Peran Muslimah untuk Peradaban

Peran Muslimah untuk Peradaban

Perempuan didorong untuk bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu pertumbuhan ekonomi negara.


Oleh: Mauiza Ridki Al-Mukhtar (Aktivis Dakwah Peduli Umat)

POJOKOPINI.COM — Hari Perempuan Internasional atau dikenal dengan International Women’s Day jatuh pada tanggal 8 Maret. Hari Perempuan Internasional tahun 2020 ini dianggap spesial karena bertepatan dengan diperingati Beijing Declaration and Platform for Action yang ke 25 (BPfA+25). Deklarasi BPfA pertama sekali diselenggarakan oleh lembaga internasional PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) pada tanggal 4-15 September 1995 di kota Beijing, China. Ada 189 negara anggota PBB yang hadir pada konperensi tersebut dan menandatangani deklarasi itu, termasuk Indonesia di dalamnya. Deklarasi tersebut bertujuan untuk mengumumkan serangkaian perinsip kesetaraan gender atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

BPFA menghasilkan 12 bidang kritis dan setiap 5 tahun harus dilaporkan perkembangannya oleh setiap negara. Adapun salah satunya yaitu: perempuan dan kemiskinan, dan perempuan dan ekonomi, dikutip dari Muslimahnews.com (13/3/2020). Tema yang diusung untuk memperingati Hari Perempuan Internasional tahun 2020 ini adalah “Each for Equal“, “Dunia yang setara adalah dunia yang memungkinkan untuk melakukan apapun“.

Deklarasi BPFA Mempromosikan Perempuan untuk Memajukan Pertumbuhan Ekonomi

Melalui deklarasi tersebut mempromosikan bahwa, perempuan tidak dianggap beban melainkan perempuan memiliki potensi luar biasa untuk memajukan pertumbuhan ekonomi dan tentunya diharapkan mampu menuntaskan kemiskinan. Perempuan yang sejatiya tercipta dari tulang rusuk, kini mampu menjadi tulang punggung keluarga. Perempuan yang fitrahnya sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu rumah tangga) dan madrasah al-ula bagi anaknya (pendidik pertama bagi anaknya) kini bisa beralih menjadi wanita pekerja/ wanita karir untuk memunuhi kebutuhan keluarga.

Perempuan didorong untuk bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu pertumbuhan ekonomi negara.

Salah satu kebijakan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan devisa negara melalui ekspor TKW (Tenaga Kerja Wanita) ke luar negeri, dengan itu negara diuntungkan karena banyaknya devisa negara yang dihasilkan. Dan tentunya diharapkan mampu menyejahterakan keluarga yang ditinggalkannya.

Perempuan hebat dianggap dalam kesetaraan gender adalah perempuan yang bekerja. Meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ibu rumah tangga dan pendidik utama bagi anaknya. Akibatnya perempuan terus disibukkan dengan bekerja. Sehingga menyebabkan retaknya tatanan keluarga, karena anak tidak ada yang memantau dan mengurusnya. Suami banyak yang selingkuh hingga menyebabkan maraknya angka perceraian. Dikutip dari detiknews.com (28/2/2020), angka perceraian di Indonesia sebanyak 485.223 pasangan sepanjang tahun 2019, angka ini terus naik setiap tahunnya. Faktor utama dalam perceraian tersebut akibat faktor ekonomi dan perselingkuhan.

Tidak hanya itu perempuan yang bekerja juga rentan terhadap pelecahan seksual dan diskriminasi. Dikutip dari suara.com (26/3/2020), kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 431.471 kasus dan 2.341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan. Menurut data tersebut 571 kasus merupakan kasus kekerasan seksual. Kekerasan terhadap perempuan meningkat 792% dalam kurun waktu 12 tahun. Kekarasan terhadap perempuan banyak terjadi dalam lingkungan kerja. Seperti banyak para buruh mengalami diskriminasi fisik dan pelecehan seksual, banyak kasus TKW yang disiksa di luar negeri dan lain-lain.

Gender Bukan Solusi, Melainkan Justru Menjadi Petaka Bagi Kaum Hawa

Hal ini tentu memberikan bukti bahwa kesetaraan gender yang digaungkan bukanlah solusi bagi kaum hawa melainkan justru menjadi petaka. Kasetaraan gender yang digaungkan merupakan hasil dari sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme berdiri atas azas manfaat. Dalam sistem kapitalisme ini lapangan pekerjaan lebih banyak dibuka bagi kaum wanita dari pada kaum laki-laki. Hal ini karena perempuan dianggap bekerja ulet dan bisa digaji murah. Inilah yang menyebabkan perempuan terus didorong untuk bekerja sebagai mesin pencetak uang bagi ekonomi pengusaha dan negara.

Hukum Perempuan Bekerja dalam Sistem Islam

Hal ini tentu berbeda dengan sistem Islam. Berbicara mengenai Islam, Islam bukanlah agama yang mengatur masalah ibadah semata, seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Tapi Islam merupakan agama yang paripurna mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk masalah hukum bekerja bagi perempuan. Dalam Islam perempuan memiliki derajat terhormat bahkan surgapun berada di bawah telapak kakinya yaitu surga di bawah telapak kaki ibu. Dalam Islam hukum perempuan bekerja adalah mubah (boleh) tidak menjadi wajib, justru yang wajib bekerja dan menafkahi keluarga adalah kaum laki-laki. Karena tugas utama seorang perempuan adalah ummu warabbatul bait dan madrasah al-ula bagi anaknya.

Sistem Islam akan membuka lapangan pekerjaan yang banyak bagi laki-laki dengan gaji yang memadai yang mampu memenuhui kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi keluarganya. Sehingga perempuan tidak perlu bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sistem Islam juga akan mendorong perempuan Islam (Muslimah) untuk belajar dan berpendidikan tinggi sebagaimana hadis Rasululullah Saw bersabda yang artinya: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim”. (HR Ibnu Majah, no.224). dalam pendidikan Islam juga akan mamasukkan kurikulum untuk pendidikan perempuan yaitu: peran menjadi ibu, mengurusi keluarga dan lainnya. Sehingga wajar dalam sistem Islam lahir generasi unggul dan cerdas.

Tak hanya generasi unggul dan cerdas saja yang lahir dari sistem Islam, melainkan sistem Islam juga melahirkan Muslimah hebat yang tidak hanya mampu mencetak generasi unggul tetapi memiliki keilmuan yang mumpuni. Seperti Mariam Al-Atrolabiya merupakan ilmuan Muslim yang menciptakan atrolabe yaitu intrumen global positioning yang menentukan posisi matahari dan planet-planet lain. Versi modern ini dikenal dengan Global Positioning Sytem (GPS) (Republika.co.id, 25/2/2014).

Kemudian ada satu lagi Muslimah hebat pendiri universitas pertama di dunia yaitu Fatimah al-Fihri. Fatimah al-Fihri mendirikan Universitas al-Qarrawiyyin berdiri pada tahun 859 M di kota Fes, Maroko. (Islami.com,27/11/2018). Dan masih banyak lagi muslimah hebat dan cerdas yang lahir dari peradaban Islam.

Peran Muslimah dalam Peradaban

Muslimah memiliki peran yang urgen dalam peradaban yaitu untuk mencetak generasi emas, generasi unggul, cerdas dan tentunya bertakwa, berakhlakul karimah sesuai dengan tuntunan Islam. Kemudian Muslimah juga memiliki kewajiban berdakwah menyeru kepada yang baik dan mencegah kemungkaran, serta Muslimah memiliki peran dalam sumbangan keilmuan yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, baik ilmu murni, fiqih dan lainnya.

Inilah gambaran Muslimah hebat pengukir sejarah yang lahir dari sistem Islam. Sistem Islamlah yang mampu mengembalikan fitrah perempuan yang hakiki. Namun hanya saja sistem Islam yang paripurna hanya dapat terwujud dalam institusi politik yaitu Khilafah (negara Islam). Tanpa Khilafah maka hukum Islam tidak dapat diaplikasikan sacara kaffah/sempurna. Maka dari itu penegakan Khilafah menjadi kewajiban bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, untuk membebaskan perempuan dari jerat kapitalisme yang rusak. Wallah a’lam bi ash-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *