Perjudian Berlabel Pendidikan

Perjudian Berlabel Pendidikan

Mereka yang memiliki kompetensi tidak dapat mengikuti perlombaan yang diselenggarakan, karena terikat dengan nilai-nilai agama atau karena memang tidak memiliki modal biaya. Perlakuan sistem pendidikan yang tidak berpihak pada semua lapisan masyarakat dapat ditemui di seluruh negeri yang menganut sistem kapitalisme.


Oleh: Widya Soviana, ST.,M.Si (Dosen Fakultas Teknik Unmuha)

POJOKOPINI.COM — Pendidikan adalah sebuah proses pembelajaran yang mampu merubah tatanan kehidupan dunia dari masa kegelapan kepada masa yang penuh dengan cahaya. Pendidikan mampu menjadikan seorang anak manusia memperoleh ilmu pengetahuan secara sempurna, terampil, handal serta professional tanpa boleh melenyapkan akhlak terpuji. Sebab, dengan hasil pendidikan itulah manusia dapat menata peradabannya, menjadi peradaban yang gemilang atau justru sebaliknya.

Sistem pendidikan sekuler telah mencederai sistem pendidikan yang hakiki. Sebab sistem ini harus memisahkan nilai-nilai agama dalam proses pembelajarannya. Sehingga, hasil pendidikan yang diperoleh tidak hanya manusia yang cerdas tetapi juga culas, tidak hanya profesional namun juga nakal. Kerusakan sistem pendidikan diperparah dengan sistem yang dianut oleh negara yang menganut sistem demokrasi kapitalis. Alhasil, setiap proses pendidikan yang berjalan cenderung berlandaskan nilai-nilai materi semata. Betapa tidak, biaya yang mahal menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang terbatas untuk diakses oleh semua orang.

Pun begitu untuk kesempatan dalam berkarya dan berkompetisi. Tidak sedikit perlombaan yang diadakan menuntut adanya modal uang yang harus dikeluarkan oleh para pesertanya, dalam nominal yang rendah hingga yang terbilang fantastis. Dari perlombaan yang sifatnya permainan dan ketrampilan hingga olimpiade yang menguras tenaga dan fikiran. Penyelengaraan perlombaan bukan semata untuk memberikan semangat kepada para generasi untuk berprestasi, namun juga ada keuntungan yang diharapkan dalam pelaksanaannya. Permasalahannya tidak hanya itu, menghilangkan hukum-hukum agama dalam syarat perlombaan tersebut, dapat menjatuhkan pada perjudian yang berlabel pendidikan.

Di dalam Al Qur’an Allah Subhana wa Ta’ala berfirman “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (TQS. Al Maidah, 90). Oleh karenanya, perlombaan yang sifatnya mengumpulkan uang dari para peserta sebagai syarat untuk dapat mengikuti perlombaan dapat termasuk dalam kegiatan perjudian.

Bedanya, hanya pada model aktivitas yang dilakukan saja. Judi tidak hanya identik dengan perlombaan kartu domino, remi atau lainnya. Judi dapat pula diselenggarakan dengan perlombaan yang menuntut adanya strategi, kemahiran dan keahlian. Namun judi selalu menuntut adanya kesepakatan uang yang harus ditunaikan bersama dan melepaskan pada pemenangnya. Sehingga, perlombaan yang semacam itu seharusnya tidak diselenggarakan, karena adanya larangan yang secara tegas disampaikan oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Perbuatan semacam itu tergolong perbuatan syaitan yang harus ditinggalkan.

Namun, bukan berarti semua perlombaan dapat dikategorikan sebagai bentuk perjudian. Dahulu, perlombaan diselenggarakan dan didukung oleh lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang sifatnya terbuka dan tidak ekslusif. Persyaratan uang pendaftaran untuk mengikuti perlombaan disamping terlarang oleh agama, juga membatasi hanya pada orang-orang yang memiliki modal saja. Ini sejalan dengan prinsip kapitalisme yang berjalan di atas nilai-nilai materi.

Adapun mereka yang memiliki kompetensi tidak dapat mengikuti perlombaan yang diselenggarakan, karena terikat dengan nilai-nilai agama atau karena memang tidak memiliki modal biaya. Perlakuan sistem pendidikan yang tidak berpihak pada semua lapisan masyarakat dapat ditemui di seluruh negeri yang menganut sistem kapitalisme.

Berbeda dengan sistem pendidikan di dalam pandangan Islam. Pendidikan merupakan hak dasar bagi seluruh masyarakatnya. Negara harus menjamin pendidikan dapat diakses oleh seluruh masyarakatnya tanpa terkecuali. Begitu juga dalam hal memberikan penghargaan dan apresiasi bagi yang berprestasi. Perlombaan untuk menyeleksi kelayakan bagi penerima penghargaan dapat dilakukan, tanpa harus menyelenggarakan perjudian namun menggunakan label pendidikan. Sebagaimana pernah ada pada masa Khilafah Abasiyah, ketika buku para ilmuwan ditimbang setara emas oleh Khalifah sebagai wujud penghargaan untuk mereka.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *