Perbudakan Modern, Dampak Destruktif Sistem Kapitalisme Demokrasi

Perbudakan Modern, Dampak Destruktif Sistem Kapitalisme Demokrasi

Apa yang membuat rakyat memberanikan diri mengadu nasib rela ‘diperbudak’ adalah kebutuhan hidup yang tak terjamin di negeri sendiri. Sederhananya, manusia perlu uang untuk bisa hidup, dan segala kebutuhan itu tak terjamin dalam sistem kapitalisme demokrasi yang ‘mahal’ ini. Tak dapat dibantah bahwa biaya kebutuhan hidup semakin tinggi sementara peluang yang ada sangat sedikit.


Oleh: Cut Putri Cory, S. Sos (Koordinator Intellectual Muslimah Squad)

POJOKOPINI.COM — Memang tak ada kebaikan bagi peradaban manusia di dalam sistem kapitalisme demokrasi. Berulang kali kita dibuat tersentak dengan perbudakan modern yang baru-baru ini kembali terkuak, kali ini dialami oleh Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia di kapal ikan berbendera Cina. Empat orang meninggal, entah bagaimana penguasa ini kelak berhujjah di sisi Allah atas apa yang dialami rakyatnya.

Miris. Kasus ini secara tidak langsung membuktikan masih adalah perbudakan di era modern. Hal ini senada dengan ungkapan juru kampanye laut Greenpeace Asia Tenggara, Arifsyah Nasution yang angkat bicara mengatakan bahwa apa yang dialami ABK Indonesia di kapal ikan berbendera Cina merupakan contoh nyata perbudakan modern di laut.(Kompas.com, 10/5/2020)


Tentu sangat disayangkan, hidup keras demi mencari rupiah agar bisa mengganjal perut diri dan keluarga di kampung dijajal para “budak” ini. Pergi menjelajah negeri meski harus terpisah jauh dari famili, tak apa asal bisalah diri menafkahi. Mengapung di atas laut dan sehari-hari meminum air dari penyulingan air laut, terpaksa meski hal ini memicu gangguan kesehatan bagi ABK Indonesia. Kehidupan mereka pun terkungkung karena paspor disita oleh kapten kapal, bahkan mereka dibuat tak berdaya dengan upah murah dan jam kerja yang tak manusiawi. (Tirto.id, 9/5/2020)

Habis manis sepah dibuang, agaknya persis dengan apa yang dialami rakyat tak berdaya yang terjebak dalam perbudakan modern. Setelah tenaga, pikiran, dan waktunya terkuras habis, mereka jatuh sakit dan mati pun dilarung ke laut. Tubuh hilang tak berbekas. Jenazah ABK yang diketahui bernama Ari diduga bukan yang pertama kali. Sebelumnya ada dua jenazah lain yang meninggal dunia di atas kapal milik negeri Tirai Bambu itu. (Pikiran-rakyat.com, 7/5/2020)

Lepas Tangan Penguasa terhadap Rakyat

Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, kepada Tirto.id menyebut perbudakan modern di kapal Cina itu menunjukkan tak ada perbaikan strategis dan langkah mitigasi menangani kerentanan pekerja migran sektor kelautan Indonesia. Hal ini menampakkan minimnya pembelaan negara terhadap hajat hidup rakyat. Jika negara sudah enggan membela, maka seluruh rakyat ‘dilepaskan’ ibarat yatim piatu yang tak punya tempat bernaung.

Terang bagi kita semua bahwa fakta perbudakan modern yang menimpa rakyat terjadi karena tidak adanya pembelaan negara terhadap hak-hak warga yang bekerja dengan pihak asing. Itulah yang memang menjadi keniscayaan dalam penguasaan sistem kapitalisme demokrasi, yang diambilnya dari kita semua adalah potensi yang dianggap menguntungkan secara materi, namun di sisi lain tak ada penghargaan terhadap kemanusiaan. Tak ada penjagaan terhadap eksistensi peradaban manusia, bahkan menumbuhsuburkan perbudakan yang tak manusiawi.

Apa yang membuat rakyat memberanikan diri mengadu nasib rela ‘diperbudak’ adalah kebutuhan hidup yang tak terjamin di negeri sendiri. Sederhananya, manusia perlu uang untuk bisa hidup, dan segala kebutuhan itu tak terjamin dalam sistem kapitalisme demokrasi yang ‘mahal’ ini. Tak dapat dibantah bahwa biaya kebutuhan hidup semakin tinggi sementara peluang yang ada sangat sedikit.

Penguasa memang tak menjamin tercukupinya hajat hidup rakyat secara sempurna dan menyeluruh, di sisi lain, penguasa juga tak memberi perlindungan terhadap rakyat yang membenam diri dalam pergulatan ekonomi demi bisa mencukupi hidup. Lantas kepada siapa lagi rakyat mau berharap? Sudahlah tak terjamin kebutuhan dasar (hajatul asasi) yang merupakan perkara pokok dalam kehidupan rakyat seperti makanan, tempat tinggal, rasa aman, pendidikan, dll, pun tak terjamin pula upaya-upaya keras yang dilakukan rakyat demi mencukupi semua itu secara mandiri.

Lebih menyakitkan lagi ketika kita mendapati penguasa bersikap manis dengan negara pelaku perbudakan rakyatnya. Kita bertanya-tanya dan patut menduga kuat bahwa penguasa pun terjebak dalam konstelasi perbudakan dunia yang diciptakan sistem kapitalisme demokrasi. Namun fakta buruknya pembelaan negara kapitalis terhadap rakyat tak boleh sekadar dipahami sebagai kesalahan individu penguasa, tapi ini merupakan dampak sistemik yang harus mewujudkan kesadaran atas bobroknya sistem yang ada. Kemudian kesadaran itu harus mampu mendorong keseriusan umat memperjuangkan perubahan mendasar dan sistemik.

Mewujudkan Sistem Kuat dan Kepemimpinan yang Peduli

Sistem kapitalisme demokrasi meniscayakan kepemimpinan yang abai terhadap nasib rakyat. Kita menyaksikan fakta ini berkali-kali. Dan harus sampai berapa kali lagi perbudakan ini terjadi untuk membuat kita sadar bahwa sistem kapitalisme demokrasi tak memunculkan kecuali kehancuran? Sungguh kita sangat membutuhkan sistem kuat yang mampu mewujudkan kepemimpinan yang peduli, yang manusiawi. Dan sistem itu adalah Islam.

Ya, Islam adalah sistem. Di dalamnya terdapat aturan untuk menyejahterakan manusia, Islam berisi sistem atau syariat yang memanusiakan manusia. Syariat mencakup seluruh aspek hidup manusia, mengatur dan menjamin terpenuhinya hajat hidup insan yang berada dalam naungan sistem Islam. Itulah sebab Islam tak hanya sekat imajiner yang tanpa bekas, dia sangat berpengaruh terhadap keselamatan peradaban manusia.

Dalam praktiknya, Islam memiliki mekanisme penerapan syariat Islam itu. Diaturlah negara sebagai pelaksana syariat di bawah kepemimpinan seorang Khalifah yang bertanggungjawab atas seluruh manusia yang berada di dalam Daulah Khilafah, baik Muslim ataupun bukan.

Islam mewajibkan Khalifah untuk menghilangkan kezaliman dan penderitaan rakyat, di sisi lain mengharamkan kerja sama apalagi bersikap manis terhadap kaum kuffar dan negeri yang menzalimi rakyat. Inilah penguasa yang kita rindukan, sejarah Islam mencatat bagaimana dengan kepemimpinannya Khilafah mampu menyejahterakan.

Sangat berbeda dengan apa yang terjadi di dalam sistem kapitalisme demokrasi yang justru menumbuhsuburkan perbudakan modern. Sangat tak manusiawi. Biarlah sistem ini menjadi sejarah kelam kehidupan kita, hari ini kita harus sudah beranjak dari lumpur untuk membersihkan diri dan bangsa ini dari peradaban kotor kapitalisme demokrasi. Menghilangkan nestapa rakyat dengan berkonsolidasi mewujudkan kepemimpinan sistem Islam dalam Khilafah.[]

Ilustrasi: JPNN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *