Pilkada di Masa Pandemi, Bukti Riil Sistem tak Memikirkan Kehidupan Umat?

Pilkada di Masa Pandemi, Bukti Riil Sistem tak Memikirkan Kehidupan Umat?

Alih-alih mengatasnamakan mekanisme sistem untuk melangsungkan kepemimpinan yang ideal, kenyataanya semua hanya permainan perebutan kursi kekuasaan di tengah pandemi.


Oleh: Lisa Angriani S.Pd (Pemerhati Sosial dari Moramo, Sulawesi Tenggara)

POJOKOPINI.COM — Jauh dari kata aman apalagi selesai, bak mimpi buruk yang tak kunjung usai. Pandemi kian menggerogoti kehidupan masyarakat hari demi hari kasus positif kian bertambah tak tanggung-tanggung jumlah yang diumumkan pun melejit pesat.

Kurang lebih tiga bulan sejak ditetapkan penyebaran virus corona sebagai bencana nasional. Berbagai kebijakan untuk penanganan virus corona terus dilakukan, mulai dari  penerapan social distancing, pembatasan sosial berskalah besar, hingga tiba pada tatanan new normal, masih belum menemukan titik dari kata berakhirnya masa pandemi.

Masyarakat pun seakan dibuat bosan dengan pemberitaan yang harus ditelan setiap hari. Harapan besar yang diimpikan masyarakat bebas dari pandemi dan kembali hidup normal seakan tak ada balasan baik untuk merealisasikan pembebasan dari pandemi.

Berbagai kebijakan yang tampaknya tak memiliki arah untuk kebaikan rakyat terus bermunculan. Rakyat hanya bisa gigit jari sampai berakhirnya cerita. Agaknya tak ada kinerja memuaskan yang menguntungkan rakyat. Mereka sibuk merealisasikan aturan sesuai hasrat mereka bahkan meski harus menjadikan rakyat sebagai tumbalnya.

Akhir-akhir ini kita disuguhi berita tentang persiapan pilkada. Padahal, keadaan negeri ini sedang dalam penguasaan pandemi virus corona yang setiap hari menelan korban jiwa. Namun hal tersebut tidak menjadikan lampu merah untuk menghentikan  pesta rakyat meski di tengah wabah.

Wajah Buruk Sistem Sekuler Mementingkan Kursi Kekuasaan

Tidak lepas dari keputusan new normal tahapan penyelenggaraan pilkada serentak pada tahun 2020 yang semula sempat tertunda. Penetapan tentang pemilihan gubernur, bupati, dan walikota secara resmi bahwa pilkada serentak yang semula tertunda akan dilanjutkan kembali.

Pilkada akhirnya dilanjutkan dengan diterbitkannya peraturan komisi pemilihan umum (PKPU) no 5 tentang perubahan ketiga atas peraturan komisi pemilihan umum dan jadwal penyelenggaraan pemilu gubernur, bupati dan walikota tahun 2020.

Salah satu alasan yang menguatkan dilanjutkannya pelaksanaan pilkada 2020 adalah agar tak banyak kekosongan jabatan,  terlepas dari kontroversi pengambilan  keputusan penyelenggaraan pilkada lanjutan yang akan dilaksanakan pada tahun ini karena alasan pandemi masih berlangsung. Mendagri menyatakan bahwa opsi diundurnya pilkada ke tahun 2021 tidak menjamin pandemi akan berakhir (timeindonesia.co.id, 18 Juni 2020).

Rupanya pandemi tak menjadikan penghalang untuk tetap melaksanakan pilkada serentak. Lagi-lagi kekuasaan menjadi ajang yang seru untuk diperebutkan.

Alih-alih mengatasnamakan mekanisme sistem untuk melangsungkan kepemimpinan yang ideal, kenyataanya semua hanya permainan perebutan kursi kekuasaan. Tanpa hati nurani untuk kesekian kalinya rakyat menjadi korban atas perlakuan para pemilik modal untuk mendapatakan apa yang mereka inginkan.

Padahal jika melihat penyebaran virus corona, pilkada agaknya dapat membuat pandemi semakin tumbuh subur, melihat pada proses yang biasa dilakukan pada pemilu akan mengundang kerumunan orang. Sedangkan penanggulangan pandemi di negeri ini tak mencapai keberhasilannya bahkan terbilang buruk. Melakukan pilkada di tengah pandemi hanyalah menampilkan bentuk sistem sekuler yang sesungguhnya, menghasilkan legitimasi penyengsaraan nasib rakyat.

Bagaimana tidak, di tengah karut marut masalah wabah, pemerintah justru masih memikirkan agar pilkada tetap terlaksana. Saat masyarakat kelelahan harus bertahan hidup di tengah pandemi simpati dari penguasa tak kunjung didapatkan. Sistem hari ini hanya menghasilkan para pemimpin yang rakus atas kekuasaan.

Kemuliaan Umat Hidup dalam Naungan Islam

Dari sebuah akidah lahir sebuah sistem aturan untuk memecahkan seluruh persoalan kehidupan manusia. Sistem tersebut adalah apa yang ada dan tertera di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya. Sehingga Islam mampu menyelesaikan masalah dengan mengeluarkan kebijakan yang dibutuhkan umat tanpa menambah masalah baru.

Islam telah datang sesuai dengan realita manusia dan tabiatnya. Islam merupakan solusi atas persoalan kehidupan manusia, karena Islam sesuai dengan fitrah  manusia. Hal ini menjadi satu-satunya jaminan yang bisa membahagiakan manusia dan merealisasikan keadilan dalam kehidupan bernegara.

Islam hadir dengan meletakkan sebuah sistem yang sempurna, yang menjamin terpenuhinya seluruh kebutuhan jasmani dan naluri manusia. Menjadikan keimanan sebagai standar kepercayaan pada sebuah sistem sehingga tercipta ketaatan  dan kepatuhan pada negara dan pemerintahan.

Ketika wabah menyerang negeri Islam, khalifah atau pemimpin mencontohkan untuk hidup sederhana tidak berlebih-lebihan, dan senantiasa menjaga jiwa dan harta umatnya serta mencukupi kebutuhan rakyatnya di tengah wabah.

Sehingga ketika wabah datang, rakyat senantiasa taat dan patuh dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh khalifah, yang  membuat keadaan negeri tidak karut-marut meski dalam situasi terserang wabah. Menjadikan sebuah negeri jauh dari kejahatan kriminal meski dalam keadaan apa  pun.

Umat senantiasa terpenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak menghadirkan peluang rakyat untuk melakukan kriminalitas dengan alasan untuk bertahan hidup. Begitu pun umat akan terbiasa dengan hidup dalam kesederhanaan sehingga tidak menyulitkan mereka untuk menerima ketika wabah dan bala hadir di negara Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh khalifah.

Begitu pun pemimpin dalam negeri Islam, pelaksana negara semata-mata menjalankan amanah dari Allah tanpa ada sebuah kepentingan orang-orang tertentu apalagi memperebutkan kursi kekuasaan. Dengan demikian, kejujuran, menepati janji, tolong-menolong akan terealisasi dengan sempurna saat hukum syara dijalankan dalam naungan sebuah negara. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *