Perang Hunain, Ketaatan dan Tingginya Diplomasi Toleransi Islam

Islam lebih mengutamakan adanya diplomasi, tidak semua jalan perang ditempuh oleh Rasul untuk mengajak kaum di luar Islam untuk memeluk Islam, beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.


Oleh: Sarah Ainun

POJOKOPINI.COM — “Betapa kemenangan Islam dan kaum muslimin itu tidak bergantung pada jumlah, tidak bergantung pada kekuatan fisik, tetapi tergantung pada pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala,” jelas KH Yasin Muthohar, dalam Kajian Sirah Perang Hunain, pada Khilafah Chanel selasa, (30/03/2021) pukul 20.00 WIB tersebut.

Dalam Islam dikenal istilah bulan haram yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Keempat bulan itu diyakini dan sangat diagungkan oleh bangsa Arab. Mereka mengharamkan untuk berperang dibulan-bulan tersebut sebagai bentuk atau simbol penghormatan mereka. Inilah sebabnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menghentikan perang Hunain meskipun Rasul dan pasukan kaum muslimin sudah mengepung Tha’if.

“Tapi karena sudah taat dengan aturan yang berlaku pada saat itu di Jazirah Arab dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tidak mau melanggar itu, maka Rasulullah Saw menghentikan, menghentikan peperangan. Akhirnya Rasul berpikir bagaimana supaya tetap menang, Rasul berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, jadi agar mereka itu datang dalam keadaan tunduk kepada Islam,” jelas KH Yasin.

Lebih lanjut beliau menceritakan, “Jadi Rasul sebelum pulang itu berhasil membujuk, membujuk, apa ya? Diplomasi-diplomasi dan akhirnya sebenarnya tha’if itu nanti mereka datang sendiri, takluk sendiri, jadi karena doa.” Islam lebih mengutamakan adanya diplomasi, tidak semua jalan perang ditempuh oleh Rasul untuk mengajak kaum di luar Islam untuk memeluk Islam, beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Di akhir kajianya beliau menceritakan 11 tahun sebelumnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah mendoakan orang-orang di Tha’if agar beriman kepada Allah, bisa saja Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam saat itu sudah mengetahuinya kalau orang-orang di Tha’if nantinya akan beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala namun Rasul tidak diam saja menunggu. Dan di sini Rasul mengajarkan kepada kita jangan menanti-nanti untuk berkarya, jangan melihat hasil, jangan menunggu hasil karena kewajiban kita adalah menjalani proses.

“Kalau ada kesempatan lakukan, kalau ada peluang ambil peluangnya berkaryalah, berjuanglah selama masih ada kesempatan. Selagi ada peluang, peluang itu ambil jangan disia-siakan. Begitu, jadi ini yang harus kita lakukan,” ajaknya kepada seluruh peserta yang mengikuti kajian di Khilafah Chanel.

“Orang sukses itu adalah orang yang selalu mencari peluang. Peluang sebelum ketemu sudah dicari-cari peluang itu, orang biasa adalah orang yang dia membiarkan peluang yang ada, orang yang gagal adalah orang yang dia baru memamfaatkan peluang setelah waktunya habis,” imbuhnya.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *