Pertambahan Penduduk di Tengah Pandemi

Pertambahan Penduduk di Tengah Pandemi

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah SWT. Yang belum dijamin adalah keselamatan kita di Hari Pembalasan nanti jika kita tidak bisa berargumentasi, mengapa sampai saat ini kita belum segera menerapkan aturan Allah yang diperintahkan pada kita.


Oleh: Ummi Lia (Ibu Rumah Tangga, Cileunyi Kabupaten Bandung)

POJOKOPINI.COM — Pandemi Covid-19 belum berakhir, tidak ada yang tahu kapan berakhirnya. Menurut Hermawan Saputra, Dewan Pakar Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)/Tim Satgas Covid-19, puncak pandemi dengan PSBB ketat, itu baru terjadi pertengahan Juli. Tapi kalau dilonggarkan, malah bisa mundur hingga Agustus. Itu baru puncaknya, dan akhir pandemi ini bisa lebih lama lagi. (Media Umat Edisi 267, 12-25 Juni 2020)

Karena itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Provinsi Jawa Barat bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI menggelar Sosialisasi Program Bangga Kencana, di Graha Berkah Sadaya Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, Rabu (10/6/2020). Kegiatan ini bertujuan agar berbagai program KB terutama program pengendalian kehamilan dapat tetap berjalan dengan baik, terlebih di tengah pandemi Covid-19. (Bale Bandung, 10/6/2020)

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB-PPPA) Kabupaten Bandung, Muhamad Hairun, mengatakan selama pandemi Covid-19 yang mengharuskan masyarakat stay at home, dikhawatirkan dapat berpengaruh terhadap reproduksi wanita. Sehingga angka kehamilan dan kelahiran meningkat. Hairun mengakui untuk pemasangan alat kontrasepsi IUD ada pembatasan. Karena protokol kesehatan dan masyarakatnya/calon akseptornya juga menurun selama pandemi ini. Tapi menurutnya masyarakat usia subur ini harus diingatkan untuk tetap menunda kehamilan, tentunya dengan penggunaan alat kontrasepsi selain IUD. Jadi selama pandemi ini masyarakat usia subur harus terus diberikan sosialisasi soal alat kontrasepsi yang mudah dijangkau.

Pencegahan penyebaran Covid-19 sangat penting. Namun demikian, kata Hairun, pengendalian kehamilan dan kelahiran juga tak kalah penting. Karena jika tidak dikendalikan bisa mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk. Hal tersebut harus dicegah dan dihindari. Dalam sistem sekuler kapitalis yang diterapkan di negeri ini, pertambahan penduduk atau kehamilan dan kelahiran yang tidak dikendalikan akan berdampak pada kualitas kesejahteraan dan berpengaruh pada segala aspek kehidupan. Sebab jumlah penduduk yang banyak akan mempengaruhi tingkat kebutuhan pangan yang bisa tidak terpenuhi. Sehingga akan sangat membahayakan terhadap tingkat keamanan. (Jabarkini.net, 28/2/2019)

Dalam sebuah seminar yang digelar oleh Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan di kantor Depsos Jakarta, pertambahan penduduk dipandang sangat mengkhawatirkan, sampai tema yang mereka angkat berjudul “Ledakan Penduduk : Bom Bunuh Diri?” Bertambahnya jumlah penduduk di dunia seolah-olah begitu menakutkan serta menjadi ancaman besar bagi kestabilan global. (Kompas.com, 5/8/2009)

Ketakutan terhadap pertambahan penduduk kini mulai merambah dunia Islam. Indonesia sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia juga turut merasakan keresahan tersebut melalui lembaga-lembaga negaranya. Tampaknya ketakutan terhadap pertambahan penduduk begitu menghantui, sehingga digambarkan lebih berbahaya dari pada bom teroris. Karena hal tersebut menyentuh berbagai aspek seperti kesehatan, ekonomi, pendidikan dan sosial. Padahal isu kekhawatiran terhadap pertambahan penduduk sengaja digulirkan oleh negara-negara Barat ke negara-negara berkembang yang dianggap menjadi ancaman serius bagi dunia Barat. Dipropagandakanlah isu bahwa pembangunan ekonomi di dunia berkembang dianggap tidak akan berhasil apabila angka pertumbuhan penduduk tidak terkontrol.

Lain halnya menurut Islam, pertambahan penduduk adalah berkah dari Allah Swt. Jumlah penduduk yang banyak adalah modal/aset bangsa untuk membangun negara. Adapun kekhawatiran akan sumber daya alam yang terbatas untuk bisa memenuhi kebutuhan penduduk adalah cara pandang sekuler/asing. Islam memandang setiap mahluk hidup sudah dijamin rezekinya oleh Allah SWT.

Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS Hud : 6)

Ayat di atas menunjukkan bahwa rezeki berasal dari Allah dan Allah telah memerintahkan manusia untuk mencari pemenuhannya melalui cara yang halal, karena usaha yang dilakukannya akan diperhitungkan di Hari Pembalasan. Setiap orang harus bekerja dan berusaha berdasarkan keyakinan bahwa ada sumber daya alam yang cukup di bumi ini bagi semua orang untuk hidup, karena Allah telah menyediakannya. Selain itu Allah memerintahkan untuk menggunakan dan membelanjakannya dengan cara yang halal. Pada saat yang sama Islam memerintahkan khalifah, pemimpin dalam sistem Islam, untuk menyediakan kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan) bagi penduduknya.

Islam menganggap kemiskinan adalah masalah siapapun, di negara manapun dan pada generasi kapanpun. Sebagian besar perhatian ekonomi Islam akan dicurahkan untuk memastikan adanya distribusi kekayaan alam yang merata. Islam juga membiayai kebutuhan dasar penduduknya dengan membuat cara yang memudahkan orang untuk mendapatkannya beserta aturan dalam memanfaatkannya.

Hal ini diungkapkan dalam hadis Nabi Saw. “Kaum muslim berserikat dala tiga hal: air, padang rumput dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Artinya semua keperluan masyarakat tersedia dan tidak akan pernah habis, karena pengelolaan serta pengaturannya sesuai dengan yang Allah SWT perintahkan.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah SWT. Yang belum dijamin adalah keselamatan kita di Hari Pembalasan nanti jika kita tidak bisa berargumentasi, mengapa sampai saat ini kita belum segera menerapkan aturan Allah yang diperintahkan pada kita.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A’raf : 96) Wallahu a’lam bish shawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *