR. Abu Daud, Sunan Abu Daud 2/596-952). Sehingga harga BBM di Daulah Khilafah/negara Islam sangat murah bahkan gratis.

Kepemimpinan yang bijak dan adil serta pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam) yang tepat hanya terdapat dalam sistem Islam. Akan Tetapi Sistem Islam yang paripurna hanya dapat terwujud dalam wadah Daulah Khilafah. Maka dari itu penegakan Khilafah menjadi kewajiban bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, untuk membebaskan umat dari prilaku pemimpin yang jahil dan zalim. Wallah a’lam bi ash-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *