Peran Penting Negara Menghilangkan Tindak Pembunuhan

Peran Penting Negara Menghilangkan Tindak Pembunuhan

Oleh : Abu Taqi
(Pemerhati Sosial)

WWW.POJOKOPINI.COM — Aman dari tindak kriminalitas adalah keinginan kita semua. Terlindungi dan terjaga dari tidak kriminalitas selalu diupayakan siapa saja. Maka tidak aneh segala upaya dilakukan agar ini tercapai. Kita semua setuju dan mendambakan kehidupan damai aman dan tenteram. Namun apakah saat ini kita bisa memperolehnya? Saya pikir tidak demikian.

Ini semua tercermin dari pemberitaan media cetak, elektronik sampai mendia online yang kecepatan up date per sekian detik. Menyajikan berita kriminalitas sebagai menu utama dan lainnya hanya pelengkap.

Salah satu dari sekian banyak masalah kriminalitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, yaitu kasus pembunuhan sadis yang dilakukan remaja berumur 15 tahun terhadap seorang anak berusia 5 tahun yang merupakan kawan bermain si pelaku. Dalam pekan ini berita ini gencar diberitakan oleh berbagai media. Sehingga menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan masyarakat awam sampai kalangan praktisi yang expert dibidangnya. Mereka berusaha menguak misteri mengapa pelaku sampai tega melakukan tindak pembunuhan?

Bercerita tindak kriminalitas, seperti bunga yang tumbuh subur di musim semi, walau “seperti” namun terasa berbeda. Kalau bunga yang tumbuh bermekaran, membuat hati merasakan ketenangan, kegembiraan saat menyaksikannya. Namun kalau yang ini sebaliknya membuat hati merasa miris, sedih, gelisah, tidak tenang bahkan rasa takut membayangi.

Apa mau dikata apa lagi mau disangkal ini semua sudah terjadi berulang-ulang. Selama kita masih hidup dalam sistem kehidupan saat ini, bukan suatu hal yang mengherankan.

Tindak kriminalitas bukan hanya terjadi di negeri kita tapi juga terjadi dibanyak negeri. Disadari atau tidak ini semua adalah hasil dari penerapan sistem kapitalisme dan demokrasi. Sistem yang tidak memanusiakan manusia.

Negara Abai Dari Kewajibannya

Kembali ke kasus pembunuhan, di kutip dari media online kompas tv. Ini agak sedikit unik, si pelaku dengan sadar diri menyatakan telah membunuh. Kemudian menyatakan “SAYA TIDAK MENYESAL TAPI SAYA MERASA PUAS,” kata Kombes Heru kepada wartawan di lokasi kejadian, Sawah Besar, Jakpus, Jumat (kompas tv, 06/03/2020) .

Coba baca baik-baik pernyataan diatas yang ditulis dengan huruf besar. Kemudian anda renungkan! Bayangkan! Ini keluar dari mulut remaja yang baru melakukan pembunuhan dengan sadis dengan cara mencekik dan menenggelamkan korban kedalam bak air hingga mati. Sebagai mana penjelasan polisi dalam media.

Kalau kita baca dari berbagai sumber berita, kita dapat menyimpulkan apa yang memicu remaja tersebut melakukan pembunuhan adalah pola pikir yang salah (gangguan kejiwaan) , hasil bentukan dari lingkungan dan tontonan yang menampilkan tindak kekerasan. Seperti tertulis didalam beberapa media, si pembunuh memiliki hobi menonton film bergenre sadis dan horor. Baik disadari atau tidak ini membawa pengaruh terhadap pola pikir si Pembunuh.

Kita tidak akan membahas lebih jauh masalah terkait pola pikir si anak yang terbentuk dari lingkungan dan tontonan yang salah karena ini bukan akar masalah utamanya. Ini hanya dampak dari apa yang terjadi. Dampak dari penerapan sistem hidup yang salah yang mengakibatkan setiap lini kehidupan rusak. Hasilnya memicu berbagai penyimpangan ditengah-tengah masyarakat. Penerapan sistem hidup yang salah ini lah akar dari semua permasalahan yang ada.
Sistem kapitalisme dan demokrasi.

Lingkungan, tontonan, pendidikan sedikit atau banyak membawa dampak dalam pembentukan karakter masyarakat khususnya generasi muda saat ini. Sebenarnya menjadi tanggung jawab siapa untuk mengontrolnya. Apakah tanggung jawab individu? masyarakat? atau negara? Walau tak dipungkiri semua mestinya punya andil.

Disinilah peran negara sangat penting untuk membentuk lingkungan yang baik, mencegah tidak kriminalitas terjadi. Hanya negaralah yang punya wewenang dan kuasa untuk melakukannya sebagai pihak yang menerapkan sistem. Sedangkan masyarakat adalah pelaksana apa yang ditetapkan negara.

Sebagian dari kita mungkin bertanya kenapa harus negara? Kita harus memahami, membentuk lingkungan yang baik, tontonan yang bermanfaat dan pendidikan yang baik bagi masyarakat terkhusus bagi pemuda-pemudi generasi penerus harus dihadirkan oleh negara sebagai pengurus dan pelayan rakyat. Saat ini peran itulah yang tak tampak.

Sistem yang diterapkan menjadi kerangka acuan negara dalam menetapkan kebijakan. Kebijakan-kebijakan inilah yang nantinya menentukan nasib masyarakatnya. Maka setiap kebijakan harus diperhatikan dan dikaji dengan seksama akan dampaknya terhadap masyarakat. Kita ambil contoh kasus pembunuhan ini. Saya akan menjelaskan dua aspek yang mempegaruhi sipembunuh dan kaitannya dengan kebijakan.

Pertama menyangkut tontonan yang tidak memiliki filter yang baik. Dimana bisa kita pastikan tontonan horor dan sadis ini tidak memiliki informasi bermanfaat apapun buat kemajuan kita dan anak bangsa. Malah mempengaruhi pola sikap si penonton untuk pembenaran sikap kekerasan. Semestinya negara memberi filter yang baik untuk setiap tontonan yang akan beredar di dalam negeri dimana aspek utamanya adalah nilai manfaat buat kemajuan bangsa dalam masalah pendidikan masyarakat. Tidak hanya sekedar berstandar keuntungan finansial semata.

Kedua sistem pendidikan yang baik harus dirancang dengan kurikulum yang baik dan benar. Dalam pendidikan tidak semata-mata mendorong para pelajar berprestasi dalam bidang akademik semata. Namun membekali mereka dengan pendidikan perilaku dan mental yang kuat. Mengajarkan standar baik buruk yang benar sehingga para perserta didik mampu membedakan dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Sehingga anak tidak hanya berprestasi dalam akademik namun mereka juga menunjukkan sikap mental yang baik pula.

Kita sadari ini tidak sepenuhnya hadir di pendidikan negeri kita hari ini. Sehingga bukan barang baru jika berbagai tindak kriminalitas terjadi. Mulai dari pembunuhan, pelecehan seksual, tindak kekerasan, narkoba, sampai korupsi yang dilakukan elit politik yang semestinya lebih sibuk mengurus masyarakat.

Sistem buruk kapitalisme dan demokrasi inilah yang sebenarnya memperparah kondisi. Sehingga tidak mengherankan lagi sampai kasus pembunuhan ini terjadi.

Islam Solusi Hakiki

Sebagai seorang Muslim kita di wariskan pemikiran-pemikran Islam yang sempurna dan paripurna serta bagaimana metode pelaksanaannya. Semua tertuang dalam AL-Qur’an sebagai petunjuk hidup dan di tambah lagi dengan sunah Rasulullah saw, yang keduanya pasti terjamin pembuktiannya dalam rentang waktu 14 abad. Membawa umat Islam dalam masa-masa kejayaannya ketika keduanya diterapkan ditengah-tengah masyarakat dalam bingkai daulah Khilafah Islamiyah.

Daulah Khilafah Islamiyah menerapkan sistem pemerintahan Islam yang landasan dasarnya adalah aqidah Islam. Dimana dalam sistem pemerintahan Islam, setiap lini kehidupan diatur dengan baik sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As Sunah. Itu semua menjamin tercapainya kehidupan yang penuh dengan Rahmatan lill alamin. Sehingga tidak ada ketimpangan disetiap bagian lini kehidupan tersebut. Islam mengatur sistem pemerintahan, sietem pergaulan, sistem pendidikan, sistem kesehatan, sangsi hukum (syariat) dan ibadah.

Untuk menjamin tujuan yang dicapai Khilafah Islamiyah memastikan tiga pilar negara tercapai. Pertama ketakwaan individu yang tentu lahirnya dari pemahaman akidah yang baik dan benar. Dimana dalam Khilafah Islamiyyah pendidikan dan pembinaan tentang akidah diajarkan secara mendalam dan cemerlang dengan memberi pemaham yang benar sesuai dengan tuntunan Islam. Sehingga bila landasan dasar ini yaitu akidah dipahami dengan baik dan benar makan akan melahirkan individu-individu yang bertakwa.

Tidak hanya akidah Syariat islam juga diajarkan kepada seluruh masyarakat sehingga masyarakat memahamin pekara haram dan halal dengan jelas sehingga dapat melaksanakan perintah Allah dengan baik dan benar.

Setelah induvidu yang bertakwa, maka yang kedua adalah kontrol masyarakat. Dimana didalam masyarakat saling ingat-mengingatkan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Untuk menjaga keistiqomahan setiap induvidu dalam melaksanakan ketakwaannya kepada Allah swt. Fitrah manusia adalah penuh kekurangan oleh karenanya peran saling menasehati dan mengingatkan sangat penting.

Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Tamim al-Dariy, Rasulullah saw bersabda:

“Agama itu nasihat, kami bertanya: Untuk siapa ? Beliau menjawab untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pimpinan kaum msulimin dan umumnya kaum msulimin. (HR. Muslim)”

Pilar ketiga adalah penerapan hukum (syariat Islam) yang dilakukan oleh negara. Dimana hukum yang diterapkan benar-benar dapat menyelesaikan segala problematika umat. Hukum ini mesti datang dari yang Maha tahu, yang Menciptakan manusia dan alam semesta, yaitu Allah SWT .

Bila ketiga pilar ini terlaksana maka problem umat menyangkut kriminalitas secara otomatis dapat teratasi. Karena semua upaya yang dilakukan akan menghilangkan tidak semua bentuk kriminalitas termasuk pembunuhan. Individu masyarakat dibekali aqidah dan syariah yang pasti akan menjauhkan diri dari perbuatan kriminalitas. Dijaga dengan control masyarakat yang sesuai syariat Islam dan tentunya diterapkan sangsi Islam untuk menghukum para pelaku kriminalitas yang menimbulkan efek jera.

Intinya negara harus hadir dalam melindungi dan melayani masyarakat. Itu semua hanya mampu di lahirkan dari penerapan Islam secara kaffah melalui bingkai Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *