Penistaan Nabi Wajib Diakhiri, Penghina Islam Harus Ditenggelamkan

Penistaan Nabi Wajib Diakhiri, Penghina Islam Harus Ditenggelamkan

Seorang Muslim mendengar pelecehan terhadap Islam wajib marah. Bagi siapapun yang memiliki kekuasaan, baginya punya kewajiban untuk melakukan upaya nyata menghentikan penistaan tersebut sebagaimana Islam mengajarkan.

Oleh: Ayin Harlis (Narasumber Kajian MQ Lovers)

POJOKOPINI.COM — Bentrokan terjadi di Norwegia saat demo anti Islam yang dihelat oleh kelompok SIAN (Stop Islamization at Norway) diwarnai insiden penistaan Al-Quran pada 29/08/2020. Tak hanya itu, penistaan terhadap Islam dilancarkan lagi oleh majalah satire Charlie Hebdo dengan memuat ulang karikatur Nabi Muhammad saw. sebagai tanda tak ada penyesalan setelah mengalami insiden penyerangan 2015 lalu.

Penistaan terhadap Islam, Nabinya, kitab sucinya, bahkan ajarannya bak benih-benih spora yang berterbangan. Tak hanya di negeri minoritas Muslim, di Indonesia yang katanya negeri Muslim terbesar olok-olok terhadap ajaran Islam laku keras jadi bahan candaan. Youtuber, selebgram, infuencer meraup viral dari merendahkan adab jadi guyonan.

Tuduhan terhadap ajaran Islam pun kian renyah digoreng media. Khilafah salah satunya. Setelah banyak ajaran Islam lain mengalami peyorasi tajamnya belati kata redaktur pemburu rating berita. Contohnya qishosh, poligami, bahasa arab, bahkan hijabnya wanita dipandang sebelah mata. Jadilah apapun yang berbau islami kini adalah objek pelecehan, gurauan, hingga tuduhan. Tanpa pembela.

Meski dunia mengkampanyekan secara membabi buta ide-ide toleransi, pluralism, dan hak asasi manusia, nyatanya tak mampu menghargai Islam. Tak diragukan bahwa ide-ide tersebut hanya propaganda ideologi sekuler. Membumbungkan peradaban Barat, di sisi lain menenggelamkan benih-benih kemunculan kembali peradaban Islam.

…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali Imran [03] : 118).

Penistaan dan pelecehan terhadap Islam adalah tindak kriminal yang berat dalam kacamata syariat. Bagi seorang Muslim, hukum menghina Rasul jelas haram. Menjadikan pelakunya tergolong murtad. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwa hukuman bagi penghina Allah Swt. dan Rasul-Nya adalah hukuman mati jika tidak mau bertobat. Jika bertobat, hukuman mati atas dirinya gugur. Hanya saja negara tetap memberikan ‘pelajaran’ kepada pelaku sesuai dengan ketetapan Khalifah, dengan memperhatikan tingkat penghinaannya. Menurut Ash- Shaidalâni (w. 427H), ‘pelajaran’ yang dapat diberikan kepadanya adalah dicambuk 80 kali (Mughni al-Muhtâj, 5/438).

Pada fase dakwah Mekah, ada salah seorang kabilah Qurays melempar lelucon kasar saat Saad bin Abi Waqash melaksanakan shalat. Sebagai singa muda nan pemberani, Saad memukul orang itu dengan tulang unta hingga melukainya. Mendengar yang terjadi, Nabi mendiamkannya. Artinya, Nabi tidak menyalahkan Saad yang memberi pelajaran bagi peleceh ajaran Islam. Meskipun Nabi tidak melakukannya dengan pertimbangan ada sikap yang lebih baik dalam kondisi kaum muslimin belum memiliki kekuasaan.

Saat kekuasaan sudah di tangan kaum muslimin, tak ada tempat bagi oknum-oknum penista Islam. Suasana di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah diliputi suasana keimanan serta ketinggian derajat ajaran Islam. Dengan demikian tak ada pendengki yang berani terang-terangan mengolok-olok Islam. Kalaupun ada mereka menampakkan secara sembunyi-sembunyi dan hanya di kalangan kaum munafik saja.

Demikian seterusnya, pengagungan terhadap Islam dan ajarannya diterapkan dari masa ke masa oleh para Khalifah. Pelaku pelecehan terhadap hijab seorang muslimah oleh orang Romawi ditanggapi serius oleh Khalifah. Khalifah al-Mu’tasim Billah menjawabnya dengan mengerahkan pasukan yang barisannya tak terputus dari gerbang Istana Khalifah di Kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki) pada April, 833 Masehi.

Jika pelakunya negara, Khilafah tidak tinggal diam apabila terjadi penghinaan terhadap Nabi. Khilafah Utsmaniyyah di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Hamid II telah mengancam akan melancarkan jihad ke Perancis dan Inggris karena mengizinkan pementasan yang menghina Rasulullah saw. Pementasan pun dibatalkan. Inilah ciri kepemimpinan yang tegas merealisasikan kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Oleh karenanya, sebagai seorang Muslim mendengar pelecehan terhadap Islam wajib marah. Bagi siapapun yang memiliki kekuasaan, baginya punya kewajiban untuk melakukan upaya nyata menghentikan penistaan tersebut sebagaimana Islam mengajarkan.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *