Pergaulan Bebas Marak, Aborsi tak Tertolak

Pergaulan Bebas Marak, Aborsi tak Tertolak

Sehingga sudah selayaknya negara mengambil Islam dalam mengatur segenap rakyatnya. Menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang penerapannya tampak nyata di seluruh denyut nadi manusia.

Oleh: Budi Harianto

POJOKOPINI.COM — Kehadiran jabang bayi adalah impian hampir semua keluarga. Merindukan sosok bayi mungil tanpa dosa seolah pelengkap kebahagiaan dalam sebuah mahligai rumah tangga. Siapa yang menyangka, liberalisasi yang kian nyata telah menghapus semua harap dan asa. Justru sebaliknya, malaikat kecil itu tak lagi dirindu namun dibenci. Karena ia dianggap aib yang harus dimusnahkan dengan segera.

Bagaimana tidak, manusia tak berdosa itu adalah hasil zina dari kedua orang tuanya. Sebuah jalan yang dilaknat Allah dan perbuatan nista yang hanya berujung sengsara. Kini zina sudah dianggap biasa. Bahkan jalan menuju zinapun diberi ruang. Pacaran, hubungan tanpa nikah yang dijalin pasangan sejoli telah nyata membuka pintu gerbang perzinahan terjadi. Tak disangka dengan gaya hidup Western saat ini, pacaran menjadi sesuatu yang diamini oleh kawula muda khususnya dan masyarakat secara umum.

Pergaulan bebas kian membabi buta. Menjadi sebab kenaikan jumlah aborsi yang kian menggila. Tubagus dalam rilis di Mapolda Metro Jaya yang disiarkan secara daring, Selasa (18/8/2020) mengatakan dalam data satu tahun terakhir, mulai Januari 2019 sampai 10 April 2020 terdata ada 2.638 pasien aborsi di Jakarta Pusat (m.tribunnews.com, 18/08/2020). Masih di Jakarta Pusat, Polda Metrojaya melaporkan bahwa adanya klinik aborsi illegal yang telah gugurkan 32. 760 janin dengan tarif 2-4 juta dan memperoleh keuntungan sebesar 10 Milyar (m.tribunnews.com, 25/09/2020).

Data di atas hanya wilayah Jakarta Pusat, lalu bagaimana dengan wilayah lainnya di seluruh Indonesia. Agaknya dipastikan jumlahnya lebih banyak dan kian merajalela.

Tindakan aborsi adalah kejahatan yang bersifat krusial. Karenanya aborsi telah merenggut jiwa kemanusiaan para pelakunya serta telah membunuh manusia suci yang terbebas dari dosa dan tak mengerti dengan apa yang tengah menimpanya. Ditambah lagi aborsi adalah perilaku terlaknat yang diharamkan dalam Islam. Karenanya perbuatan ini harus dihentikan dengan segera.

Namun, siapa yang bisa menghentikan lajunya kenaikan aborsi jika zina masih dianggap sah-sah saja dilakukan? Bukankah aborsi terjadi karena adanya hubungan haram di luar pernikahan? Seharusnya, saat aborsi hendak dihilangkan maka beriringan pula dengan dilarangnya perzinahan.

Namun aneh, di tengah maraknya pengguguran janin. Negara membisu seolah tak ada lagi solusi untuk penanganan kasus ini. Tak ada sangsi tegas dan aturan ketat dalam membasmi kejahatan yang tak manusiawi ini. Bahkan negara sibuk mengurusi hal yang bukan prioritas bangsa ini. Misal, walau di tengah pandemi, tak ada rencana pemerintah untuk membatalkan pilkada di akhir tahun ini. Apalagi isu radikalisme yang senantiasa digaungkan seakan menjadi masalah besar yang harus dituntaskan segera. Padahal isu ini hanyalah narasi basi bualan negara kafir harbi pembenci ajaran Islam nan suci yang ditakuti kebangkitannya di atas bumi.

Imbasnya, pemuda tak diurusi. Negara abai jadinya generasi lalai. Lahirlah penerus negeri yang membebek dengan gaya hidup manusia yang mengagungkan kebebasan tanpa batas. Sehingga tak dipungkiri media yang ada tak bertugas mencerdaskan anak bangsa malah mendidik mereka dengan nuansa sex and fun. Tak peduli, semua bebas mengonsumsi, tak terlepas bagi mereka yang masih belia. Hingga pada akhirnya berujung pada realitas yang terlihat saat ini. Dimana, anak-anak lebih suka dengan gaya ala Korea dibandingkan mencontoh sosok pribadi Rasulullah saw. yang indah nan bersahaja. Memberi ketenangan dengan akhlaknya yang luhur dan memancarkan aura melalui tutur katanya yang santun. Namun, banyakkah pribadi seperti ini tampak pada generasi saat ini? Biarlah fakta yang menjawab semuanya.

Fakta kerusakan remaja dan hancurnya masa depan generasi anak bangsa, tak terlepas dari sistem yang dijalankan oleh negara ini. Sistem Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan telah berhasil mencetak pemuda yang abai dengan aturan Allah. Memalingkan diri dari indahnya batasan yang memuliakan manusia serta menempatkannya pada derajat yang tinggi di hadapan manusia dan Penciptanya. Islam adalah agama yang paling lengkap aturannya. Pergaulan laki-laki dan perempuan diatur sedemikian rupa dengan sempurna. Sehingga siapa saja yang menjalankannya ia akan terjaga dan terhindar dari perbuatan nista yang merugikan pelaku dan orang sekitarnya.

Sehingga sudah selayaknya negara mengambil Islam dalam mengatur segenap rakyatnya. Menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang penerapannya tampak nyata di seluruh denyut nadi manusia. Dialah khilafah sebuah negara yang menjalankan hukum Islam yang terintegrasi di dalamnya sistem pergaulan Islam yang mampu memanusiakan manusia dan mendatangkan rahmat dari Sang Maha Kuasa. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *