Perempuan, Agen Literasi Peradaban

Semua ini karena sistem Islam yang menjamin ketersediaan ilmu dengan sarana prasarana terbaik. Pun hanya dengan sistem Islam akan perempuan sebagai agen literasi untuk peradaban akan tercapai.


Oleh: Nur Rahmawati, S.H (Penulis dan Pendidik Generasi)

POJOKOPINI.COM — Perempuan yang tangguh adalah aset keluarga bahkan negara, guna mencetak generasi mulia. Bersamaan dengan itu, perempuan juga makhluk yang kompleks dengan segala talenta dan kemampuannya untuk memajukan sekaligus membangun peradaban. Banyak cara yang digunakan oleh perempuan untuk mewujudkan salahsatunya dengan jalan literasi.

Kemampuan literasi perempuan tak dapat dipandang sebelah mata. Banyak bukti dan karya yang ditorehkan menghiasi kertas putih dengan aksara. Sebut saja tokoh perempuan Indonesia R.A. Kartini dengan buku fenomenal berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang“. Dalam bukunya, Kartini menumpahkan kegundahan yang dirasakan. Bagaimana ketika itu perempuan menjadi kelas dua, tertindas, bahkan untuk mengenyam pendidikan pun sulit dirasa. Maka, melalui literasi Kartini mulai menceritakan kegundahannya yang pada akhirnya perempuan diperkenankan untuk mengenyam pendidikan.

Sekilas cerita tentang Kartini dengan literasinya. Membuka mata kita, perlunya literasi untuk menjadi wasilah mengangkat kaum hawa. Maka, perempuan adalah agen literasi yang luar biasa guna peradaban mulia. Sebagaimana perempuan pada masa datangnya Islam.

Berbeda ketika di masa jahiliyah, sudah menjadi sejarah kelam bahwa perempuan tidak memiliki kehormatan, dijadikan pemuas nafsu bahkan jika bayi-bayi terlahir perempuan, akan menjadi aib keluarga dan akhirnya dikubur hidup-hidup. Na’udzubillahi mindzalik. Namun, ketika Islam datang kemuliaan perempuan baru terwujud. Perempuan menjadi makhluk yang sangat dilindungi dan dihargai. Hal ini tergambar pada firman Allah yang diabadikan dalam surah An-Nisa.

Pentingnya Melek Literasi

Kerusakan generasi yang sistemik saat ini disebabkan faktor yang berjalin berkelindang, tak dapat dipisahkan. Permasalahan yang kian kompleks tidak hanya pada problem keluarga atau pendidikan saja bahkan melibatkan hampir semua aspek seperti ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang menjadi sangat erat pada lingkungan bagi keluarga dan institusi pendidikan.

Penyebab utama dari kerusakan tersebut disebabkan karena sistem sekularisme yang mencetak kebodohan dan miskinnya ilmu. Bahkan tingkat literasi para remaja menduduki urutan sangat memprihatinkan. Mereka lebih memilih bergaul dengan gawainya dibandingkan menyibukkan diri dengan membaca, menulis, dan kegiatan apa saja yang berbau literasi termasuk mengamati berita.

Pentingnya peran literasi di sini akan membuka cakrawala berpikir. Apalagi saat ini perang yang terjadi adalah perang pemikiran. Umat Islam kian terpuruk dengan keadaan yang disebabkan salahnya pengambilan sistem kehidupan.

Dari tiga puluh empat provinsi di Indonesia, 9 provinsi masuk dalam kategori aktivitas literasi sedang; 24 provinsi masuk kategori rendah; dan 1 provinsi masuk kategori sangat rendah. Artinya tidak satu pun provinsi termasuk ke dalam level aktivitas literasi tinggi. (Litbang.kemdikbud.go.id, 17/5/2019).

Fakta tersebut membuktikan bahwa, kelemahan literasi telah merambah berbagai provinsi di Indonesia. Sehingga tidaklah berlebihan jika penyebab itu semua adalah sistem rusak saat ini yang masih diadopsi. Sistem sekularisme yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Maka, tidak heran jika saat ini menuntut ilmu bukanlah dianggap wajib. Bahkan, kesadaran akan hal ini lemah adanya.

Oleh karenanya, diperlukan optimalisasi semua peran guna membangkitkan literasi untuk kaum muda dan seluruh lapisan masyarakat, di antaranya:

Pertama, peran keluarga. Ibu memiliki peran utama dan pertama sebagai pendidik. Menumbuhkan literasi guna tercipta peradaban gemilang dapat menyapu kebodohan. Ibu dengan diimbangi peran ayah menjadi kolaborasi luar biasa bagi anak dalam lingkup keluarga. Sehingga, anak akan memahami penting dan wajibnya menuntut ilmu setiap waktu. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Al-Quran Q.S. Al-Mujadalah ayat 11:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kedua, peran masyarakat. Tidak kalah berpengaruhnya bahwa masyarakat dapat menjadi penjaga yang kuat bagi generasi dari kebodohan. Bahkan, masyarakat dapat pula menjadi magnet untuk menumbuhkan literasi di lingkungannya.

Ketiga, peran negara. Inilah peran utama yang menjadi mercusuar bangkitnya peradaban literasi dan mencetak para perempuan sebagai agennya. Melalui supra powernya dapat menerapkan aturan yang menjadikan aktivitas menuntut ilmu jadi wajib bagi setiap insan.

Lantas aturan apa yang terbukti mampu melahirkan peradaban ilmu? Tentunya dapat kita faktai bersama bahwa, lahirnya para imam yang mazhabnya diikuti Muslim dunia dan para ilmuwan yang buku dan karyanya menjadi rujukan sepanjang masa. Semua ini karena sistem Islam yang menjamin ketersediaan ilmu dengan sarana prasarana terbaik. Pun hanya dengan sistem Islam akan perempuan sebagai agen literasi untuk peradaban akan tercapai.

Betapa Allah akan memuliakan orang yang berilmu dan mengangkat derajat mereka beberapa kali lebih tinggi daripada yang tidak menuntut ilmu. Dalam sebuah Hadis pun disebutkan tentang keutamaan mempelajari ilmu pengetahuan dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Wallahu’alam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *