Perempuan Aceh Petarung di Lautan, Siapakah Dia?

Perempuan Aceh Petarung di Lautan, Siapakah Dia?

Malulah pada indatu kita jika hari ini kita ragu dalam menyampaikan kebenaran, karena karakter Muslimah adalah dia yang berdiri kokoh di atas rel syariat dan takkan goyah apapun tantangannya. Dan itu telah dibuktikan oleh para pendahulu kita.


Oleh: Nusaibah Ummu Imarah

POJOKOPINI.COM — Jari telunjuk itu mengarah ke satu titik strategis, lorong kecil 12 Mil yang menjadi lorong tersibuk sepanjang sejarah perdagangan dunia. Adalah Selat Malaka, tempat dipukul mundur pasukan kaphe (kafir) dengan semangat ‘La ilaaha illallah Muhammad Rasulullah’, ghirah perjuangan Islam. Selat yang membelah kapitalisme timur dan barat itu menjadi saksi ketangkasan Laksamana Keumalahayati dan pasukannya dalam pertarungan laut melawan rakusnya penjajahan.

Jauh sebelum invasi militer Belanda 1873 ke Aceh, seorang Nakhoda kapal Belanda berkebangsaan Inggris yang turut serta dalam pelayaran dua Cornelis de Houtman, John David, mengungkapkan bahwa kekuatan militer Aceh di masa kepemimpinan Laksamana Keumalahayati memiliki perlengkapan armada laut yang diantaranya terdiri dari 100 buah kapal (galley) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang. Dan salah seorang Laksamana Laut Aceh adalah seorang Muslimah yaitu Laksamana Keumalahayati.

Tepat pada 31 Juni 1601, Laksamana Jacob van Neck masuk di Pelabuhan Aceh. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Laksamana Keumalahayati pun langsung memerintahkan penahanan bagi mereka, tindakan itu mendapat persetujuan dari Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Saidi Mukammil yakni sebagai balasan atas tindakan Belanda (Paulus van Caerden) di tahun sebelumnya yang telah menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh dan mengambil seluruh muatannya. Kapal itu dirampas dengan dalih bahwa Aceh dan Portugis tengah berkomplot hendak menyerobot kapalnya. Akhirnya Jacob van Neck terpaksa keluar dari Aceh dengan tangan hampa.

Laksamana Keumalahayati adalah salah satu dari banyak Muslimah Aceh yang menjadikan hidup dan matinya adalah untuk Islam dan kaum Muslimin. Ketangkasannya dalam pertarungan di laut bukanlah tercipta begitu saja, melainkan dari kerasnya latihan dan pedihnya badai demi badai yang dilaluinya. Ada sebuah ungkapan, “Seorang pelaut ulung itu tidak lahir dari laut yang tenang!” Itulah mengapa tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa Perang Aceh menjadi mesin pencetak Muslimah tangguh pejuang Islam.

Keumalahayati adalah besutan lembaga pelatihan militer yang dibentuk oleh Daulah Khilafah Utsmaniyah sebagai bukti kepedulian Khilafah kepada Allah. Ini dukungan politik luar biasa selain persenjataan dan para ahli strategi perang.

Badai penjajahan yang dialami Aceh sebagai konsekuensi logis atas strategisnya tempat duduk Aceh dalam peta dunia adalah jawaban dari terbentuknya karakter pejuang tangguh yang fokus hidupnya hanya untuk Islam dan mewujudkan kemuliaan kaum Muslimin.

Tak beda dengan yang sekarang kita alami, badai itu ada meski dengan gaya lain. Jika dulu Laksamana Keumalahayati menggempur dan digempur dengan kekuatan fisik, kini kita dijajah dengan penjajahan pemikiran. Dicekoki generasi kita dengan pemikiran yang menjauhkannya dari Islam sehingga dia berdiri tegak untuk menjadi manusia pembangkang dan enggan menerapkan syariat.

Inilah medan juang kita para Muslimah saat ini, melawan segala bentuk pemikiran yang menjauhkan generasi dari Islam, dan mengarahkannya kepada kemuliaan identitas Islam yang harus melekat pada diri setiap individu generasi Muslim.

Dalam aktivitas perjuangan itu, kita patut menjadikan Laksamana Keumalahayati sebagai contoh sekaligus ‘cambuk’ untuk tak berkeluh kesah dalam aktivitas dakwah mewujudkan kehidupan Islam. Berjamaah saling tolong menolong dalam dakwah, saling menjaga, dan bersikap tegas terhadap syariat Allah adalah kunci utama.

Malulah pada indatu (nenek moyang) kita jika hari ini kita ragu dalam menyampaikan kebenaran, karena karakter Muslimah adalah dia yang berdiri kokoh di atas rel syariat dan takkan goyah apapun tantangannya. Dan itu telah dibuktikan oleh para pendahulu kita.

Bangkitlah dan bersatu saling bahu membahu mewujudkan kembali kejayaan Islam dalam bingkai Khilafah. Bangkitlah dari keterpurukan yang menjadikan kita dan pendahulu kita berbeda, kita bisa menyamainya dalam aktivitas perjuangan Islam dan menjadi kerabatnya kelak dalam Jannah Firdaus. Insya Allah.[]

Referensi : Buku Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-Raja Hingga Kolonial karya Bayu Widiyatmoko

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *