Penguasa tak Bijak, Rakyat Bertindak?

Penguasa tak Bijak, Rakyat Bertindak?

Skenario dan strategi yang diambil selalu tidak menyelesaikan permasalahan yang ada, namun hanya akan menimbulkan masalah lainnya. Lihatlah begitu lemahnya negeri ini dalam menyelesaikan masalah pandemi Corona. Lalu, masihkah kita enggan dengan sistem Islam dan bertahan dalam derita sistem Kapitalisme ini?


Oleh: Widya Soviana, ST., M. Si (Dosen Universitas Muhammadiyah Aceh)

POJOKOPINI.COM — Telah berganti beberapa kali penguasa. Ada yang dicintai dan ada pula yang dibenci. Semua, karena pelayanan yang diberikan kepada rakyatnya.

Penguasa adalah pengurus urusan rakyat. Sebab dengan kuasanya itulah, dia dapat memastikan rakyatnya hidup dengan sejahtera. Tidak akan merasa ketakutan terhadap ancaman, tidak merasa kelaparan saat paceklik dan tidak merasa khawatir terhadap kesakitan.

Penguasa adalah tempat rakyat meminta perlindungan, tempat rakyat mengadu segala sesuatu. Karena kuasanya merupakan amanah yang diberikan Allah Subhana wa Ta’ala kepadanya. Sebagai pengganti dalam mengurusi segala urusan umat manusia. Dengan syari’at yang mulia, yang ditinggalkan oleh baginda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam.

Bernegara berarti telah mengakui diri menjadi bagian dari suatu wilayah dengan sebuah kepemimpinan, namun bagi umat Islam tentu bukan sembarang kepemimpinan. Umat Islam memiliki hak dengan kepemimpinan Islam, kepemimpinan yang bersandar pada hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Subhana wa Ta’ala.

Di dalam Islam, setiap individu mendapat jaminan langsung oleh negara terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara percuma. Adapun untuk kebutuhan sandang, pangan dan papan maka negara berupaya membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan memastikan perputaran ekonomi berjalan sesuai syara’, agar harta tersebut tidak berputar pada orang-orang kaya saja. Jika dalam kondisi normal saja, negara bertindak demikian tentu lagi dalam kondisi bencana.

Namun sayang, di tengah wabah Covid 19 saat ini, penguasa dianggap tidak tanggap terhadap pandemi tersebut. Hal ini memunculkan tindakan oleh masing-masing masyarakat di desa. Upaya berbagai cara dilakukan, dengan menutup akses keluar-masuk warga di desa-desa hingga mengadakan pos-pos jaga malam (kumparan.com, 02/02/20).

Kebijakan lain turut pula dilakukan oleh penguasa sekelas gubernur. Melakukan pembatasan jam malam yang hanya berjalan belum genap sepekan (detik.com, 04/04/20). Uji coba dianggap gagal, sebab memunculkan permasalahan baru lagi. Masyarakat tak dapat mengais rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hal ini menunjukkan betapa negara telah kehilangan ketahanannya. Skenario dan strategi yang diambil selalu tidak menyelesaikan permasalahan yang ada, namun hanya akan menimbulkan masalah lainnya. Lihatlah begitu lemahnya negeri ini dalam menyelesaikan masalah pandemi Corona. Lalu, masihkah kita enggan dengan sistem Islam dan bertahan dalam derita sistem Kapitalisme ini?[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *