Piknik saat Pandemi, bikin Panik

Piknik saat Pandemi, bikin Panik

Terkesan tak ada kekhawatiran, tak ada rasa was-was terhadap rakyatnya, objek wisata dibuka kembali. Masyarakat dianjurkan untuk piknik, walau bisa bikin panik, tapi apa daya kebijakan penguasa tak sedikitpun mengkhawatirkan jiwa rakyatnya.


Oleh: Sri Herawati (Pegiat Dakwah)

POJOKOPINI.COM — Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta mengumumkan pembukaan kembali sejumlah tempat wisata di Jakarta.

Sesuai surat keputusan Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 131 Tahun 2020, tempat wisata jenis museum dan galeri sudah bisa beroperasi pada 8 Juni hingga 2 Juli 2020. Disusul tempat wisata outdoor seperti Kebun Binatang Ragunan dan Taman Mini Indonesia Indah, mulai dibuka kembali pada hari Sabtu (20/6).
Sementara tempat wisata pantai termasuk Kepulauan Seribu, mulai beroperasi pada 13 Juni hingga 2 Juli 2020 (CNN Indonesia, 20/6/2020).

Tak hanya DKI Jakarta, Wilayah lain pun menyusul membuka kembali tempat-tempat wisatanya seiring dengan pemberlakuan Kenormalan Baru (New Normal) di berbagai wilayah di Indonesia.

Pemerintah lewat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memperbolehkan beberapa kawasan pariwisata dibuka secara bertahap, Mereka mengatakan, pembukaan kawasan wisata juga didasari dengan pertimbangan keinginan masyarakat (kompas.com, 23/6/2020)

Sejak pandemi covid-19 menyapa Indonesia akhir maret lalu, sontak hampir semua industri pariwisata terpuruk, kerugian tak terhindarkan. Bila semakin lama tak beroperasi maka kebangkrutan membayangi.

Hingga saat ini kasus covid-19 di Indonesia masih tergolong sangat tinggi. Tercatat sebanyak 59.394 kasus positif per 2 juli 2020, tersebar di seluruh Indonesia.

Pembukaan objek wisata saat pandemi, terlebih saat libur sekolah, dapat memicu bertambahnya kasus positif covid-19. Walaupun sudah diwajibkan protokoler covid-19 di berbagai objek wisata yang telah dibuka, tetap saja potensi penularannya sulit untuk dihindari.

Sejatinya tepatkah bila dikatakan pembukaan objek wisata karena keinginan masyarakat semata?? Tentu tidak. Pembukaan kembali objek wisata saat pandemi lebih tepat karena mengedepankan kepentingan para kapitalis. Para kapitalis pemilik objek wisata tak akan mampu menanggung kerugian yang sangat besar bila terlalu lama tak beroperasi.

Sementara para penguasa, dengan kewenangan yang mereka miliki dan hubungan simbiosis mutualisme antara penguasa dan pengusaha memberi regulasi yang sarat akan kepentingan para kapitalis.

Terkesan tak ada kekhawatiran, tak ada rasa was-was terhadap rakyatnya, objek wisata dibuka kembali. Masyarakat dianjurkan untuk piknik, walau bisa bikin panik, tapi apa daya kebijakan penguasa tak sedikitpun mengkhawatirkan jiwa rakyatnya.

Di Negeri yang menggenggam kuat ideologi kapitalistik, tolak ukur hakiki sejatinya adalah materi (uang), Penguasa dan Pengusaha bergandengan erat tak terpisahkan untuk memburu materi. Walhasil rakyatlah yang selalu merugi.

Berbeda halnya dengan ideologi Islam. Dalam sistem pemerintahan Islam, nyawa rakyat adalah yang utama. Penguasa haruslah menjadi junnah (pelindung) bagi seluruh rakyatnya. Bila terjadi pandemi, maka fokus utama penguasa adalah menuntaskan kasus pandemi tersebut agar segera berakhir. Bila pandemi berakhir maka rakyat bisa piknik, tanpa bikin panik.

So, bila kita ingin lepas dari kepanikan saat ini, hanya Islam solusi hakiki.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *