Peran Ibu terhadap Pendidikan Anak di Masa Pandemi

Peran Ibu terhadap Pendidikan Anak di Masa Pandemi

Jika kebutuhan mereka tidak ada yang perhatikan, maka tidak mungkin para ibu bisa membersamai anaknya di masa pandemi ini. Oleh karena itu mari kembali ke Islam kaffah, yang di dalamnya perempuan dimuliakan, diperhatikan dan tidak diberikan beban yang berat.


Oleh: Nursalmi,S.Ag

POJOKOPINI.COM — “Ini anak-anak belajar di rumah jadi orang tua yang sibuk. Aku stres banget nih jadi pengawas. Materinya banyak banget,” ujar Mesya, seorang wali murid sebagaimana dikutip dari Republika.co.id.

Meski terlihat menyenangkan, pembelajaran di rumah bukanlah sesuatu yang mudah bagi para orang tua. Hal senada pun dicurhati para Ibu yang merasa kesulitan dengan sistem belajar di rumah (home learning). Padahal sejumlah provinsi mulai Senin (16/3/2020) meliburkan sekolah, dari jenjang TK, SD, SMP dan SMA hingga Senin (30/3). Langkah itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus corona jenis baru atau Covid-19 di lingkungan lembaga pendidikan.

Sebagai gantinya, pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah diubah menjadi di rumah. Siswa tetap mengerjakan semua tugas sekolah meski berada di rumah. Orang tua yang juga bekerja dari rumah diminta untuk mengawasi proses belajar anak selama berada di rumah.

Tetnyata libur sekolah selama 14 hari untuk menghindari penyebaran virus corona tidak membuat nyaman bagi anak-anak dan orang tua. Banyak orang tua yang merasa kewalahan jika anak-anaknya diberikan tugas belajar di rumah. Apalagi tugasnya banyak dalam setiap bidang studi, dan orang tua harus mendampingi beberapa orang anak yang harus mengerjakan tugas dari sekolah.

Di sinilah kita melihat bagaimana pentingnya perang orang tua khususnya ibu dalam mendampingi anak-anak saat belajar. Bagaimana peran ibu dalam menghadapi anak stres karena banyaknya tugas dari sekolah, apakah ibu ikut ikutan stres atau lebih stres dari anak-anaknya?

Peran Ibu dalam Perspektif Islam

Islam sangat memuliakan perempuan. Islam tidak membebaninya mengerjakan tugas berat di ranah publik. Islam pun mengangkat derajatnya dengan menempatkan surga di bawah telapak kaki ibu. Islam memuliakannya sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga), agar sepenuhnya bisa mengurus anak-anaknya dan bisa memenej semua urusan rumah tangga.

Perempuan sebagai ibu bagi anak-anaknya tentu mengetahui karakter masing-masing anaknya. Ibu adalah madrasatul ula (pendidik utama dan pertama) bagi anak-anaknya tentu harus memiliki ilmu dalam menjalankan tugas sebagai pendidik untuk mencetak generasi peradaban. Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk pintar, tetapi juga harus diajarkan taqwa kepada Allah SWT. Imtaq (iman dan taqwa) sangat diperlukan. Apalagi di era digital sekarang, agar anak bisa merasakan nilai muraqabah Allah (pengawasan dari Allah).

Seorang ibu juga tidak boleh gaptek, ibu harus mengerti IT, karena anak-anak sekarang sangat pintar mengoperasikan internet. Jika ibu tidak cerdas, bisa-bisa ibu tidak tahu apa yang sedang dilakukan anaknya. Dan apabila iman sangat tipis pada diri anak, dia akan berbohong mengatakan dia sedang belajar atau buat tugas, padahal tidak.

Seharusnya rumah adalah tempat yang paling nyaman bagi anak-anak. Biasanya anak-anak sangat senang ketika ada pengumuman libur sekolah. Apalagi 14 hari, berarti dia berada dalam pangkuan ibunya selama dua minggu. Karena anak-anak begitu rindu berada di sisi ibunya.

Selama ini anak-anak jarang bersama ibu akibat dari sekolah full day. Pulang sore hari bersamaan dengan ibunya pulang kerja, sampai di rumah sama sama kelelahan dan sama sama stres, akhirnya masing-masing masuk kamar. Tidak ada kesempatan untuk ngobrol bersama keluarga, tidak lagi pelukan kasih sayang, sehingga membuat rumah jadi gersang, bahkan seperti kuburan yang sepi.

Di sini juga merupakan tugas orang tua menanamkan disiplin dan kejujuran pada diri anak. Mereka tidak dilarang bermain gawai asalkan pada hal-hal yang positif, khususnya untuk kepentingan belajar. Tanamkan kepada anak bahwa gawai itu menjadi sarana belajar bagi dia. Tutup semua konten negatif yang ada di dalamnya. Setelah selesai belajar tidak lagi bermain gawai.

Bermain game bukanlah ajang untuk santai dan menghilangkan stres. Masih banyak permainan fisik lain yang menyenangkan dan bermanfaat bagi tubuh dan otak. Peran orang tua khususnya ibu untuk mendamping mereka bermain bersama-sama. Pasti sangat menyenangkan bagi anak-anak dan bisa menghilangkan segala beban berat di kepala.

Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan bersama anak-anak ketika mereka berada di rumah. Dampingi mereka saat belajar. Jadikan mereka sebagai murid dan teman. Di saat belajar orang tua mejjadi guru, sementara di saat bermain orang tua menjadi teman bermainnya. Tidak perlu malu ketika ibu ikut bermain lompat karet atau main keong bersama anak-anak, atau ayah bermain permainan yang disukai anak-anaknya. Jadikan rumah sebagai tempat yang paling nyaman bagi anak-anak.

Peran Negara

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, pihaknya mendukung kebijakan pemerintah daerah (pemda) yang meliburkan sekolah karena khawatir dengan penyebaran Covid-19. Menurut Nadiem, keselamatan peserta didik dan guru menjadi yang utama.
Dampak penyebaran COVID-19 akan berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Kami siap dukung kebijakan yang diambil pemda,” ujar Nadiem. (Republika.co.id)

Mendikbud mengapresiasi langkah proaktif yang dilakukan di semua lini pemerintahan daerah serta mitra di kalangan swasta. Namun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima aduan terkait anak-anak yang stres akibat diberi banyak tugas secara online. KPAI meminta Dinas Pendidikan melakukan evaluasi terhadap para guru.(m.detik.com)

Pendidikan anak di masa pandemi memang dialihkan untuk menghindari terinfeksi virus corona. Anak-anak yang biasanya belajar di sekolah menjadi belajar di rumah. Di satu segi hal ini kita sambut positif. Namun sebaiknya pemerintah mempersiapkan segala keperluan yang harus dilakukan saat anak belajar di rumah, termasuk persiapan teknis metode pembelajaran. Jadi tidak semua guru mata pelajaran memberikan tugas setiap hari sesuai roster belajar di sekolah. Hasilnya adalah penumpukan tugas yang tidak sanggup lagi diselesaikan oleh anak, sehingga anak tidak mempunyai waktu istirahat dan membuat anak stres.

Di samping itu pemerintah juga harus memperhatikan kebutuhan rakyatnya. Di masa pandemi masyarakat tidak boleh keluar rumah, semua harus menetap di rumah saja sampai wabah corona berhenti. Termasuk anak-anak harus belajar di rumah, dan otomatis orang tua harus menjadi guru untuk mendampingi anak belajar. Anak-anak juga diharuskan melaporkan kegiatan belajar di rumah kepada gurunya. Harus ada bukti foto anak belajar yang didampingi oleh orang tuanya. Hal ini tidak semua orang tua mampu melakukannya. Di samping fasilitas yang terbatas juga kebutuhan pokok sehari hari yang semakin menipis bahkan habis.

Dalam hal ini pemerintah juga harus memikirkan kebutuhan hidup rakyatnya selama masa pandemi. Bagi masyarakat yang mempunyai kecukupan finansial mungkin tidak masalah, dia bisa membeli segala kebutuhan keluarganya untuk disimpan beberapa hari atau untuk seminggu. Tetapi bagi masyarakat yang ekonomi ke bawah atau rakyat miskin, mana mungkin dia tidak keluar rumah untuk mencari sesuap nasi bagi anak-anaknya. Sungguh tidak mungkin baginya mendampingi anak belajar di rumah. Fasilitas belajarpun belum tentu ada, jangankan laptop mungkin handphone pun tidak punya.

Seharusnya dalam masa pandemi pemerintah memberikan subsidi bahan pokok bagi rakyat miskin. Tidak mungkin orang tua bisa mendampingi anak belajar di rumah sementara dia harus bekerja mencari uang untuk membeli kebutuhan keluarga. Bagaimana anak bisa belajar jika makanan tidak ada. Mana mungkin anak bisa menjaga imunitas jika asupan gizi tidak mencukupi. Jika pemerintah mengabaikan ini maka akan kita dapati gizi buruk pada kebanyakan anak nantinya, dan jangan berharap anak akan cerdas di masa mendatang.

Sungguh kasihan melihat rakyat saat ini, dalam masa pandemi jangankan untuk mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah, untuk mendapatkan satu buah masker saja susah. Jangankan untuk mengkonsumsi vitamin agar meningkatkan imunitas, untuk makan nasi putih saja belum tentu ada. Pemerintah lebih mementingkan pindah ibu kota yang menghabiskan dana ratusan triliun rupiah dari pada memikirkan kebutuhan hidup rakyatnya. Rakyat miskin dibiarkan lapar selama di rumah saja.

Islam sebagai Solusi

Berbagai problema kehidupan bisa diselesaikan dalam Islam. Maka kembalilah kepada Islam, terapkan Islam dalam segala aspek kehidupan. Islam memuliakan perempuan sebagai ummun wa rabbatul bait. Tidak diberikan beban berat kepadanya sebagai pencari nafkah sehingga kehilangan tugas dan fungsinya sebagai ibu pencetak generasi peradaban.

Virus corona yang mengharuskan masyarakat lockdown untuk berdiam diri di rumah saja. Di sini ada sisi positif bagi perempuan. Ketika anak-anak disuruh sekolah di rumah dan ibu harus mendampingi anaknya belajar. Kesempatan bagi ibu untuk membersamai anaknya. Ada kedekatan psikologis antara anak dan ibu selama mereka berada di rumah. Mereka bisa bermesraan dan mempererat ikatan kasih sayang.

Pemerintah juga harus memberikan perhatian khusus kepada perempuan. Memberikan subsidi selama masa pandemi agar mereka tidak perlu keluar rumah, bekerja mencari kebutuhan hidup kelarganya. Jika kebutuhan mereka tidak ada yang perhatikan, maka tidak mungkin para ibu bisa membersamai anaknya di masa pandemi ini. Oleh karena itu mari kembali ke Islam kaffah, yang di dalamnya perempuan dimuliakan, diperhatikan dan tidak diberikan beban yang berat.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *