Perceraian di Masa Pandemi ibarat Fenomena Gunung Es

Perceraian di Masa Pandemi ibarat Fenomena Gunung Es

Pada aspek kerentanan secara spiritual maka keimanan pasangan di uji dalam kondisi yang sulit pada masa pandemi ini, berbagai dampak pada masa pandemi ini menjadi ujian berat bagi banyak keluarga di Indonesia.


Oleh: Hardita Amalia, S.Pd.I., M.Pd.I (Mom Of Three, Dosen, Penulis Buku Anak Muda Keren Akhir Zaman Qibla Gramedia, Peneliti dan  Anggota Adpiks, Pemerhati Pendidikan, Konsultan Parenting, Founder Sekolah Ibu Pembelajar, Founder Sunrise Fun Learning Pre School, Founder Madani Fun Learning Quran)

POJOKOPINI.COM — Bagaikan fenomena gunung es, angka perceraian begitu tinggi di masa pandemi Covid 19. Penulis mengutip data republika.com (11/9/2020) Tahun 2019 perceraian karena cekcok sebanyak 244.452 kasus atau 55 persen. Pada 2020 dari Januari sampai Juli kasus perceraian karena cekcok sebanyak 151.863 kasus atau 58 persen.

Faktor penyebab perceraian tinggi di masa pandemi juga disebabkan oleh faktor ekonomi mengutip data Pengadilan Agama Cianjur, tingkat perceraian di Cianjur meningkat. Jumlah pendaftar gugatan dalam satu hari mencapai 50 orang. Hingga kini, terdaftar 2.029 perkara gugatan cerai karena alasan ekonomi.

Ekonomi yang anjlok di masa pandemi Covid 19 ini menjadi hantaman bagi banyak keluarga di Indonesia. Di antaranya banyaknya kepala rumah tangga yang mengalami  PHK Massal oleh perusahaan-perusahaan tempatnya bekerja.

Penulis mengutip data bbc.com (9/4/ 2020) jumlah karyawan yang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan sejauh ini mencapai lebih dari 1,2 juta orang akibat pandemi virus corona.Hingga memuncak Sedangkan, dari data yang sudah di cleansing dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencapai 2,1 juta orang yang terdata by name by address.

Pekerja formal yang dirumahkan mencapai 1,1 juta orang sementara yang di-PHK mencapai 380.000 orang. Sementara itu, pekerja sektor informal yang terdampak mencapai 630.000 orang. Maka kondisi ini menurut analisa penulis penyebabnya dilatarbelakangi oleh beberapa faktor di antaranya:

Pertama, pada aspek kerentanan secara spiritual maka keimanan pasangan di uji dalam kondisi yang sulit pada masa pandemi ini, berbagai dampak pada masa pandemi ini menjadi ujian berat bagi banyak keluarga di Indonesia. Maka perlu terus saling menguatkan antar pasangan secara spiritual sehingga mampu melewati badai pandemi ini dengan baik.

Faktor kedua menurut penulis, adalah dampak finansial yang mengguncang kondisi  keluarga di Indonesia, sehingga kesulitan ekonomi menjadi faktor pemicu terbesar kasus tingginya perceraian di Indonesia.

Banyaknya kepala rumah tangga yang kehilangan pekerjaan karena PHK massal atau usaha yang gulung tikar menjadikan para istri mengajukan gugatan cerai.

Maka menurut penulis, dalam setiap rumah tangga dalam kondisi finansial apapun tetap harus bertahan karena kita harus yakin, Allah akan memberikan rizqi dan jalan yang tiada disangka bila kita senantiasa memupuk keimanan dan ketaqwaan tanpa henti terus  berusaha. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At Talaq ayat 3 yakni berbunyi :

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Maka jangan sampai kesulitan ekonomi menjadi rumah tangga menjadi tercerai berai. Dan faktor ketiga menurut penulis, tingginya angka perceraian di Indonesia adalah belum adanya upaya maksimal pemerintah dalam mengatasi problem pandemi ini, pemerintah sebagaimana amanat undang – undang menjamin kesejahteraan rakyat, juga menjadi perisai warga, maka upaya serius harus dilakukan pemerintah untuk mampu menekan angka perceraian tinggi  di masa pandemi.

Dalam perspektif Islam negara mempunyai tanggung jawab tertinggi mengurusi segala urusan rakyat termasuk bagaimana negara menjadikan Islam sebagai aturan dalam berbagai lini aspek kehidupan. Ketika Islam diterapkan  terbukti mampu menyelesaikan ragam persoalan mulai wabah hingga menekan angka perceraian karena Islam adalah solusi yang komprehensif menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *