Perempuan Berdaya dengan Sistem Islam

Apakah dengan perempuan berdaya secara ekonomi maka akan membawa kebangkitan dan kesejahteraan? Agaknya butuh direnungkan kembali anggapan tersebut. Jangan sampai seperti madu yang berisi racun. Alih-alih membawa kemajuan tapi justru mengantar pada berbagai masalah.


Oleh: Dien Kamilatunnisa

POJOKOPINI.COM — Setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati Hari Ibu. Latar belakangnya adalah adanya Kongres Perempuan I di tahun 1928, pada tanggal 22 Desember 1928. Kongres ini dianggap tonggak sejarah bagi wanita Indonesia karena memberikan kontribusi dalam kemerdekaan. Adapun tema Peringatan Hari Ibu tahun ini adalah “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju” (tirto.id, 20/12/2020).

Peringatan Hari Ibu sudah menginjak pada tahun ke-92. Namun, patut dicermati bahwa kondisi kaum ibu masih memprihatinkan. Bahkan dalam kondisi era pandemi berbagai masalah dan tantangan menerpa kaum ibu tanpa henti.

Salah satunya dalam bidang ekonomi, sektor ketenagakerjaan memang terkena dampaknya yang ditunjukkan dengan naiknya angka pengangguran. Pada tanggal 1 September 2020, detik.com memuat berita bahwa angka pengangguran berada pada angka 6,8 juta orang. Namun, setelah pandemi, data di Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan total pekerja kena PHK maupun dirumahkan sebanyak 3,5 juta orang. Sehingga total angka pengangguran melonjak total menjadi 10,3 juta jiwa.

Padahal, tingginya angka pengangguran akan memengaruhi stabilitas pemenuhan kebutuhan pokok keluarga. Harga sembako yang melambung tinggi sementara pendapatan berkurang akan berdampak pada kesejahteraan keluarga. Tak jarang berbagai masalah timbul akibat tidak terpenuhinya kebutuhan pokok ini. Seperti angka kekerasan dalam rumah tangga yang meningkat, kesehatan mental yang terganggu, tindak kriminal. Bahkan kaum ibu pun tak sedikit yang harus mencari jalan alternatif penghasilan agar kebutuhan pokok terpenuhi.

Apakah masalah akan selesai tatkala banyak kaum ibu yang keluar untuk mencari pekerjaan dalam memenuhi kebutuhan pokok? Ternyata, pada faktanya, berbagai masalah justru timbul. Kaum ibu memiliki potensi mengalami tekanan yang cukup tinggi karena peran ganda yang mereka hadapi. Tidak jarang hal ini mengganggu kesehatan mental bahkan mengganggu keharmonisan keluarga. Pada beberapa kasus pertikaian antara suami istri menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga dan berujung pada perceraian.

Apakah dengan perempuan berdaya secara ekonomi maka akan membawa kebangkitan dan kesejahteraan? Agaknya butuh direnungkan kembali anggapan tersebut. Jangan sampai seperti madu yang berisi racun. Alih-alih membawa kemajuan tapi justru mengantar pada berbagai masalah.

Sistem saat ini memang menjadikan pertumbuhan ekonomi paling utama dalam menetapkan standar pemberdayaan perempuan. Karena sistem saat ini berkiblat pada sekularisme-kapitalisme. Hal ini kontras dengan sistem Islam.

Dalam Islam, pemberdayaan perempuan tidak semata-mata berdasarkan kemajuan secara ekonomi. Namun pemberdayaan perempuan dalam Islam dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini dikemukakan oleh Yul Rachmawati dalam presentasi di grup Komunitas Penggerak Opini Muslimah yang berjudul Ilusi Kesejahteraan Gender.

Pertama, perempuan harus memiliki pandangan yang benar tentang tujuan hidupnya yakni beribadah kepada Allah SWT. Kedua, membangun pandangan yang benar terhadap perempuan di tengah masyarakat. Karena laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, kecuali jika ada pembedaan yang tercantum di dalam nash-nash syara’. Bahkan perempuan merupakan kehormatan yang wajib dijaga oleh berbagai komponen, baik masyarakat maupun negara.

Ketiga, mengedukasi peran perempuan dalam keluarga sebagai sebagai pengemban anak-anak manusia atau ibu dengan tidak mengabaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan anak-anak mereka. Kemudian mewujudkan sistem yang adil yang benar-benar melayani umat manusia dan benar-benar peduli terhadap kesejahteraannya dan melindungi hak-haknya. Oleh karena itu, sangat penting dan mendesak kehadiran sebuah sistem Islam sehingga akan membawa pada kemajuan yang hakiki.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *