Penjara Tak Membuat Efek Jera Pelaku Narkoba

Penjara Tak Membuat Efek Jera Pelaku Narkoba

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Tidak ada seharipun mungkin yang dilewati oleh masyarakat Aceh terkait dengan Narkoba, Aceh dikenal sebagai ladang ganja. Untuk itulah kemudian ganja mau naik kelas menjadi agak mewah dengan cara di ekspor, sepertinya logika mulai tak berjalan pada tempatnya. Mungkin itu hanya sebuah pandangan konyol namun efeknya luar biasa, kenapa? Karena dari ide gila itu muncul keberanian di dalam masyarakat untuk menanam ganja. Cara cepat untuk dapat uang biar kaya mungkin, itulah yang dipikirkan masyarakat yang dirudung kemiskinan dan kelaparan.

Lebih jauh lagi mungkin bukan hal yang baru dimana ganja itu mudah didapatkan meski didalam LP sekalipun. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini membuktikan betapa lemahnya hukum yang ada sekarang, tidak mampu membuat mereka kemudian jera dan introspeksi diri. Malah didalam LP pun mereka berani melakukan transaksi tanpa diketahui pengawas. Luar biasa bukan!

Dua bal ganja dengan berat 1 kilogram yang ditemukan di kamar 5C Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas IIA Lhokseumawe pada 19 Desember 2019 lalu ternyata dipasok oleh pasangan suami istri (pasutri) untuk abangnya Afrizal. Pasutri tersebut JT (22) Ibu rumah tangga asal Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe dan suaminya (JD) 26. Afrizal (35) merupakan narapida asal desa Tumpok Teungoh, Kecamatan banda Sakti saat ini sedang menjalani hukuman di LP Lhokseumawe dalam kasus narkoba. Dia adalah abang kandung dari JT. Pri a tersebut memesan ganja pada pria berinisial AN yang masih dalam penyelidikan polisi. (SerambiNews.com)

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, petugas LP Kelas IIA Lhokseumawe menemukan dua bal ganja yang dipasok utuk dua napi disembunyikan dalam tong sampah. Ganja itu dipasok untuk Azhari (26) asal desa Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti yang sedang menjalani hukuman di LP tersebut. Ganja itu dipasok pasutri atas permintaaan Afrizal untuk Azhari yang juga berada dalam LP tersebut. Sedangkan Adnan (35) napi asal desa Keude Bungkah, Kecamatan muara Batu, Aceh Utara berperan mengawasi petugas LP dan napi. Ketiganya sampai sekarang masih menjalani hukuman. Sedangkan JT, istri Jd yang juga adik kandung Afrizal berperan mengambil panjar ganja di LP sejumlah Rp 1,8 juta dari total Rp 2,5 juta. Sedangkan ganja tersebut dibeli Azhari melalui Afrizal seharga Rp 3,6 juta.

Sekularisme: Akar Masalah

Penyebab utama maraknya narkoba adalah penerapan falsafah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) dalam masyarakat saat ini. Ketika kehidupan dunia sudah tidak diatur dengan syari’ah Allah lagi, maka hal ini mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya, lupa bahwa kehidupan ini adalah sawah dan ladang beramal untuk akhirat. Akibatnya suburlah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup (hedonisme) dan serba-boleh (permisif). Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan. Prinsipnya bukan halal-haram atau pahala-dosa, tetapi “uang saya sendiri dan badan saya sendiri, terserah saya, kan tidak mengganggu anda”. Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dsb, menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.

Ditambah lagi dengan sistem hukum yang saat ini, pecandu narkoba tidak lagi dipandang sebagai pelaku tindak kriminal, tetapi hanya korban atau seperti orang sakit. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Gories Mere mengatakan (Kompas.com, 4/10): “Pencandu narkoba seperti orang yang terkena penyakit lainnya. Mereka harus diobati, tetapi menggunakan cara yang khusus.”Disisi lain, sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. Miris bukan!!Menerapkan Hukum Syari’ah dalam Setiap Aspek KehidupanKetika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkoba adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. Rasulullah bersabda:… وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ…Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. (HR. Ibnu Majah dg sanad hasan).Ketika syariat Islam diterapkan, maka peluang penyalahgunaan akan tertutup. Landasan akidah Islam mewajibkan negara membina ketakwaan warganya. Ketakwaan yang terwujud itu akan mencegah seseorang terjerumus dalam kejahatan narkoba. Disamping itu, alasan ekonomi untuk terlibat kejahatan narkoba juga tidak akan muncul. Sebab pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu rakyat (papan, pangan dan sandang) dan kebutuhan dasar masyarakat (pendidikan, layanan kesehatan dan keamanan) akan dijamin oleh negara. Setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya sesuai kemampuan masing-masing.Sebagai zat haram, siapa saja yang mengkonsumsi, mengedarkan dan memproduksinya berarti telah melakukan jarîmah (tindakan kriminal) yang termasuk sanksi ta’zir. Pelakunya layak dijatuhi sanksi dimana bentuk, jenis dan kadar sanksi itu diserahkan kepada ijtihad Khalifah atau Qadhi, bisa sanksi diekspos, penjara, denda, jilid bahkan sampai hukuman mati dengan melihat tingkat kejahatan dan bahayanya bagi masyarakat.Terhadap pengguna narkoba yang baru sekali, selain harus diobati/direhabilitasi oleh negara secara gratis, mungkin cukup dijatuhi sanksi ringan. Jika berulang-ulang (pecandu) sanksinya bisa lebih berat. Terhadap pengedar tentu tak layak dijatuhi sanksi hukum yang ringan atau diberi keringanan. Sebab selain melakukan kejahatan narkoba mereka juga membahayakan masyarakat.Wallahu ‘Alam[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *